Empat (repost)
Hujan turun dengan derasnya begitu kakiku menapak di serambi sebuah kedai kopi. Kedai yang selalu kusambangi setiap harinya. Sesibuk apapun, aku selalu menyempatkan diri mampir di kedai ini. Kedai yang sudah menemaniku selama hampir empat tahun ini. Beberapa tetes air hujan yang tadi sempat mampir di jilbabku kini meninggalkan rasa dingin yang menjalari ubun-ubunku. Aku segera melangkahkan kakiku memasuki kedai kecil itu. Mengambil tempat di salah satu sudutnya. Menyimpan tas dan tumpukan buku milikku di kursi sebelah. Setelah melepas kacamatku, buru-buru kupanggil pelayan dan memesan secangkir kopi panas. “Rena, ya?” Sebuah suara menegurku. Aku segera membersihkan kacamataku dan memakainya. Menatap lurus pada lelaki di depanku. “Kamu. . .” Aku tercekat. Lelaki itu. . . * “Nanti, kita ketemu di sini. Satu tahun yang akan datang. Yah?” Seorang lelaki menggenggam erat tangan gadis yang duduk di depannya. Dua cangkir kopi terhidang di hadapan masing-masing. “Kamu yakin? Satu tahun bukan waktu yang sebentar, Mas.” Si Gadis mulai berkaca-kaca. Sang lelaki pun semakin erat menggenggam tangan gadisnya, mencoba meyakinkan. “Kita harus yakin, demi mimpi kita. Sebentar Dek, hanya satu tahun. Bersabarlah sebentar, aku mohon.” Ujar si lelaki dengan suaranya yang parau. “Lagipula, hanya ini satu-satunya cara yang paling masuk akal. Dan tidak akan menyakiti siapapun. Bukankah kamu ingin hubungan kita bersih tanpa kebencian?” Lanjutnya, sembari melepaskan genggaman tangannya dari tangan si gadis. Dia mencoba memalingkan wajahnya, ada setetes air yang menggenang di matanya. “Baiklah. Aku tunggu kamu di kedai ini, di bulan dan tanggal yang sama dengan saat ini. Saat itu juga kamu harus ada di sini.” Ujar si gadis seraya beranjak meninggalkan lelaki itu. * “Ini aku Ren, Hendra. Kamu ingat, kan?” Dia mengambil duduk di depanku, tanpa ijinku. Aku diam. Siapa yang tidak ingat denganmu, Mas? Kamu, satu-satunya alasan yang membuatku selalu mengunjungi kedai ini. Dengan harapan aku bisa bertemu denganmu, seperti janjimu yang hampir empat tahun tak kunjung kau tepati itu. Ya, aku selalu memimpikan kita kembali duduk berdua di kedai ini. Menikmati secangkir kopi hitam milik masing-masing, saling bercerita pengalaman selama berjauhan. Tapi, itu hanya menjadi mimpiku selama hampir empat tahun ini. “Ren. .” “Iya, tentu saja aku ingat kamu. Mas Hendra, lelaki yang pernah berjanji padaku empat tahun silam.” Jawabku sekenanya. “Kamu masih sama seperti yang dulu ya, Ren. Selalu ketus kalo aku punya salah sama kamu. Kamu juga masih tetap pendek, tidak melebihiku. Haha.” Sialan. Apa dia bilang? Pendek? Lelaki ini, kenapa dia tidak meminta maaf? Jangan kira aku akan memaafkanmu, Hen. “Kamu mau apa? Mau mengatakan kalo kamu adalah lelaki pecundang yang berhasil menipu gadis bodoh sepertiku? Cih, kamu memang pecundang Hen. Pengecut!!” Aku bersiap bangkit dan beranjak meninggalkan Hendra. Mataku terasa panas. “Tunggu, Ren! Dengarkan aku dulu, please!” Tangannya tergesa menarik tanganku agar tidak beranjak. “Kali ini, ijinkan aku menjelaskan yang sebenarnya. Diamlah sebentar dan dengarkan aku. Yah?” Dia menatapku. Ya Tuhan, mata itu. Mata yang kurindukan selama empat tahun ini kini tengah menatapku. Memperangkap aku dengan tatapannya, bahkan aku bisa melihat diriku di mata itu. “Cepatlah. Aku harus segera pulang, lagipula hujan juga seudah mulai reda.” Jawabku ketus. “Baiklah, aku ingin meminta maaf atas keterlambatanku menepati janjiku padamu. Aku mengakui bahwa aku sempat melupakanmu, melupakan janji yang kita ikat bersama di kedai ini. Dan pada akhirnya, aku memang harus mengakui bahwa perasaan itu mudah dibolak-balikkan. Hingga aku hanyut di dalamnya dan melupakanmu. Ren, kamu tau? Selama lima bulan belakangan ini aku sibuk mencari keberadaanmu. Berawal dari majalah langganan adikku, aku menemukan namamu terpampang di situ. Sejak saat itu aku berusaha mencarimu. Satu bulan terakhir, aku ingat kedai ini. Kedai ini masih utuh, sama seperti empat tahun silam. Aku sering melihatmu setiap sore di sini, aku selalu memperhatikanmu. Konyol memang, aku tidak memiliki keberanian untuk menyapamu. Aku takut kamu menghindar. Sampai akhirnya, aku memberanikan diri menemuimu. Ya, sekarang ini.” Dahiku mengernyit, aku menatapnya tajam. Mencoba mencari kejujuran dari setiap kalimat yang ia ucapkan. “Ren. .” Ia balas menatapku. Aku melepaskan kacamataku dan meletakkannya di meja. Kulihat ia menelan ludah dan menarik nafas panjang, sebelum akhirnya melanjutkan bicaranya. “Maafkan aku, ternyata istriku berhasil membuatku mencintainya. Empat tahun silam, tiga bulan setelah pernikahanku dengannya aku baru sadar kalo aku mencintainya. Hingga beberapa bulan berikutnya, sebuah kecelakaan merenggut nyawanya. Hal itu membuatku terpukul dan menjadikanku seorang pendiam. Berulangkali keluargaku menyuruhku untuk menikah, aku hanya mengiyakannya saja. Aku memang pengecut, Ren. Bahkan dalam keterpurukanku aku melupakanmu. Maafkan aku, Ren.” Jadi selama ini dia melupakanku? Lalu apa arti penantianku selama ini? Empat tahun, Hen. Bahkan skripsiku hampir selesai, aku hampir di wisuda. “Ren. .” “Ini adalah pengakuanku padamu. Aku benar-benar meminta maaf. Aku memang pengecut, Ren. Maafkan aku.” “Kamu pikir segampang itu meminta maaf setelah kamu menyiakan aku selama empat tahun? Aku menunggumu, Hen. Selama empat tahun, di kedai ini. Tapi kamu, dengan mudahnya melupakan aku dan juga janjimu. Tanpa kamu akui pun, kamu memang seorang pengecut, Hen. Pecundang licik yang pernah kukenal seumur hidupku.” Aku mencoba menahan marahku yang hampir meledak. Hilang sudah semua sopanku pada lelaki ini. Tidak ada kata “Mas” untuknya, hatiku terlalu sakit. Dia hanya diam. Aku melihat ada yang mengambang di pelupuk matanya. Dia menangis? Ini konyol. Dia sendiri yang berjanji, dia yang mengingkari, lalu dia yang menangis. Ahh, lelaki ini membuatku gila. Bisa kau bayangkan, seorang duda duduk berhadapan denganku dan menangis di hadapanku. Tuhan, kenapa dia begitu menyebalkan? “Sekarang maumu apa, Hen? Katakan! Aku harus segera pulang.” Aku hampir saja mengangkat tanganku untuk memukul wajahnya. Rasanya hatiku begitu sakit dibandingkan dengan penantianku selama ini. “Bagaimana nasib janji kita, Ren?” Ia balik bertanya padaku. Tanpa mengusap air matany yang mengalir deras. “Janji itu, kamu pikir untuk apa aku ada disini hah?” Hendra meraih tanganku, menggenggamnya erat. Ia menatapku dalam, seperti ingin merasuki tubuhku melalui tatapan matanya. “Ijinkan aku menepatinya, Ren.” Dia mengusap air matanya dengan tangan kirinya lalu tersenyum. * Selamat ya, Dek. Akhirnya tuntas sudah kewajibanmu sebagai mahasiswa. Aku bangga padamu. Sukses ya, buat Rena tersayang. – Mas Hendra. Seikat bunga diterima Rena begitu turun dari panggung. Dia menatap ke barisan duduk penonton, matanya menangkap Hendra tersenyum memandangnya. Segera dihampirinya lelaki yang duduk di samping Ibunya itu. “Makasih, Mas.” Rena tersenyum manis. Memeluk Ibunya yang berdiri menyambutnya. Jember, 16 Juni 2014 | (c) intanrahayu













