Ia yang menjelma menjadi bait kata seorang pujangga;
yang mampu memadamkan api rindu yang menjadi satu-satunya jalan menyalakan jantungnya
seen from China

seen from Egypt
seen from China
seen from United States
seen from China
seen from Cyprus
seen from Thailand
seen from South Africa
seen from Canada

seen from United States
seen from Netherlands

seen from Mexico

seen from Canada
seen from United States
seen from Macao SAR China
seen from United States
seen from China
seen from Finland
seen from China
seen from United States
Ia yang menjelma menjadi bait kata seorang pujangga;
yang mampu memadamkan api rindu yang menjadi satu-satunya jalan menyalakan jantungnya
Seangkuh itu aku memamerkan ingatanku pada dingin malam
Tersungging senyum simpulku merasa semesta kali ini berpihak
Yang kau tinggalkan hanya harum tubuhmu
Sejuta entah;
Entah. Entah bagaimana kau menyelinap pada dingin dada yang tak lagi datang si empunya. Pelan menyapa, lembut jatuh terluka.
Karna kamu sebuah puisi yang tak ingin aku selesaikan. Kubiarkan menggantung di langit-langit cakrawala ingatanku. Agar kekal disana setiap kali aku menengadah.
Kelak, di tawa yang menua
Akankah tetap kuingat sendu senyummu itu berupa candu yang selalu mampu ku seduh tapi tak dapat ku teguk..
Ia yang menahan diri
Semampunya merindu sendiri dengan hati2
Dalam rehat yang panjang ini yang tak mampu kau sekat adalah paras yang lekat yang bergelayut di ingatanmu meski waktu menyeretmu.
Fiksi
Maaf telah sempat mempuisikanmu beribu lembar Dengan bodoh menuliskanmu dengan mata binar, degup debar, tak ada senyum yang lebih lebar
Mengapa sekedar menangis begitu menyesakkan Padahal meraung lebih acap tersentakkan
Yang ku tau kau itu ada Dari nyala jantungku setiap bersama Yang ku tau kau itu sinar Saat bersama dari hatiku yang bergetar Yang ku tau kau itu nyata Sedang aku fiksi Sekali fiksi tetaplah fiksi Sampai kapanpun menjadi bayangan Dan kau tetaplah angan Bibirku akan tetap menuai sanjungan