Mereka yang menggarap hal ihwal untuk mengatur pemilu,sebuah sistem rumit yang membuang-buang uang demi satu orang yang harus dipilih itu, yakni Badan Legislasi serta orang-orang di balik layar KPU memiliki cita-cita yang sederhana saja.
Mereka ini ingin mencari seorang pemimpin yang dalam istilah Jawa disebut: Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu.
Seorang yang bersikap satria, dalam kacamata Jawa. Suci, jujur, tidak mencuri, tidak menyakiti hati rakyatnya -dan para pembuat aturan itu pun termasuk rakyatnya. Bukan satria berwajah tampan yang menemukan pasangan sepatu kaca perempuan dan kemudian dielu-elukan perempuan lain.
Seorang yang pinandhita, yang tidak lagi memikirkan dunia, seorang yang zahid. Tidak memiliki kepentingan politik yang ngablu.
Seorang yang sinisihan wahyu. Yang dibimbing, dikawal, dan didampingi Allah, terus-menerus. Sehingga saat mengambil keputusan, apapun itu, selalu dinaungi hidayah Allah. Bukan dikawal segelintir orang-orang berakal absurd yang ulung dalam berburuk sangka. Atau kata senior saya, yang mendadak menjadi ahli musthalah hadits: mampu melacak aib-aib rawi dan sanad.
Terakhir, mereka yang berada di balik layar pemilu itu, berharap dapat menemukan seorang pemimpin yang Manunggaling kawulo lan Gusti. Seorang pemimpin yang dalam hatinya memiliki ruang di mana Allah dan rakyatnya menyatu. Yang berkata taat kepada Allah dan mencintai rakyatnya, selama satu periode. Bukan hanya saat kampanye.













