Ketemu Bapak
Jika ada kebetulan di dalam hidup, mungkin inilah salah satunya.
Tiada ekspektasi apapun mengapa akhirnya aku memilih angka 19 Maret sebagai hari turut berpartisipasi dalam percobaan gratis dari penggunaan transportasi terbaru Ibukota. Selasa lalu kutandai sebagai salah satu hari paling melelahkan sekaligus menyenangkan dan (mungkin) sulit untuk terulang. Bagaimana tidak, aku bisa berada dalam satu ruang dengan orang nomor satu di Indonesia. Orang yang beberapa tahun belakangan ini menjadi poros dari banyak pembicaraan di linimasa, baik dengan konten positif maupun negatif yang menyertainya.
Sepuluh pagi adalah waktu di mana Beliau akan tiba, katanya (seorang teman baru yang kutemui awal November lalu yang memberitahu). Makanya aku bergegas untuk bisa hadir beberapa menit sebelumnya, meskipun rute yang akan Beliau datangi bukanlah rute yang sama dengan yang tertera dalam tiket yang milikku. Aku berjalan mundur satu stasiun demi bisa bertemu dengannya. Untuk memastikannya aku bertanya pada dua orang perempuan – Mbak penjaga toilet dan Mbak penjaga yang berdiri di depan eskalator yang menuju MRT – mereka menjawab “Iya, Beliau memang dijadwalkan akan hadir. Hanya saja untuk ketepatan waktunya belum bisa dipastikan. Antara pukul setengah sebelas atau pukul sebelas”. Duh, semakin lama saja jadinya.
Aku bingung, apakah sebaiknya memulai perjalanan terlebih dahulu ataukah setia menanti sampai Beliau ada lalu kemudian menikmati rute Bundaran Hi – Lebak Bulus dengan tenang selepas Beliau pulang. Tapi kalau hanya duduk menunggu saja aku bisa jenuh. Disela menimbang langkah apa yang harus kuambil, seorang Ibu muncul di hadapan.
“Mbak, tolong ambilin foto saya ya!” pintanya sambil menyerahkan telepon pintarnya padaku.
“Eh, iyaa. Mau model tegak lurus atau mendatar Bu?” aku berusaha memahami apa maunya, agar hasilnya sesuai harapnya.
“Terserah Mbak, dikira-kira aja bagusan yang mana.”
Dia pun berjalan menjauh dariku lalu mengambil posisi di antara eskalator dan tangga menurun yang akan mengarah ke peron. Di atasnya terdapat papan penunjuk arah ‘Menuju MRT’. Beberapa kali aku menekan tombol foto untuk memberinya alternatif mana yang menurutnya paling cantik untuk dia bagi pada orang terdekatnya atau sekadar pengisi status di media sosial miliknya.
“Terima kasih Mbak. Mbak gak mau saya ambil fotonya juga?” tawarnya kemudian.
“Enggak usah, Bu. Tadi udah.” Aku beralasan. Memang sudah, tapi hasilnya belum lulus standar foto yang bisa dipamerkan di Instagram, jadi akan kusimpan saja sebagai kenang. Lagipula daya ponselku tinggal 50% dan aku harus membuatnya tetap hidup sampai Beliau datang.
“Sendirian?”
“Iya. Ibu?”
*****
“Kereta anda akan memasuki stasiun Blok M. Stasiun Blok M”
Kira-kira begitu bunyi pemberitahuan yang bergema di seluruh gerbong. Mengingatkan para penumpang untuk bersiap turun jika stasiun pemberhentian berikutnya yang menjadi tujuan. Kulihat arloji yang melingkar di tangan kiri “Bu, sempat gak ya ini kalau kita balik lagi ke Bundaran HI?” aku bertanya pada Ibu yang duduk di sebelah kananku. Ibu yang sama yang tadi meminta bantuan mengabadikan moment. Ya, akhirnya aku dan Ibu itu menjadi teman seperjalanan. Aku pun bercerita padanya tentang Beliau yang akan hadir dan menjajal moda raya terpadu ini bersama masyarakat umum. Si Ibu terlihat antusias dan tak menyangka. Pun rasanya dia memiliki ‘suara’ yang serupa denganku terhadap Beliau. Jadi dia juga ingin melihat sosok Beliau dari dekat. Merasakan euphoria yang sama.
“Saya turun di sini saja, Bu.” Aku membuat keputusan sambil menerka-nerka durasi waktu jika kami ingin menyelesaikan perjalanan hingga tiba di Lebak Bulus – depo pertama MRT Jakarta – lalu menunggu MRT berikutnya untuk membawa kami kembali ke Bundaran HI. Memang durasi Lebak Bulus – Bundaran HI hanya ditempo dalam 30 menit dengan bentangan jarak 16km, tapi aku tidak ingin bertaruh dengan menyia-nyiakan kesempatan agar dapat melihat wajah Beliau dari dekat. Dengan kedua mataku langsung.
“Ibu ikut? Atau mau sampai ke Lebak Bulus?”
“Saya ikut Mbak aja.”
Antara Haji Nawi, Cipete Raya atau Fatmawati adalah stasiun di mana aku memilih berhenti. Aku tidak begitu ingat. Karena aku bergegas keluar dan melihat ke arah yang berlawanan. Melihat papan penunjuk waktu kapan kereta selanjutnya dengan tujuan Bundaran HI akan tiba. Tak jauh dari tempatku berada ada dua orang berseragam yang sedang berjaga, sebaiknya tanya mereka saja.
Aku mendekat, “Maaf Pak, kalau mau ke Bundaran HI naik kereta yang di seberang kan ya?”
“Mohon maaf Mbak, sudah tidak bisa lagi.”
“Tidak bisa? Lho bukannya itu tulisannya kereta selanjutnya akan berangkat lima menit kemudian Pak?” Aku tidak mengerti dengan penjelasannya.
“Itu!” tunjuknya pada stiker merah yang tertempel di bajuku.
Aku mengambilnya dan melihat, di sana tertulis 08.00 – 10.00. Sementara arlojiku menampilkan angka 10.15.
“Waktu uji coba untuk Ibu dan Mbak telah habis, sekarang waktunya stiker kuning dari pukul 10.00 – 12.00” jelasnya kemudian.
“Jadi kami tidak bisa kembali ke Bundaran HI?”
“Mohon maaf, tapi memang tidak bisa Mbak.”
*****
Puluhan orang berkalung pers yang memanggul kamera besar memenuhi peron bundaran HI. Tampaknya bukan aku saja yang bersiap. Media massa pun tak ingin melewatkan liputan pertama uji coba yang dilakukan oleh Presiden. Rombongan ibu-ibu yang kuduga merupakan simpatisan ataupun relawan dari Beliau juga turut ada di sana, dengan menggunakan seragam beratribut yang menjadi simbol bahwa Ibu-Ibu itu adalah bagian dari mereka.
“Lihat deh Mbak, mereka – serombongan anak muda – juga sama seperti kita masih menggunakan stiker merah, tapi mereka kenapa tidak ditegur ya.”
“Iyaa Bu, masih banyak yang pakai stiker merah kok, tapi mungkin kitanya aja yang kebagian apes dikasih penjelasan sama petugasnya. Sepertinya memang itu sesuai SOPnya deh Bu, cuma sedari awal tidak ada diberi tahu oleh petugas di stasiun keberangkatan, tentang durasi waktunya. Kita jadi main ‘kucing-kucingan’ kan sama petugasnya. Untunglah kita bisa sampai juga di sini, lagi.” Aku merasa bersalah karena sudah ‘menerobos’ masuk kereta sementara kesempatanku telah berakhir. Hanya demi Beliau.
Merah. Kuning. Hijau. Ada satu lagi warna, sebagai penanda waktu durasi trial run itu dilakukan. 08 ke 10 diberi warna Merah. 10 ke 12 mendapat jatah warna Kuning. Selanjutnya 12 ke 14 giliran Hijau. Nah, untuk yang 14 ke 16 aku tidak tahu warna apa yang menjadi tanda, mungkin Biru, biar mirip seperti sebuah lagu “merah, kuning, hijau di langit yang biru...” Sementara aku sudah melakukan korupsi selama 3 jam dari waktu yang telah disepakati. Itu semua karena Beliau. Karena pada akhirnya Beliau hadir pukul 11.45, disambut dengan sorak sorai Ibu-Ibu yang ampun dah riuhnya bukan main. Bahkan permintaan para paspampres yang berulang kali menyuruh mundur, tak digubris lagi oleh Ibu-Ibu tersebut.
Lupakan tentang berswafoto alih-alih berjabat tangan, melihat sosoknya dengan posisi berdiri sempurna pun sudah sulit. Aku terhimpit, terjepit dan berjinjit. Penuh perjuangan sekali, jika dipikir. Apalagi dengan tipikalku yang tidak begitu menyukai keramaian. Mending bergelung dalam selimut dan menyaksikan dalam layar kaca. Tapi yah itu tadi, euforia yang dirasakan sungguh-sungguh jauh berbeda. Tak hanya R1 yang hadir, ada juga beberapa Menteri dari kabinet kerja, beberapa kepala daerah dan rombongan Puteri Indonesia yang turut mencoba MRT pertama bangsa ini.
Moda Raya Terpadu yang sudah dinanti selama puluhan tahun.
*****









