Ugal-ugalan: ugal-ugal·an/ a kurang senonoh (kasar) dalam bertingkah laku; kurang ajar; nakal: banyak pengendara sepeda motor yang suka -- di jalan
- Kamus Besar Bahasa Indonesia
Siapapun yang punya ide untuk memberikan kata "ugal-ugalan" pada judul film ini, jelas tak sembarang memilih kata-kata. Mereka pasti telah melakukan kroscek dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) agar esensi filmnya bisa direpresentasikan sedemikian akurat terhadap judul. Security Ugal-ugalan adalah film yang tak senonoh, kurang ajar dan nakal, dan bukan dalam konteks "serampangan" (seperti halnya contoh kalimat yang diberikan KBBI), melainkan dalam artian yang lebih vulgar.
Oke, sebenarnya saya tak ada masalah dengan lelucon jorok dan bodoh. Sayangnya, bahkan setelah mengambil jalan pintas tersebut, Security Ugal-ugalan nyaris tak bisa dengan efektif memancing tawa penonton yang berakal sehat. Saya yakin penonton masa kini sudah jauh lebih cerdas daripada sekedar menertawakan lelucon hanya karena ia melibatkan sesuatu yang seksual. Memang di antara penonton yang menonton bersama saya, ada yang ngakak hebat, tapi saya yakin itu karena mereka menertawakan kejorokan pikiran sendiri. Saya tak ingin terdengar prestisius, tapi lawakan Security Ugal-ugalan memang tak berkelas.
Hanya ada 3 jenis karakter disini: (1) bodoh, (2) cabul, dan/atau (3) kombinasi keduanya. Saya tak memasukkan karakter wanita karena mereka hanya menjadi bahan objektifikasi. Plotnya? Duh mulai dari mana ya. Film ini boleh dibilang tak punya koherensi. Ceritanya dibangun di atas kumpulan sketsa random, dimana para karakter bertingkah bodoh dan/atau cabul.
Tokoh utama kita adalah 4 satpam yang terdiri dari Indro Warkop, Dana, Acho dan Lolox yang bekerja di sebuah perusahaan jasa sekuriti bernama Megapolitan Security. Perusahaan ini laris disewa oleh berbagai klien di ibukota. Mulai dari minimarket hingga mall besar. Kok ya mau memakai jasa sekuriti ugal-ugalan ini, anda bertanya. Tolong jangan. Saya berasumsi margin profit Megapolitan Security tidaklah sebesar namanya, melihat Indro yang notabene adalah komandan harus tinggal satu mess dengan anak baru seperti Dana, Acho dan Lolox.
Tentu saja, saya tahu bahwa ini dikondisikan untuk memberikan kita berbagai komedi situasi dari keseharian mereka. Kita menyaksikan bagaimana anak-anak baru dibangunkan dengan suara mirip bom dari TOA portable (cringe), ketidakkompetenan mereka mengganti ban mobil yang kempes, atau Indro yang melemaskan leher ayam sebelum dimasak. Oh ya, film ini punya adegan senam bangkai ayam.
Acho adalah yang paling cabul di antara ketiganya. Ia bahkan sengaja memanipulasi mesin pendeteksi logam supaya dapat kesempatan grepe-grepe cewek seksi. Dalam hal ini, Acho yang aslinya merupakan seorang komika, benar-benar sepenuh hati menjalani perannya; grepe-grepenya tampak sungguhan hingga saya takkan terkejut jika nanti ada yang menuntutnya atas pelecehan seksual. Lolox adalah yang paling bodoh; ia gampang ditipu dalam permainan ketok-kepala-pakai-kayu-yang-digigit. Dana adalah yang paling waras, dan karena ia lumayan polos, tentu saja ia akan mendapat porsi untuk urusan romance. Dalam hal ini, ada rekan sesama sekuriti bernama Angela (Alexa Key) yang jatuh hati padanya.
Satu-satunya bagian yang mendekati plot sungguhan adalah saat sekuriti senior, Alan (Dimas Beck) dipecat gara-gara mengerjai Dana. Ia cemburu melihat kedekatan Angela dengan Dana. Kalau saja Angela tahu bahwa Alan adalah mantan personil BBB, pasti Alanlah yang akan dipilih jadi pacarnya. Mungkin karena harga dirinya terluka, Alan berniat balas dendam dan meminta bantuan Yakuza (lokal) untuk menculik Angela. Kebodohan karakter utama kita tentu saja tak bisa menyelamatkan Angela. Yang berperan penting disana adalah Duo Serigala dan ... aset mereka.
Security Ugal-ugalan memanfaatkan setiap tikungan untuk mengeksploitasi keseksian mereka, misalnya adegan latihan berenang (saya sedikit kecewa melihat mereka yang memakai one-piece alih-alih bikini) atau latihan silat dimana mereka harus membuka baju dan hanya memakai tengtop. Ketika tak melakukan hal tersebut, Indro, Dana, Acho dan Lolox siap untuk ber-slapstick, bertingkah atau melontarkan komentar bodoh yang lebih banyak menimbulkan ringisan daripada cekikikan. Beberapa lawakan begitu gampang ditebak dan seringkali punchline-nya mendarat dengan garing. Siapapun yang menggoreng lelucon-lelucon tersebut, hellooow, lawakannya masih belum matang.
Meski demikian, saya kemudian menyadari bahwa sungguh saya seorang tukang protes tanpa relevansi. Siapa bilang film ini menjanjikan kelucuan; judulnya saja “Security UGAL-UGALAN”. To their credit, film ini menunaikan tugasnya untuk menyajikan kita kisah tentang sekuriti yang ugal-ugalan.
Catatan: Setelah siksaan puluhan cringe-worthy moments, horor sesungguhnya hadir saat film akan ditutup dan muncul tulisan di layar: "Sampai jumpa di Ugal-ugalan 2". Oh, the horror.