BizaZarry
Zarry Hendrik.
Namanya saja sudah seperti puisi. Entah bagaimana awalnya aku bisa menekan tombol follow akun twitter miliknya. Aku lupa bagaimana aku bisa menemukan makhluk semenarik Zarry. Yang kata-katanya terus meluap di barisan waktu tiap aku membuka dunia dibalik ponselku.
Zarry's. Aku bukan salah satu bidadarinya. Sungguh, aku tidak sampai sejauh itu memujanya. Mungkin berbeda cerita kalau ia hadir dengan versi lebih muda. Aku akan mencurahkan seluruh puji-pujian untuknya.
Tentu, tentu saja ia tampan. Semua orang tau itu. Ia pandai bicara. Seluruh dunia tahu itu. Ia sungguh mempesona. Aku juga yakin para mantan, para penggemar dan bidadari-bidadari lain yang akan datang tahu mengenai hal ini. Meskipun suatu kali, aku berharap kenyataan itu hanya rahasia kecil Tuhan dan Ibunya. Sehingga aku adalah satu-satunya kunci yang menghubungkan ia pada cermin.
Tapi aku bukan bidadari. Aku bukan Zarry's.
Aku mebaca berulang-ulang kumpulan kata-kata manisnya pada sebuah buku yang ia terbitkan tahun lalu. Aku mengikuti kicauannya. Aku membaca tiap kata dalam laman-laman mayanya. Aku menyimpan banyak fotonya. Aku juga menyimpan suaranya yang ia hadirkan dari awan.
Aku tetap bukan Zarry's
Aku jauh dari bayangannya mengenai sosok bidadari.
Lagi pula aku sedikit kesal padanya yang terus bermain. Ia begitu rupawan sampai tega menawan bidadari yang hendak lari. Karena sesungguhnya bidadari-bidadari itu justru saling bertempur berebut senyumnya. Pun mereka tak pernah benar-benar mengepakkan sayap karena terlalu basah diguyur pujian manisnya.
Tapi entah kenapa aku menulis tentang seseorang sepertinya. Zarry Hendrik. Seseorang yang mengenalkanku pada kata-kata. Ia yang sampai detik ini dipuja karena mencintai dirinya sendiri.
Karena jujur saja, mencintai tanpa jatuh cinta terhadap diri sendiri terlebih dahulu rasanya seperti puisi tanpa ada barisan kata-kata metafora. Aku rasa aku belajar sesuatu darimu, Zarry.
NB: Aku tidak secantik mereka. Tapi, apa aku boleh menjadi salah satu bidadarinya Zarry?











