Yang kutemui hanya jalan sempit berliku
Tersasar aku di belantara kebun pohon bambu
Mungkin kamu kira aku bercanda
Tapi saat itu, aku benar-benar hampir putus asa
Ternyata, begini rasanya ketika sudah tidak ada
yang bisa dipercaya untuk menunjukan arah
Lalu aku tertegun, terdiam, di tengah rintik gerimis
Tanpa sadar mata ku panas dan bibirku meringis
Sial, bisa-bisanya aku malah menangis
Teknologi hanya bisa mengantarmu sejauh yang ia bisa
Pada akhirnya, toh ia buatan manusia
Tololnya, aku malah terlalu percaya
Dan yakin semua akan kembali baik-baik saja
Sampai di suatu titik, hujan yang turun berawal dari rintik
Tiba-tiba ia menjadi amat deras dan awet
Tubuhku kebasahan dan bajuku lengket
Setelah berjalan sekian waktu
Gawaiku gagal dalam memberitahu
Dan sinyal hilang di tengah kampung antah-berantah
Bangsat. Aku tersesat. Aku mengumpat.
Tapi umpatan tidak akan merubah apa pun.
Lalu kucoba bertanya kepada siapa saja satu-dua yang kutemui
Ku dapatkan gambaran kasar, lalu kucoba berjalan lagi.
Kali ini, sambil berdo’a “ihdinas shiraathal mustaqiim” dan tak lupa “maa wad da’aka rabbuka wa maa qalaa”
Dan akhirnya, POOF! BLAR!
Aku keluar di tempat yang familiar
Dan kalau sekiranya ada suatu hikmah yang bisa kupetik dari sini,
Salah satunya adalah tentang eksistensi
Betapa kita semua adalah makhluk yang kerdil dan lemah tak berdaya
Mudah berputus asa ketika isi kepala sudah kemana-mana
Akhirnya ku jadikan ini refleksi
Seberapa jauh pun kamu tersesat, selama kau masih ingin meminta petunjuk,
Maka Dia akan beri dalam wujud yang tak kau sangka sama sekali