8 Januari, 21tahun.
Bukan, bukan, ini bukan postingan berbangga ria bahwa hari ini saya berulangtahun. Pada hari ini, saya justru merasa pertanyaan saya semakin banyak, dan banyak, dan banyak. Mari saya mulai dari sini;
1) Hari ini menurut agama saya, jatah hidup saya berkurang satu tahun. Entah akan berapa lama saya hidup di sini, tapi yang pasti, hal itu takkan lama lagi. Dan tentu saja, dengan pemikiran seperti itu, saya jadi merasa bahwa saya harus melakukan sesuatu yang berguna sebelum jatah itu habis. Kemudian saya bertanya-tanya, hal-hal berguna apa saja yang sudah saya lakukan selama ini? Sudahkah saya minta maaf? Sudahkah saya membayar hutang? Apakah saya membebani teman-teman saya? Mengapa teman-teman saya masih ada di sisi saya? Mengapa keluarga saya kini lebih bisa menaruh kepercayaan mereka pada saya? Apa yang sudah saya lakukan? Seberapa layakkah saya dapat dipercaya? Dan pertanyaan lain yang masih mengantri di belakangnya. Apakah akan ada jawaban? Nah, ada lagi pertanyaannya; 2) Menurut kalender masehi, umur saya bertambah satu tahun. Yang artinya, saya bertambah tua, saya memasuki sebuah masa di mana saya akan merasa, “oh, jadi ini ya yang orang-orang dewasa lakukan.” Berbanding terbalik dengan nomor satu, dalam pemikiran ini, justru saya mengurutkan banyak rencana dan bukan pertanyaan. Seperti misalnya: saya harus bisa lebih baik lagi dalam mengontrol diri saya sendiri, saya harus lebih banyak belajar, saya harus lebih tahu apa yang sedang saya bicarakan dan bukannya berbicara seperti orang mabuk yang mengawang-awang tanpa dipikir terlebih dahulu, saya harus sembuh dari sakit ini dan itu, saya harus tahu batasan, saya harus ini dan itu. Rasanya, saya menuntut banyak sekali pada diri saya sendiri, sedangkan saya tidak tahu apa yang telah saya berikan untuk diri saya sendiri. Kemudian satu rencana lagi bertambah: saya harus memperlakukan diri saya lebih baik lagi tahun ini; 3) Beberapa teman-teman saya mendoakan saya agar saya lebih feminin. Sesungguhnya, saya feminin, jika mereka masih mendoakan saya seperti itu, itu artinya mereka tidak mengenal saya lebih baik. Dan saya menganggap bahwa itu adalah sebuah ketidaktahuan. Prinsip saya adalah, ketidaktahuan dapat dimaafkan, sedang kebodohan tidak. Jadi, saya tidak marah sama sekali pada orang-orang tidak mengenal saya lebih baik. Karena yang seharusnya mengenal saya lebih baik adalah diri saya sendiri. Kemudian teman yang lain mendoakan agar kegelapan saya mendapat pencerahan; illuminated. Namun pengharapan ini membuat saya berpikir, kegelapan seperti apa yang ia maksud? Apakah ketidaktahuan? Apakah sisi gelap manusia? Apakah kemiskinan saya? Jika demikian, kemiskinan apa? Saya orang yang miskin, bersamaan dengan itu, saya juga orang kaya. Pula bersamaan dengan kegelapan itu (terlepas kegelapan apa yang ia maksudkan), saya juga adalah orang yang terang. Teman yang lain mendoakan saya agar saya berhenti merokok dan menjadi orang yang baik pula membanggakan. Lantas, para perokok secara tidak langsung dicap sebagai orang-orang yang tidak baik dan tidak membanggakan. Betapa saya sedih dengan pemikiran ini. Namun saya tidak ingin mendebat ybs, saya ingin menjaga momen haru karena ia telah ingat hari ulangtahun saya dan mengucapkannya pada dini hari; 3) Poin ketiga ini akan saya buat menjadi poin terakhir, karena saya takut menyakiti kepala para pembaca. Saya takut mengganggu pikiran pembaca. Saya berpikir tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan saya. “Apa yang sudah saya lakukan? Apa yang sedang saya lakukan? Apa yang akan saya lakukan?” Dan pertanyaan, “saya itu dulu seperti apa? Apakah sekarang sudah menjadi lebih baik atau sebaliknya? Siapa saya sekarang? Akan jadi apa saya nantinya?” Saya tak ingin bertanya lebih banyak. Prinsip saya adalah, lompat dulu, berpikir belakangan. Namun apakah prinsip itu layak saya pertahankan? Saya rasa di usia ini, saya dihadapkan oleh self-cancelling, di mana saya mematahkan teori-teori yang saya buat sendiri. Entahlah, tapi saya menemukan satu jawaban dari pertanyaan saya di poin ketiga, yaitu bahwa saya kini sedang menelusuri jalan setapak menuju pintu misteri. Hanya karena ini hari ulangtahun saya, bukan berarti saya harus menjadi tokoh utama bagi semua orang di hari ini. Cukup saya menjadi tokoh utama bagi diri saya sendiri saja. Mari saling mendoakan tentang kebaikan. Saya harap umat manusia semakin sadar bahwa Bumi adalah tempat yang masyhur. Sekian.













