Bengkel diri, bukan penjara nafsu
Sudah seminggu kita menjalani hari-hari di bulan syawal ini. Suasana yang berbeda, tanpa sadar mulai menuntun kita, untuk terbiasa menjalani rutinitas dengan cara yang baru. Beribadah, silaturahim, berkerja, belajar, jualan, belanja, dan lain sebagainya dilakukan dari rumah.
Siapa yang bisa menyangka, kita akan mengalami fase ini. Mengkarantina diri, mengokohkan kembali lingkungan internal kita, diri dan keluarga.
Tak dapat kita pungkiri, masalah juga mulai bermunculan akibat perubahan ini, dari berbagai macam aspek, seperti kesehatan, ekonomi, pendidikan, politik, sosial dan budaya.
Tentu, kita merasa gelisah, kapan kiranya kondisi ini kembali normal, mungkin Allah ingin kita beradaptasi menjalani ujian ini, agar kita menjadi pribadi baru setelah mengkarantina diri.
Wahai diri, selama pandemi ini kita mengisi dengan berbagai macam hal, ada yang dihabiskan dengan banyak kegiatan positif, dan mungkin ada juga yang di habiskan dengan kegiatan yang sia-sia. Tapi semoga, proporsi kegiatan positif lebih banyak dari pada kegiatan yang sia-sia.
Hari esok kita akan jalani rutinitas dengan cara yang baru. Semoga kita bisa belajar lebih bijak dari kejadian ini, mungkin kemarin Allah ingin kita mengambil Jeda dari segala kenormalan yang selama ini kita alami, waktu Jeda untuk merenungi segala kehilafan, atau bahkan kezoliman diri.
Khilaf dan zolim, dalam berinteraksi dengan-Nya. Ibadah hanya sekedar pengugur rutinitas, bahkan kita tunaikan diwaktu-waktu sisa dari aktivitas dunia, kemarin karantina terasa lebih indah, waktu untuk ibadah begitu banyak, ibadah terasa lebih nikmat, lebih sejuk dalam menyebut setiap bait-bait surat cinta-Nya, hanyut dalam lantunan do'a hingga tenggelam bersama kebersamaan dengan-Nya.
Atau mungkin kita khilaf mencari kebahagiaan diluar rumah, hingga zolim pada keluarga, namun kini kita baru tersadar, bahwa ternyata selama ini Allah memberikan kebahagiaan itu begitu dekat, sedekat hangat cinta dan kasih keluarga. Mungkin kemarin kita jarang atau bahkan tak memiliki waktu untuk bicara santai bersama keluarga, kini 24 jam sehari, kita bisa bercengkarama bersama keluarga.
Mungkin kemarin, dalam berkerja dan berkarya kita terlalu fokus pada pencapaian dunia, tanpa sadar lalai akan perintah-Nya atau mungkin, hingga menghalalkan segala cara, hingga merugikan orang lain, demi obsesi dunia semata. Kemarin Allah memberi kita jeda, Jeda untuk mulai merenungi apa hakikat kita dalam berkerja dan berkarya untuk semesta.
Dan berbagai hal lain, yang dapat kita ambil pelajaran. Semoga selepas rangkaian waktu yang tak sebentar, pengorbanan rasa yang tak selalu menyenangkan, bahkan hilangnya nyawa Saudara-saudara kita akibat pandemi ini, tidak kita sia-siakan.
Jangan nodai pengorbanan kita dan Saudara-saudara kita selepas pandemi ini, dengan melakukan berbagai hal yang merusak diri maupun orang lain, kendali kan nafsu kita, tetap lakukan hal-hal baik, walaupun itu sederhana.
Mari terus optimis Wahai diri, Allah ingin agar kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi, setelah pandemi ini.
Bandar Lampung, 7 syawal 1441 H
@aulia-justrahma
















