Stay?
Ada batas yang sama sekali tidak bisa kusentuh, apalagi kulanggar. Batas yang sudah kami sepakati bersama. Bahwa ada saatnya, sebagian hatinya harus kurelakan untuk orang lain. Bahwa jalinan di antara kami sangat tabu untuk dibicarakan. Bahwa kami hanyalah dua manusia yang saling menginginkan. Kugaris bawahi, saling menginginkan, bukan saling mencintai. Cinta? Halah! Sudah kukatakan berulang-ulang pada diriku sendiri di depan cermin untuk tidak mempercayai cinta. Hal paling klise di dunia. Sesuatu yang selalu digadang-gadang sebagai kunci keabadian dunia. Sesuatu yang tidak seharusnya kumiliki dan membuatku terjatuh pada sesosok manusia seperti dia. Kukatakan sekali lagi, tidak seharusnya. Beruntung, meski aku tidak mempercayai cinta, aku masih percaya bila Tuhan itu ada. Kata Mamaku, ia berada di hela napasku. Dekat sekali, di denyut nadiku. Makanya, aku percaya begitu saja bahwa pertemuanku dengannya adalah salah satu takdir Tuhan. Ada campur tangan kehendak-Nya kala itu. Di sebuah malam saat aku menjabat tangannya sembari tersenyum manis. “I love you,” bisiknya di sebuah malam, saat kami baru saja menyelesaikan rayuan asmodeus. Aku tersenyum kecil menanggapinya. Entah kenapa bibirku terasa kelu untuk membalas ucapannya. Sebagai gantinya, kukecup bibirnya perlahan. Lama dan tenang. Anggap saja bahwa aku sudah membalas ucapannya. Malam-malam kami selalu sama. Dihabiskan di ranjang, saling berpelukan hingga cericit burung membangunkan. Penanda pagi telah datang, dan embun di jendela telah menguap bersama matahari yang kian meninggi. “Kamu masih mau pergi?” “Nggak tahu. Jangan tanya-tanya lagi, ah! Aku capek.” “Oke, aku nggak akan tanya. Tapi kalo kamu butuh aku, kamu tahu kan aku di mana?” Aku mendengus pendek. Merasa kesal, aku meninggalkannya begitu saja. Pikiranku tercerabut tidak karuan. Sebagian terfokus padanya. Dan sisanya, entahlah, terbagi tidak karuan. “Makanya, cari lelaki itu yang mau mencintai kamu. Biar apa? Biar kamu ndak rugi. Wanita yang beruntung itu yang bisa menemukan lelaki yang mencintainya,” ucapan kakakku terngiang-ngiang di kepalaku. Aku tertawa sinis. Posisiku sebenarnya ada di mana? Mencintai atau dicintai? “Bertahan itu sesusah apa sih?” tanyaku. Dia hanya berdeham. Jariku menyusuri dagunya. “Kalau bertahan itu gampang, Arjuna nggak bakal jadi lelananing jagad. Dan Amba nggak akan ngekhianatin Salwa.” “I know, aku nanya pendapatmu. Dari sudut pandang kamu.” “Kalo gampang, mungkin sekarang kamu udah jadi calon mantu ibuku. Tapi aku janji, aku akan selalu nemenin kamu.” Aku mengedipkan mataku cepat. Jawaban yang sama setiap kali pertanyaan itu kulontarkan. Memutar mata jengah, aku memeluknya. Paling tidak, meski ia brengsek, aku harus mengakui kalau ia memiliki pelukan yang nyaman. Cinta itu nol. Itulah yang kuyakini. Tidak ada. Itu hanya bualan manusia yang digunakan untuk tetap bertahan hidup. Sebagian orang percaya, cinta itu menghidupi. Seperti cinta Tuhan pada Ismail, yang menciptakan air zam-zam untuk membuatnya tetap hidup di tengah padang gersang. Paling tidak itulah yang dikatakan Mama saat aku kecil. Meyakini bahwa cinta itu tidak ada sudah kuamini sejak aku beranjak remaja. Perlahan-lahan, semua yang kualami membuatku tumbuh menjadi perempuan kaku. Seiring bertambahnya pengalaman, aku semakin yakin, bahwa cinta memang hanya produk sialan yang sengaja diciptakan. Manusia menjadikannya alat tukar tambah. Coba pikirkan, kenapa manusia harus menikah dengan alasan cinta? Supaya bisa hidup bersama selamanya? Halah, bullshit! Kalau memang mau hidup bersama selamanya, tak butuh cinta dan pernikahan pun tak mengapa. Kemudian alasan norma dan agama membuat kepercayaan akan cinta menjadi semakin erat. Sampai di sini aku sudah merasa muak. Semuanya membutuhkan cinta. Begitulah. Lantas, mengapa ada perceraian bila cinta itu ada dan hakiki? Mengapa ada suami yang berpaling pada wanita lain saat istrinya terkantuk-kantuk menunggu di rumah? Tapi harus kuakui pula, hidup di tengah-tengah masyarakat yang mengagungkan cinta dan bedebahlah mereka menyebutnya apa, sebagian jiwaku tumbuh bersama sejumput harapan untuk bisa hidup seperti mereka. Hidup yang dikatakan normal karena mayoritas orang melakukannya. Hey, kalau hidupmu tidak memiliki kesamaan dengan kebanyakan manusia, bukan berarti kamu tidak normal, kan? Paradoks memang. Aku membenci cinta, alih-alih tidak akan mempercayainya, aku sudah berulang kali memiliki hubungan dengan beberapa laki-laki. Berharap dinikahi. Dicintai. Mencintai. Memiliki anak dan bahagia selamanya. “Apa masalahmu, Darl?” ia mengecupi buku jariku. Aku tertawa. Apa? Bagaimana kalau kukatakan aku ingin menikah dengannya? “Ayo kita nikah!” ujarku sembari mengelus perut. Ya ya, aku sedang berharap perutku terisi makhluk yang bernapas. “Are you kidding me?” Ia mendesis. Diacaknya rambutku sebelum ia menyalakan rokok. “Kenapa?” aku merendahkan suaraku. Menelan ludah karena mendadak tenggorokanku terasa kering. “Aku punya dia. Lagipula bukannya kamu nggak percaya pernikahan?” Aku menjambak rambutku. Ia benar. Selain itu, aku harus terus mengingat, sebuah operasi yang pernah kujalani membuatku tak boleh mengharapkan pernikahan, apalagi seorang anak. Aku benci pernikahan! Tapi tunggu, bukankah hidup terus berjalan? Ah, sialan. Aku pasti akan menua. Lalu, siapa yang akan menemaniku? “Perempuan macam apa sih yang mau-maunya diajak kumpul kebo begitu?” “Forgodsaken!” Aku tertawa kering. Membayangkan akan menua sendirian membuatku merinding. Apa aku akan mati sendirian? Ah, bodoh! Tentu saja sendirian. Tapi maksudku, siapakah yang akan menangisiku? Siapa yang akan menemukan mayatku? Oh, sungguh malang jika aku mati tanpa ada yang tahu dan mengenang. Apa aku harus mempercayai cinta? “Stand by me, please!” “Demi Tuhan, apa yang membuatmu mengatakan itu, Darl?” “Aku nggak tahu, tapi yang aku tahu, aku mau sama kamu. Se-la-ma-nya.” © intanrahayu | Tirtoasri, 21 Februari 2017
















