Tanpa disadari, terkadang kita memperlakukan orang lain seperti sendal jepit dan sepatu branded.
Sendal jepit itu ibarat orang-orang terdekat kita seperti keluarga dan sahabat karib. Kita akan pakai sendal jepit hampir ke mana pun kita pergi: ke jalanan becek di pasar, ke warung untuk beli jajan, ke kandang ayam, jalan-jalan sekitaran komplek rumah, ke sawah/ladang, main ke teras tetangga, atau untuk sekedar buang air ke jamban. Sendal jepit selalu ada buat kita ke mana-mana. Mostly, ke tempat-tempat biasa, tempat-tempat paling personal, tempat-tempat rutinitas yang gampang bikin bosan. Mereka selalu ada ke mana pun kaki kita ingin melangkah.
Unfortunately... They are less appreciated. Mereka kurang dihargai. Ibarat sendal jepit, mereka itu murahan, gampang didapat, gampang pula untuk dibuang. Selalu ada buat kita, tapi dalam beberapa kasus kita bisa anggap mereka ngga pernah ada.
Beda dengan si sepatu branded. Sepatu ini akan kita pakai dalam acara-acara khusus. Acara-acara bergengsi. Tidak setiap hari kita gunakan karena kita tahu harganya sangat mahal. Sayang banget, pikir kita. Sepatu ini hanya akan disimpan dalam kotak atau lemari spesial. Dicuci dengan sangat hati-hati, dijaga layaknya permata.
Si sepatu branded melambangkan orang-orang yang mungkin hanya kita temui sekali seminggu atau sebulan sekali. Ngga sering-sering banget. Anehnya, kita memperlakukan mereka lebih terhormat daripada keluarga atau sahabat karib kita sendiri. Sangat bertolak belakang mengingat orang-orang ini tidak terlalu mengenal kita atau kita yang tidak terlalu mengenal mereka. Tapi, pas ketemu sama mereka sikap kita berkali-kali lebih baik daripada memperlakukan 'si sendal jepit'.
Ini jadi bahan pemikiranku, ketika aku kok bisa-bisanya berlaku ngga pantas sama orangtua, tidak jadi panutan buat keluarga. Saking seringnya ketemu tiap hari, seolah-olah mereka itu nilainya jadi biasa-biasa saja. Padahal kalau mereka ngga ada, rasa kehilangannya luar biasa. Kayak aku, yang kalau habis bangun tidur terus ngga nemu sendal jepitku aku bakalan teriak, "Maaaa! Sendal jepitku mana?"