Aku bisa membayangkan kalau kau membaca ini.
Kau akan mengernyitkan dahi yang menyatukan kedua alis tebalmu. Menatap kata perkata dengan aneh, seolah kau jijik dengan hobi anehku ini. Aku tahu kau tak berniat membacanya tapi kau penasaran apa isinya. Dan dalam hati kau akan bertanya-tanya kenapa aku lagi-lagi menulis tentangmu. Lalu kau akan mengingat-ingat.
Kapan aku menulis tentangmu terakhir kali?
Oh, benar, kau tak mengenal tulisanku. Ini hobi lamaku yang menjadi baru setelah kepergianmu. Aku menulis lagi untuk mengisi kekosongan hari. Aku tidak sepi. Sebaliknya, pikiranku terlalu ramai olehmu. Setiap hari, setiap malam dan pagi, otakku banyak diisi oleh ujung percakapan yang biasa kudengar darimu.
Anggap saja aku semakin bodoh. Dimanapun dan kapanpun aku bisa saja menangis secara tiba-tiba jika teringat hari terakhir kita bertemu. Entah apa, bahkan setelah berbulan-bulan berlalu aku tetap tak bisa menolak kehadiranmu. Sosokmu masih menjadi penyebab tangisku.
Apa artinya aku merindukanmu?
Aku sangat merindukanmu. Aku merekam semua tentangmu dalam memoriku. Mimik wajahmu, rona matamu, tawamu, marahmu dan pelukmu. Pelukmu adalah bagian yang paling sulit kutinggalkan. Karena pada kedua lengan itu, aku pernah merasa hangat dan terlindungi. Ialah aku yang pertama kali kau peluk. Juga pada dada yang lapang itu, aku pernah merasa rapuh. Ialah aku yang terakhir kali kau peluk. Pada peluk itulah kudengar cinta berdenyut seirama dengan nadi, nafas dan darah seolah beriringan seharmoni. Dan rindu itu sendiri masih mengalir berputar-putar dalam darahku.
Aku tidak tahu bagaimana denganmu. Aku tak berani menanyakannya. Bahkan kalau nantinya Tuhan dan alam semesta berkehendak kita dipertemukan kembali, aku tidak tahu harus berkata apa. Karena setelah terakhir kali, aku mulai takut menatapmu akan meruntuhkan segala tembok pelindungku. Namun, sejujurnya, aku mulai meragukan konsep konspirasi. Karena bagaimanapun aku menjalani hari setelah lepas darimu, aku tidak menemukan jawaban akan masa depan.
Kapankah akhirnya aku berhenti menulis tentangmu?
[Tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel Bernard Batubara]