"FreeDay"
Pada hari itu, bahu-bahu ditegakkan menuju langit, hingga mendung saja tak mampu menatap. Dada mereka busung membaja dibalut putih jubah; wewangian kasturi, serabut kayu pembasuh gigi, dan tak lupa hati yang lapang itu. Ya, hati yang dipenuhi suka cita, padahal pada hari itu pula sangkakala dipekakkan di telinga, hamparan semesta dilipat, dan yang paling masyhur : matahari terbit dari arah barat.
Jumat, bagi kami para lelaki adalah hari keramat, ialah orang tua bijak berjanggut yang kakinya tak lagi menyentuh tanah, adalah suasana sureal yang ketika senja malaikat mengepakkan sayap, penduduk bumi berebut mendahulukan harap.
Semua mengalir menuju pada satu muara di hari itu; momentum baik. Ibu - ibu muda berharap anak mereka dilahirkan, seorang ayah mendambakan nafkah melimpah tanpa sepeser pun subhat di dalam jerih payahnya, anak - anak lelaki mengejar menjadi yang terbaik di kelas dan keluarga berbilik bambu menyediakan singkong rebus menunggu tamu dengan senyuman paling syahdu.
Pada hari ini kami berharap dimatikan dalam kedamaian, tak meninggalkan apapun kecuali kesedihan orang-orang yang setengah mati melepaskan; "terlalu baik si fulan harus pergi secepat itu", gumam masyarakat, yang mereka sendiri tak sadar kematian adalah kembaran kita yang hanya butuh alarm untuk membuka matanya lalu menutup mata yang lain.
Ini jum'at kawan, berbahagialah.
Pemogan, Bali
18 Dec 2020









