Senja Kelabu-Awal Akhir
Tidak pernah sekalipun terbersit dalam benak Senja, setelah 3 tahun menjalin rumah tangga dengan Samudra, ia harus menerima kenyataan bahwa pernikahannya berakhir dengan perceraian.
Perkenalan Senja dengan Samudra terjadi ketika mereka sama-sama baru putus dengan pasangannya masing-masing. Senja yang sebelumnya menjalin hubungan dengan Langit sejak mereka berkuliah kemudian ditinggalkan begitu saja di tahun ke 7 hubungan mereka. Langit pergi tanpa memberikan sepatah kata perpisahan. Di ambang kegalauan itulah Senja bertemu dengan Samudra di kafe buku favoritnya. Samudra yang saat itu baru saja ditolak oleh orangtua kekasihnya, yang hari itu resmi menjadi mantan kekasihnya berusaha menenangkan diri dengan mampir ke kafe buku. Pertemua pertama dengan kesan buruk dimana Samudra tidak sengaja menginjak kaki Senja yang sedang berjongkok mencari buku incarannya.
“Aduh." Senja kesakitan sekaligus terkejut, sebuah sepatu hitam menginjak kakinya tapi langsung buru-buru mengangkatnya kembali.
"Eh. sorry kamu nggak apa-apa?”tanya Samudra kepada Senja yang memegangi kakinya.
“Aku nggak lihat kebawah, nggak tahu ada orang,”wajah Langit mengisyaratkan ia menyesal.
“Iya, nggak apa-apa." Senja bergegas berdiri dan berjalan mencari tempat duduk, ia ingin mengecek kondisi kakinya. Ia lalu melepas sepatu dan kaos kakinya. Meskipun lumayan sakit tapi ternyata kakinya hanya kemerahan saja.
“Beneran nggak apa-apa kaki kamu?”Samudra yang masih merasa bersalah, mengikuti Senja sambil memastikan kembali kondisi kaki Senja.
“Nggak apa-apa kok, cuma kemerahan aja kakiku.”jawab Senja datar.
“Hmm… Aku masih ngerasa bersalah. Gimana kalo aku traktir kopi? Itung-itung mengalihkan rasa sakit?”tanya Samudra meminta konfirmasi Senja.
“It's okay. Nggak perlu merasa bersalah. I'm fine. Kamu bisa lanjutkan aktifitas kamu.”ujar Senja meyakinkan pria yang masih khawatir di depannya ini.
“Beneran ini mah aku nggak enak hati. Kamu biasa pesen kopi apa. Aku pesenin sekarang, abis itu aku anterin ke sini.”lanjut Samudra dengan agak memaksa.
“Double shot espresso latte. Kamu bisa pesenin itu.”sahut Senja cepat. Ia tidak mau memperpanjang perdebatan “aku baik-baik saja” ini.
“Ok. Tunggu ya,”ujar Langit.
Setelah pertemuan pertama yang menyakitkan, Senja semakin sering bertemu dengan Samudra di kafe buku “Anomali”. Sesuai nama kafe tersebut, Senja merasa pertemuan dengan Samudra seperti Anomali, seperti ada penyimpangan dari kehidupannya yang biasa. Lambat laun Senja dan Samudra semakin dekat, mereka saling merasa nyaman satu sama lain. Kedua orangtua mereka juga menyetujui hubungan mereka, sehingga tidak ada yang menghalangi untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Samudra yang sudah menjadi karyawan tetap di sebuah perusahaan multinasional dan Senja yang juga sudah punya pekerjaan tetap sebagai staff administrasi di perusahaan tempat ayahnya bekerja, keduanya sudah matang secara finansial dan tentunya usia.
Tepat 1 tahun sejak mereka bertemu, Samudra melamar Senja. Kemudian mereka menikah dan setahun berikutnya mereka dikarunia bayi perempuan. Aina, ayah Senja memberikan namanya yang berarti matahari. Cahaya yang diharapkan dapat menerangi dan menghangatkan keluarga kecil Senja dan Samudra.
Sayangnya Aina sejak bayi memiliki banyak alergi, kondisi kesehatan Aina akhirnya membuat Senja memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi full-time mom. Keputusan ini awalnya ditentang orangtuanya dan juga mertuanya. Mereka khawatir jika kemampuan finansial keluarga baru ini akan terganggu. Namun Samudra yang juga khawatir dengan kondisi bayi mereka berusaha meyakinkan kedua orangtuanya dan juga orangtua Senja. Ia yang bulan depan dipromosikan menjadi Supervisor tentu akan mendapatkan gaji yang lebih besar yang dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga mereka. Pada akhirnya masing-masing orangtua mereka menerima keputusan anak-anak mereka. Toh ini adalah rumah tangga anak mereka jadi mereka sudah bisa bertanggung jawab sendiri.
Semenjak menjadi ibu rumah tangga penuh waktu, Senja tidak benar-benar melepas keinginannya untuk belajar dan bekerja. Ia menyempatkan diri mengambil kursus online di berbagai Massive Open Online Courses untuk meningkatkan kapasitasnya jika ia nanti bisa kembali bekerja sebagai administrator. Ia berharap semakin Aina besar, ia bisa sedikit mengambil pekerjaan virtual yang bisa dilakukan di rumah. Sama seperti ibu rumah tangga lainnya, ia juga ingin mendapatkan penghasilan tambahan. Namun ini membuat Samudra sedikit tersinggung, karena ia merasa penghasilannya sudah lebih cukup mengapa sulit-sulit menghabiskan waktu belajar dan bukan fokus mengurus anak saja.
“Memang gajiku nggak cukup Bund?”tanya Samudra tiba-tiba saat mereka hendak tidur.
“Cukup malah lebih kok. Emang kenapa?”Senja bertanya balik ke Samudra.
“Kamu kok ambil kursus online segala malah mau cari kerja online juga kan?”selidik Samudra.
“Owalah itu karena aku nggak mau berhenti belajar. Nanti kan Aina kan semakin gede semakin pinter. Kalo udah bisa ditinggal sendiri. Aku pengen bisa kerja lagi tapi sambil tetap di rumah aja."sahut Senja menjelaskan panjang lebar kepada Samudra.
“Owh gitu. Ya udah deh kamu yang semangat belajar dan juga ajarin Aina biar pinter kayak kamu yah Bund.”Samudra berkata sambil mengecup dahi Senja. Ia hanya khawatir jika ia sebagai suami tidak bisa memenuhi kebutuhan isteri dan anaknya.
“Siap Mas Samudra, ayah kebanggaan Aina. Hehe.”Senja membalas kecupan Samudra dengan cubitan halus dipipinya. Ia tahu suaminya hanya khawatir saja bukannya tidak ingin melihat ia terus berkembang.
11 Januari 2021, Pemerintah pertama kalinya menetapkan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Hampir setahun sejak kasus positif Covid-19 di Indonesia pertama kali dideteksi pada tanggal 2 Maret 2020. Kondisi ini secara langsung mempengaruhi kondisi bisnis di tanah air tidak terkecuali perusahaan tempat Samudra bekerja. Pada awalnya manajemen di perusahaan memastikan perusahaan bisa tetap berjalan selama kondisi pandemik. Namun setahun berlalu sejak pandemik, perusahaannya sulit untuk bertahan dan mulailah pengurangan jumlah karyawan. Meskipun Samudra tidak terkena PHK namun penghasilannya dikurangi 70% dengan pekerjaan yang semakin banyak akibat jumlah karyawan yang semakin sedikit. Bekerja di rumah tidak menjadikan ia santai namun malah lebih sibuk. Dari pagi hingga malam, atasannya masih saja menghubungi dia. Hal ini menyebabkan Samudra sulit diajak berkomunikasi oleh Senja.
“Mas udahan meetingnya?”tanya Senja kepada Samudra yang masih di depan laptop.
“Meetingnya sudah selesai tapi masih ada laporan yang deadline malam ini juga. Kenapa?”tanya Samudra balik.
“Aku mau ngomong sebentar bisa?”
“Ngomong aja aku dengerin sambil aku ngerjain laporan.”
“Mas Angkasa sama Mba Luna minta aku tengokin Ibu sama Bapak. Kita kan masih satu kota jadi masih bisa bepergian. Kalo mereka kan masih nggak bisa karena PPKM. Gimana?”
“Aku sampai akhir minggu ini kerjaan padat. Nggak bisa diundur?”
“Ma`salahnya Ibu lagi sakit mas, jadi aku khawatir kalo nggak jenguk dalam waktu dekat ini juga.”
“Ya udah gini aja. Kerjaanku bener-bener nggak bisa ditinggal minggu ini. Aina kita titip aja ke orangtuaku, tapi kamu pulang sendiri gimana?”
“Oke nggak apa-apa. Aku bisa sendiri.”
Ini bukan pertama kalinya Senja pulang sendiri ke rumah orangtuanya. Semenjak bekerja dari rumah, Samudra benar-benar hanya fokus dengan pekerjaan saja. Ia khawatir jika tidak bisa mengerjakan pekerjaan sesuai deadline maka nasibnya bisa seperti rekannya yang diberhentikan. Namun, bagi Senja ia seperti kehilangan sosok Samudra yang selama ini selalu bisa diajak berkomunikasi dalam hal apapun. Sampai suatu ketika Senja jatuh sakit.
“Kamu udah tahu aku lagi sibuk kayak gini malah sakit gimana sih?”
“Lha emang sakit ini aku yang mau Mas.”
“Ya kamu kan udah aku bilangin nggak usah sering-sering bolak balik ke orangtuamu, alhasil malah kamu sakit juga?”
“Mas kalo orangtua kamu yang sakit, apa iya kamu bakal diem aja, nggak jenguk mereka?"
“Aku capek ngomong sama kamu.”ucap Samudra mengakhiri perdebatan sambil berlalu pergi.
Perdebatan mereka selalu berakhir dengan saling mendiamkan. Dan kata-kata Samudra yang sudah lelah berkomunikasi dengan Senja membuatnya sedih. Ia berpikir jangan-jangan Samudra juga susah lelah tinggal bersamanya.
1 mingu Samudra tidak pulang ke rumah, Ia menginap di rumah orangtuanya dengan berbagai macam alasan. Saat ia pulang ke rumah, betapa terkejutnya, Aina dan Senja tidak di rumah. Tetangganya memberi tahu bahwa kemarin malam ambulance datang menjemput Aina dan Senja positive covid-19. Samudra lemas, ia menyalahkan dirinya sendiri yang egois.
Selama isolasi mandiri di Rumah Sakit, Senja berusaha menguatkan dirinya. Ia harus sehat supaya bisa menjaga Aina.14 hari Aina terbaring lemah. Tidak ada sanak saudara yang bisa menjenguk karena mereka berdua positif. Samudra hanya bisa melihat dari kejauhan keduanya yang sakit. Hatinya hancur merasa gagal menjadi pemimpin keluarga. Ia merasa tidak mampu menjaga keluarga kecilnya.
Setelah pulih kembali, hubungan Senja dan Samudra semakin memburuk. Mereka sama sekali tidak bertegur sapa. Senja yang merasa Samudra tidak ada di sisi dirinya disaat ia terpuruk sebaliknya Samudra merasa buruk karena telah meninggalkan anak dan isterinya dalam kondisi sakit. Samudra kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan. Ia ingin meminta maaf tapi egonya terlalu besar, sampai akhirnya Senja bersuara.
“Mas aku mau kita pisah aja.”ujar Senja dengan sungguh-sungguh."
“Pisah? Kamu jangan macam-macam Senja. Aku tahu aku salah, aku nggak ada pas kamu sama Aina butuhin aku. Aku minta maaf. Tapi bukan berarti kita mesti berpisah Ja.”
“Aku nggak bisa hidup kayak gini Mas. Kamu dengan hidupmu sendiri tanpa memperhatikan aku dan Aina. Kita sama sekali nggak komunikasi. Aku nggak bisa. Lebih baik aku tinggal sendiri sama Aina sekalian.”sahut Senja.
"Aku sudah maafkan kamu yang meninggalkan kami tapi aku nggak bisa terima kamu yang selalu menghindari aku untuk bicara."
“Aku itu sibuk buat kita Senja. Supaya aku masih bisa terus menghidupi keluarga kita. Kalo aku dipecat kita mau hidup darimana?”
“Ya tapi bukan berarti kita sama sekali nggak komunikasi Mas. Kita bisa diskusi permasalahan ini seperti yang biasa kita lakukan sebelumnya. Bukan dengan saling mendiamkan.”
“Aku kepala keluarga biar aku yang memutuskan.”
“Ok silahkan kamu putuskan apa mau kamu. Aku mau pisah.”
Akhirnya Senja dan Samudra benar-benar berpisah. Samudra keluar dari rumah. Ia menyerahkan rumah mereka ke Senja, agar Aina tinggal disana. Senja bekerja sebagai virtual assistant sambil mengurus Aina sendiri. Kedua orangtua mereka tidak setuju dengan perceraian mereka. Tapi Senja sudah tidak ingin bersama lagi dan Samudra juga sudah menerima keputusan Senja.












