Di tetes hujan yang ke sekian, aku memandangmu. Jauh, jauh sekali, sampai tak nampak apa yang kupandang. Hanya sepi, hanya bayanganku sendiri.
Lalu di tetes yang kemudian, aku mendengar suara mengalun. Adalah tulus, lembut mengalus. Adalah rentetan kata yang tersusun menjadi doa.
.
"Semoga kamu baik-baik,"
Lalu pikirku berkelana kemana-mana,
"Kalau sedang tidak baik, semoga kamu segera membaik."
Imajinasiku melayang semakin jauh,
"Semoga waktu yang baik segera membawa kabar baik!"
.
Lalu hujan menipis, meninggalkan dingin dan hening. Seperti doa yang kubawa, menguap begitu saja. Tapi tidak hilang, mereka lalu melekat pada pohon-pohon harapan, bernaung di bawah langit keajaiban, dan siap membawa kejutan di hari-hari kemudian.
-biru-mudaa










