hari itu cemas mampir seminggu. kelas baru rasanya selalu abu-abu. tapi sudut mataku tiba-tiba menangkap sesuatu, kamu. hei, siapa kamu? diantara riuh manusia-manusia didalam sini lengkap dengan suara meja dan bangku yang berdecit, semesta seolah membuka jalan ke arahmu. riuh jadi sepi menjadi milikku beberapa detik.
suara disekitarku mendadak terbungkam, tapi degup jantungku bisa kudengar. beberapa waktu kamu membuat hatiku penuh, meski kita tak pernah jadi satu. perasaan berdegup itu hanya milikku saja, sedangkan kamu memiliki degup lain disana. memandangmu dari depan kelas sudah cukup untuk isi ulang energiku setiap hari. sekalipun senyummu hanya basa-basi.
senja sore pernah menyaksikan perjalanan kita, menurutku itu senja terbaik sepanjang masa, tapi mungkin hanya jadi milikku saja. begitu banyak waktu kita bersama tapi berakhir hanya untukku. sekali waktu kita berada ditempat jauh yang sama, membuatku bertanya-tanya mengapa semesta menginginkan skenario itu. aku, kamu, dan dinding diantara kita yang sangat kokoh. sesekali kita bertemu itu pun masih permainan semesta, bukan karena inginku dan inginmu.
maaf ya, jika mengenangmu masih menjadi hal yang tak ada rasa bosannya. kupikir sewindu saja cukup.
apa kabar kamu? semoga baik-baik saja selalu menyertaimu. meski rasa yang sudah berlalu itu masih suka singgah jika aku teringat keberadaanmu. menjangkaumu dengan mudah saat masa sekolah dulu. mendapat sapaan basa basimu yang candu seakan lagu favorit yang harus kuputar sepanjang waktu.