Kalis?
Barangkali, hanya kematian yang bisa menghentikanku dari kegilaan ini.
Lamat-lamat kudengar denting gitar melantunkan nada awal Resah milik Payung Teduh, kemudian disusul suara lembut perempuan menyusup di telingaku. Tak sadar, alunan tersebut membawaku tenggelam dalam kegelapan.
Aku ingin berdua denganmu
Di antara daun gugur
Aku ingin berdua denganmu
Tapi aku hanya melihat keresahanmu
Lagu itu dinyanyikan dengan larat, sendu, dan liris. Sempurna. Nyaris tanpa cela. Aku melihat diriku semakin tenggelam dalam pusaran lagu tersebut. Penyanyi asli lagu itu harus mendengarkan ini. Kegelapan menyelimutiku. Tubuhku terasa sangat ringan.
Aku menunggu dengan sabar
Di atas sini, melayang-layang
Tergoyang angin, menantikan tubuh itu
Sebuah cahaya putih menusuk mataku. Terang dan menyilaukan. Perlahan cahaya itu pudar. Selama beberapa detik aku mengerjap, menyesuaikan diri dengan cahaya yang ada. Aku mendapati diriku duduk di salah satu meja sebuah cafe bernuansa industrialis. Secangkir teh chrysanthemum tersaji di mejaku.
“Harus banget ya kita kayak gini, Jun?” sebuah suara perempuan mengagetkanku. Arah jam 12 di depanku, berjarak satu meja yang tidak berpenghuni, sepasang lelaki dan perempuan duduk berhadapan. Aku memperhatikan mereka. Iya iya, aku tahu kalau aku sedang menjadi penguping. Perempuan itu, aku hanya merasa tak asing dengannya.
“Aku bahkan nggak ngerti sama perasaanku, Bi. Sejak kapan ia ada, aku tidak tahu. Tapi setelah melihatmu tertawa lepas dengan lelaki lain, saat itulah aku menyadari sesuatu. Alasan kenapa tiba-tiba langit jingga berubah menjadi magenta.” Aku bertopang dagu menyimak pembicaraan mereka. Sesuatu yang tidak sepatutnya kulakukan. Tapi ya masa bodoh. Aku penasaran. Kalian tahu kan kalau rasa penasaran harus dipuaskan? Sama seperti hasrat bercinta, jika tidak dituntaskan hanya akan mengundang kegelisahan. Aku benar, kan?
“Kamu nggak perlu melakukan ini semua, Jun! Kamu-“
Obrolan mereka terputus saat kusadari perubahan pada wajah perempuan itu. Perlahan-lahan ronanya memudar, digantikan kepucatan yang merambati wajahnya dengan cepat. Seakan ada yang mencekik secara tak terlihat, matanya membeliak.
“Aku mencintaimu, Binar. Sangat. Berulang kali kamu mematahkan hatiku. Kamu tidak pernah melihatku. Bahkan kamu tidak pernah memberiku kesempatan untuk mengisi hatimu,” lelaki di depannya bersuara lagi, nyaris datar tanpa intonasi. Bahkan bisa kukira kalau ia sudah tidak memiliki emosi sama sekali.
Binar -begitulah nama perempuan itu, yang tadi kudengar ketika lelaki itu menyebutnya, tampak semakin tercekik. Tatapannya berubah nyalang. Aku hendak berdiri menghampiri mereka sampai kemudian kurasakan sebuah tiupan napas menggelitik telingaku. Sudut mataku menangkap seorang perempuan bergaun ungu melimbai ke arahku. Senyum madu membuat wajah jelitanya terlihat cerah, -ia memiliki kulit yang sangat pucat. Bahkan aku ragu kalau wajahnya dialiri darah. Sebuah selendang yang juga berwarna ungu melilit lehernya. Perempuan itu duduk di depanku.
“Apa yang akan kau lakukan, Wir?” ia bertanya. Suaranya lembut bagai beledu. “Menolongnya, tentu saja.” “Duduk dan habiskan tehmu! Kau hanya cukup melihatnya. Ini dunia protesis, mereka adalah homo fictus yang diciptakan kepalamu. Tidak ada yang bisa kau lakukan, Wira. Tidak ada!” bersamaan dengan itu senyumnya lenyap. Begitu pula dengan sosoknya yang menjelma asap tipis dan perlahan lenyap menyaru dengan udara.
Aku menghembuskan napas kasar. Binar kulihat semakin kesusahan bernapas. Bahkan lelaki di depannya, -yang sama sekali tidak bisa kupastikan wajahnya, hanya menatapnya datar.
“Kita harus mengakhirinya, Sayang. Jika aku tidak bisa memilikimu, siapapun tidak bisa memilikimu!” Lelaki itu beranjak setelah mengucapkan itu. Mengecup dahi Binar agak lama, mengelus pipinya dan melenggang meninggalkan perempuan tersebut sekarat sendirian.
Seorang peri kecil hinggap di pundakku. “Apa yang kau rasakan, Wira?” Ia terbang memutari kepalaku. Tawanya bergemerincing seperti lonceng yang digoyang angin. “Entah. Mungkin iba, simpati, atau apalah aku tidak tahu. Anehnya, sebagian dadaku terasa kosong melihat mereka. Seperti de javu,” aku meneguk tehku sekali.
Sempat kudengar bahwa lelaki tadi menyebut cinta. Iya, ia mengaku mencintai Binar. Tetapi aku yakin sepenuhnya bahwa pasti ia yang sengaja membuat perempuan itu sekarat. Apa dia bilang? Cinta? Mungkin lebih tepatnya obsesi. Obsesi yang terlalu mendamba. Dan tidak berbalas. Aku tersenyum getir. Betapa hebatnya pengaruh obsesi dalam hidup seseorang. Ia bisa mengubah malaikat menjadi iblis. Mataku memandang Binar dengan tatapan yang sulit kujelaskan. Antara iba, ingin menolong, dan kehampaan membaur menjadi satu. Tiba-tiba sekelebat ingatan menyenggol kesadaranku. Seperti dikilas balik, aku mendapati diriku tengah berhadapan dengan seorang perempuan. Semuanya sama persis dengan apa yang baru saja kulihat. Dadaku menyesak.
“Kalau saja kita tidak berteman sejak kecil.” Suara tersebut terngiang menggangguku. Dalam lamunan, kulihat Binar sudah tergeletak tak bernyawa di mejanya.
Mendadak aku merasa takut. Dan muak. Entah karena apa. Tanganku sudah berkeringat. Seakan tertampar, aku mengangkat dagu. Senyum sinis tersemat di bibirku. Kulihat peri kecil itu masih tertawa-tawa. Suara tawanya bergemerincing. “Antar aku kembali. Kepalaku pusing.” Ia tersenyum. Setelahnya ia menjentikkan jari-jari mungilnya. Bersama dengan itu aku kembali mendapatkan kesadaranku. Aku tertidur setelah mendengarkan nyanyian yang dimainkan Kinara.
“Sudah bangun?” Aku mengangguk. Menggeliat, aku bangkit dari sofa. Kuraba dadaku. Perasaan kosong yang kurasakan saat melihat Binar meregang nyawa terbawa hingga ke alam nyata. Benarkah ini nyata? Aku bingung membedakan antara imajinasi dan kenyataan. Semuanya terlihat sama. Kurasakan sentuhan di bahuku. Kinara. Ia tersenyum manis. “Lagi mikirin apa, hayo?” Sebuah senyum ku tampilkan di wajah. “Aku abis bunuh orang,” ujarku ringan.
© intanrahayu | Tirtoasri, 21 Februari 2017











