Miért van az, hogy az akit másodikként ( vagy elsőként, attól függ, hogy nézzük) szeretek, akárhányszor másikról beszél, hogy ilyen csók volt olyan csók volt(vagy más), iszonyatos féltékenység áraszt el?
Miért? Állítsa le ezt nekem valaki.
seen from Switzerland

seen from United States
seen from United States

seen from Italy
seen from United Kingdom
seen from Netherlands
seen from China

seen from United States

seen from Türkiye
seen from Mexico
seen from United States

seen from Germany

seen from United States

seen from Germany

seen from Bulgaria
seen from United Kingdom

seen from Germany
seen from United States
seen from China

seen from United States
Miért van az, hogy az akit másodikként ( vagy elsőként, attól függ, hogy nézzük) szeretek, akárhányszor másikról beszél, hogy ilyen csók volt olyan csók volt(vagy más), iszonyatos féltékenység áraszt el?
Miért? Állítsa le ezt nekem valaki.
Minggu dan menunggu #2
“Tabik, nona. Bagaimana kabarmu?” “Formal betul. Kamu kesambet apaan?” “Kurang paham. Selaiknya banyak hal yang memang tidak usah dipahami, begitu pun pemahaman ku.” “Kamu meracau.” “Mungkin, mungkin. Mungkin aku memang sedang kacau.” “Sini, duduklah sejenak. Mari temani aku menikmati senja hari yang terlalu indah untuk dilewati.” “Jangan. Aku hargai kebaikanmu, tapi kan, kamu tahu.” “Ini minggu, dan kamu masih harus menunggu? Begitu?” “... Ya. Ini minggu, dan...” “Stop. Cukup. Penantianmu itu, mau sampai kapan?” “Entah. Mungkin... Hingga aku lelah, payah. Atau... hingga alam menjadi pemisah.”
Lalu terdiam. Diam dalam kelam yang muram.
“.... Bodoh.” “.... Mungkin. Ah, tidak. Aku memang bodoh untuk ini, iya. Maaf.” “Untuk apa?” ”Untuk kamu dan aku yang tak bisa menjadi kita” “Sudahlah, dan.... berhati-hatilah. Hatimu cuman satu. Jangan sampai terlalu beku. Lalu membatu, berkerak, dan pecah-berserak.” “Terimakasih. Omong-omong, nona, ternyata ini dini hari. Sebentar lagi hari Senin.” “Lalu?” “Sepertinya sudah tiba saat untuk bercermin, mungkin.” “Kamu kemana saja?” “Sepertinya terlalu sibuk dengan rajuk dan harapan muluk.” “Ya sudah, kembalilah sana.” “Kemana?” “Ke tempat dimana semuanya bermula dan bermuara. Dia.” “.... Ya, baiklah. Terimakasih untuk semuanya.” “Sama-sama.”
Sajak sejuk
Jangan membuat wanita jatuh cinta jika cuma sekedar hanya
Hanya karena sendiri
Hanya karena sepi
Hanya supaya ada yang menemani
Jangan menebar angan jika cuma sekedar ingin
Ingin ada yang menyapa
Ingin ada yang menjaga
Ingin supaya bisa selalu berdua
Jangan berjanji jika memang belum mampu
Mampu menjaga hati
Mampu menjaga harga diri
Mampu supaya kelak berdiri sendiri
Karena nyatanya, cinta tidak semudah itu
Perasaanmu dan perasaannya bukan tidak akan dipertanggungjawabkan
Makanya, kamu harusnya lebih sadar
Bahwa cinta bukan sekedar ikatan badan dan kemesraan untuk diumbar
Tapi satu fitrah, satu anugrah
Yang terwujud dalam kemampuan untuk saling melengkapi, saling menghebatkan
Yah, mari berusaha sebaik mungkin, untuk memberi apa yang bisa dilakukan untuk menggapai sebuah tujuan :
Bekerja dengan cerdas dan ikhlas
Serta berdo’a dengan rajin dan yakin
Semoga aku, kamu, dia, dan mereka
Diberi apa-apa yang terbaik oleh Yang Maha Baik
Aamiin. Aamiin. Aamiin.
Yaa rabbal ‘alamiin.
Buat apa bertanya kenapa
Sebenernya ini tidak begitu penting...Tapi, lagi-lagi, ya udah.
-Buat apa bertanya kenapa (Jogja, 14/06/15; menjelang tengah malam)-
Kenapa cinta begitu rumit dalam kesederhanannya?
Seharusnya ia tak lebih dari perasaan saling menerima
Itu saja. Iya, kan? Seharusnya.
Lalu kenapa ada dinding kaca diantara hati kita?
Masing-masing hanya menatap bayangan sendiri dibalik sepi
Tahu. Tapi (pura-pura) tak mau tahu karena memang tidak perlu.
Jadi, buat apa bertanya kenapa?
Yang kutahu masih ada sisa elegi mengingat apa yang telah terlewati
Tapi toh, itu sudah selesai. Sudah usai.
Kenapa kita tak bisa pergi sejenak saja ke masa senjakala?
Mungkin itu karena Dia telah siapkan segala yang lebih baik lagi untuk masing-masing kita jalani
Dan untuk itu, aku pun tidak tahu.
Huh! hah!! Lobalobabolabolubelilabubelabulubalabala!!!
Lagi-lagi kata kehilangan makna!
Lenyap ia dalam idiosinkretis manusia ditengah hiruk pikuk dunia!
Oh, ya. dunia. Tahu apa kita tentang dunia?
Yang kutahu, ada jawaban yang tersedia bagi tiap-tiap pertanyaan yang diajukan
Hanya saja, itu tadi. Pada waktu-Nya. Dengan cara-Nya.
Jadi, sekali lagi.
Buat apa bertanya kenapa?
(Jogjakarta, dikamar berdinding biru nan sendu)
Perse(ta)ntase
When you’re growing up, you give less fucks about what happened around you. In my opinion, kadar kedewasaan bisa diukur dengan perse(ta)ntase, yang menunjukan jumlah rasio “fuck it” yg diberikan terhadap seluruh peristiwa yg terjadi dalam hidup, yg tidak esensial.
Ya, semakin dewasa, kita akan semakin pragmatis dan self-centered. Kenapa? Sederhana. Keinginan untuk sintas pada akhirnya merupakan insting dasar manusia untuk dipenuhi. Kalo kata bang Iwan, “Persetan orang susah karena aku, yang penting asik, sekali lagi: ASIK!”
Tapi, yah, hidup kan gak kayak begitu?
Ada kala dimana nantinya semua perbuatan akan dipertanggungjawabkan. Dan pertanggungan terberat adalah saat dimana kita dikumpulkan dan diabsen satu-satu di akhirat.
Yah, walau pun begitu, ada beberapa hal yg belum ingin aku abaikan.
Salahsatunya, kamu. (atau.... kalian? ah, kita mungkin lebih tepat). Kita adalah salahsatu paradoks terbesar; ketiga setelah Tuhan dan takdir, yang ada pada sisi kehidupanku yang berliku.
Rasa cemburu dan rindu yang membuat ngilu, tapi lalu sadar bahwa disini hanya ada Dia, aku dan sepi. Ingin rasanya menghilangkan sisa perasaan yang masih tertinggal dan belum tiada sama sekali.Tapi, sekali lagi, ada perasaan tidak rela dimana aku tidak tahu apa yang akan aku ketahui.
Ah, harapan. Manusia memang mudah berputus asa, ya? Ya memang begitu. Baper dah sekarang. Sialan. Tapi ya sudah. Buat apa marah? buat apa merasa kalah? Dan pada akhirnya, yang ku ketahui tentang kita adalah kita tidak tahu apa-apa kecuali sebagian sisi satu sama lainnya.
Menjelang tengah malam, mari temani aku berdo’a, semoga Yang Maha Pencinta berikan apa-apa yang terbaik untuk dijalani.
Antologi Puisi “animali et dies poema”
-Sajak kunang-kunang dan senja-
Aku adalah kunang-kunang,
dalam gelap aku terang, dalam gelap aku terbang
Dan jadilah kau senja,
karena gelap kau ada, karena gelap kau indah
Aku adalah kunang-kunang dan kau adalah senja,
saat gelap kita berbagi, saat gelap kita mengerti
-Sajak belalang dan malam-
Malam tenang, dini hari
lalu belalang pergi tinggalkan sarang menuju padang
Bernyanyi dalam sunyi, bernyanyi dalam hening sepi
Dan malam menyambutnya,
mendengarkan lagunya dalam elegi retrospeksi
Hingga akhirnya belalang tinggalkan padang ilalang
Namun malam tetaplah malam
Yang setia menunggu belalang datang kembali
dan bernyanyidalam tenang dini hari
-Sajak sang nuri dan fajar pagi hari-
Mentari baru muncul di ufuk timur
saat makhluk masih lelap dalam tidur
Tetapi sang nuri mengerti
Ia harus bangun dan menyongsong pagi hari ini
Kepasrahannya menyertai aksi
Keberaniannya ditemani sikap hati-hati
Hingga akhirnya ajal tiba dan mempertemukannya kembali
Dengan Dia Yang Maha Memliki
Sajak mata
Matamu adalah jendela yang mengintip apa yang berada di dalam siapa ialah cerita tentang bagaimana menjadi segala pada waktunya sembilu yang menikam tajam sampai ngilu api yang membakar habis pemikiran logis kerlip harap yang mengiba dalam dekap
Pandang aku dengan matamu, sayang aku yang sekarang dalam rindu yang malang karena dunia tiada lagi yang bisa memberi tempat bicara mereka sibuk dengan hidup dan penghidupannya
Dan matamu
Kembali menyapa dalam pandang tak perlu karena kita telah sama-sama tahu kita tidak tahu apa-apa antara satu dengan yang lainnya hanya jiwa-jiwa yang saling hadir dan dihampiri di tiap kisah perjalanan yang telah digariskan Tuhan
Jogjakarta, 21/02/15
Puisi cinta tanpa frasa cinta
Rinduku adalah metafora tanpa elaborasi karena terlalu rumit dalam kesederhanaannya Perhatianku semacam nyanyi Valanga di padang sepi malam hari terdengar sayup saja, ia ada dalam ketiadaannya
Dan jika kau bertanya tentang kita, jawabku satu kita adalah sepasang jiwa yang dipertemukan takdir untuk kemudian menjalani serangkaian peristiwa yang dirancang Sang Pemilik Semesta beserta seisinya
Hingga disuatu persimpangan hidup, dengan izin-Nya kita akan kembali bersua dan menutur kata
Dan dalam asa yang berbisik berisik, harapku sesungguhnya semenjana semoga kita bisa dipertemukan kembali oleh-Nya dan diizinkan-Nya menua bersama
Jogjakarta, 13 Januari 2015