Perpisahan terbaikku, adalah dipisah oleh waktu. Saat kecewaku akhirnya ku izinkan masuk, kupersilakan ia duduk, berusaha aku di hadapannya meski kepalaku terus tertunduk.
Aku bisa merasakan ia menatapku dari ujung kepala hingga kaki, menunggu untuk benar-benar diakui. Tanpa sepatah kata, keberadaannya perlahan memenuhi ruangan ini. Sesak seketika menyelimuti, bertahan aku agar tidak hilang kendali.
Aku selalu tidak siap bila harus bertemu dengannya, dengan atau tanpa rencana. Bagai di tengah persidangan, aku yakin aku akan menghadapi kehilangan, hal yang kubenci dari setiap kisah pertemuan. Hal yang selalu tidak pernah mudah dari sebuah hubungan, yaitu melepaskan.
Kini aku siap berhadapan denganmu, kecewaku, yang selalu kutolak bila kamu hendak bertamu. Meski bergetar kedua tanganku yang erat terkepal, menenangkan napasku yang terpenggal. Aku menerimamu, dengan segala luka yang akan membekas. Aku akan selalu membukakan pintu untukmu, kapanpun bila kamu mulai cemas. Karena dengan melepaskan aku mendapatkan yang hilang dan jiwa yang tenang.