Hei B, Kita Belum Berjodoh
Awal November aku kembali harus (selalu) belajar menyakini kalimat tersebut dalam hidup, meski mulanya terasa sulit. Menerima kenyataan bahwa sering kali kenyataan jauh dari harapan.
Sebelumnya, di suatu pagi, tidak kutemukan namaku di sana. Dalam lampiran pdf 8 halaman yang menyatakan untuk melaju ke tahapan selanjutnya.
Tapi apa mau dikata, Perancang Skenario terbaik untuk hidupku belum meng’approve’ pintaku. Mungkin, dari kacamataNya hal itu bukan yang aku butuhkan sekarang. Atau ‘belum diiizinkanNya’ kali ini bermakna aku masih harus berlatih sabar dan ikhlas dalam menjalani hidup. Tapi, bukankah latihan sabar dan ikhlas itu layaknya sebuah ujian untuk mencapai taraf kedewasaan dan kebijaksanaan? Ujian yang tiada habisnya, yang menandai sudah sampai sejauh mana aku sebagai manusia, pasrah menerima apa yang telah menjadi takdirku, setelah segala upaya maksimal dan doa telah dipanjatkan padaNya.
“Do the Best and Let God Do the Rest”
Aplikasi penunjuk arah pada telepon pintarku mengatakan bahwa setelah turun di halte Bank Indonesia, aku harus berjalan kira-kira selama 10 menit untuk dapat tiba ke tempat yang dituju. Sebuah tempat yang pertengahan September lalu baru saja diresmikan Pemimpin Negeri Ini. Pohon-pohon rindang yang menaungi, pedestrian yang bersih dan tidak terlalu ramai (mungkin karena pengaruh akhir pekan) membuatku nyaman berjalan dengan santai dan mengamati sekeliling. Ini adalah kali pertama aku bermain ke daerah tersebut, biasanya sih hanya sekadar lewat.
Arah kanan yang kuambil pasca jalan lurus menjauhi halte membawaku berjalan diantara bangunan-bangunan tinggi kepemerintahan. Kubacai satu persatu tulisan yang tertera di atas bangunan tersebut, hingga sampai ada saatnya aku berdiri diam beberapa menit untuk menatap sebuah gedung tinggi yang ada di hadapanku. Gedung yang pernah kuimpikan untuk menjadi bagian dari masa depanku. Ada perasaan sedih di sana, sekaligus lega bahwa setidaknya aku pernah berusaha untuk menggapai apa yang menjadi mimpiku meskipun pada akhirnya Dia berkehendak lain.
Hei B, Kita Belum Berjodoh.
Terima kasih, karenamu aku bertemu banyak teman-teman baru.
Karenamu pula aku kembali memperbaiki rasa nasionalismeku pada bangsa dan negara. Padahal kala kuliah dulu, nilai Kewarganegaraanku pas-pasan. Hanya C+, itupun sudah hasil perbaikan dari yang sebelumnya C.
Terima kasih atas dua bulan kebersamaan ini.
Untuk sekarang, jodoh kita sampai di sini.
Semoga, dilain kesempatan garis hidup kita akan kembali bertemu.