Sadar gak? ada tekanan social ditengah-tengah kehidupan kita ini? yaitu harus lahir dan hidup sebagai orang kaya raya, entah anda mau hidup dengan gaya yang sederhana ataupun hedon, Intinya, anda harus kaya karena kaya sama dengan sukses. Kenapa? manis atau pahit terima aja harga diri manusia sekarang dinilai dari kekayaannya.
Gak percaya? tengoklah drama-drama di tv, film-film di tv, ada rasa puas ketika orang itu ternyata anak orang kaya yang dibuang tiba-tiba jadi cinderella ternyata bapaknya chaebol, syet.
Yang beneran kaya sebagiannya terus mempertahankan kekayaan itu tanpa perduli cara, apapun jalannya, hajar jangan sampai jatuh miskin, ada yang memaksakan diri agar terlihat kaya supaya tidak direndahkan mulai dari menjual harga diri, hingga menjual agama, naudzubillahimindzallik.
Setelah memasuki usia 25 tahun, saya pribadi mulai merasakan social pressure ini, yang dari kecil saya tidak terlalu merasakannya, karena hidup saya sejauh mama saya hidup masuk kategori ‘enak’, untuk ukuran anak daerah, saya selalu sekolah disekolah bergengsi yang terkenal didaerah saya, lingkungan pertemanan sewaktu itu adalah anak pejabat didaerah kami.
Lulus SMA kuliah di Universtas negeri dan sedikit berbangga diri karena jurusan yang sulit tapi mampu lulus dengan nilai biasa aja. zz..setelah ibu saya meninggal, mulailah social pressure itu terasa, oh ternyata kalau sudah lulus S1 harus lanjut S2 kalau bisa diluar negeri, kalau belum lanjut, harus Nikah,
kalau belum nikah harus punya pekerjaan bergengsi dengan gaji 10 juta atau 15 juta kalau perlu lebih, kalau tidak kuliah harus punya usaha yang omsetnya ratusan juta.
Kalau memilih menikah, harus menikah di gedung atau hotel dengan dekor 35 juta, katering makanan 70 juta, dan memberikan seragam pada teman 1 angkatan. Gak peduli kamu mau nikah dengan cara baik-baik atau hamil duluan.
Depresi sudah saya, kalau irama hati harus ikut ritme social pressure ini karena pasti saya akan terus menyalahkan takdir hidupku jadi syulit karena ibundaku sang menteri ekonomi sudah tak ada ckck astagfirullah naudzubillahimindzallik.
apakah social pressure ini muncul dengan sendirinya?
Tidak, no no no, ia lahir dari cara berfikir memisahkan agama dan kehidupan, Allah cuma dianggap hadirnya didalam mesjid aja, diluar mesjid Allah gak ada, subhanallah, lebih dari itu Allah dianggap cuma nyuruh sholat, puasa, zakat, naik haji. Parahnya cara berfikir ini menarik orang untuk berfikir bahwasannya setiap manusia berhak atau bebas melakukan apapun yang dia sukai.
Hasilnya muncul-lah jargon-jargon semisal ‘ selama gak merugikan orang lain dan elu bahagia melakukanya lakuin aja’ bener sih, tapi jargon itu berkembang menjadi dukungan terhadap LGBT, pacaran, hamil diluar nikah, aborsi, dan kejahatan social perusak peradaban lainnya, sedihnya banyak muslim yang terkontaminasi cara berfikir seperti ini.
Tambah parah ketika cara berfikir ini akhirnya menjadi kerangka berfikir penguasa, lahirlah kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan orang berduit. Sampai menjadi sebuah sistem dalam mengatur kehidupan umum orang banyak, ya kapitalisme.
Padahal standar menilai baik-buruknya seorang Muslim dalam menilai baik-buruk adalah halal-haram, selama sesuatu itu halal lakuin aja, tancap gas men, tapi kalau haram berhenti dong cari cara agar yang halal berjalan.
Eh tapi karena cara berfikir memisahkan agama dari kehidupan akhirnya, agama dianggap sebagai urusan private, tidak perlu dibawa-bawa dalam kehidupan umum. Pelik, tambah pelik ketika melihat manusia-manusia depresi yang tidak mau mengobati depresinya dengan kembali pada fitrahnya sebagai manusia.
Social pressure yang mengkerdilkan makna sukses adalah kaya hanya akan melahirkan berbagai macam penyakit mental yang menjamur dan tidak akan pernah bisa disembuhkan, saat memikirkan ini, saya jadi menyadari,
sudah benar sukses dalam Islam itu ketika kaki kita berdiri disurga, berapapun harta yang kita miliki, kita tetap bisa merasakan kesuksesan (masuk surga) jika Allah ridha dengan segala amal perbuatan baik kita, dan memaafkan semua dosa-dosa dan kelalaian kita.
Percaya atau tidak, memperbaiki cara berfikir itu berpengaruh bagi hati, tenang dan entengnya hati berawal dari cara berfikir kita. Maka mengkaji Islam dengan menyeluruh menjadikan hati enteng, serta diliputi ketenangan. Diberi harta banyak tenang, diberi sedikit juga tenang.