2020
2020 sebentar lagi selesai. Biar saya mencatat tahun paling wah sepanjang hidup saya, untuk kenang-kenangan. Awal tahun, kesehatan saya mulai memburuk, dan mental saya benar-benar terpuruk. Saya akan segar bugar di pagi hari, tapi menjelang sore, saya akan menggigil kedinginan, padahal cuaca panas. Saya stress ditambah pola hidup dan pola pikir tidak sehat. Double combo, tapi saya mengabaikannya.
Sampai pandemi tiba. Saya kerja dari rumah. Manusia memang dianugrahi kemampuan beradaptasi. Namun tetap saja, adaptasi perlu waktu. Saya burn out, dan sempat mengalami panick attack. Demi apa pun, jaga mental kalian, panick attack sangat sangat tidak nyaman. Saya sempat menarik diri dari interaksi apapun. Saya beruntung punya teman-teman dan keluarga yang ada di dekat saya, dan menjaga saya, bagaimana pun keadaan saya. Mereka obat healing terbaik.
Tidak berhenti di sana, nafsu makan saya terus menurun, dan sesekali batuk yang sangat gatal dan menyiksa. Panas dingin masih berlangsung. Stress pikiran, tentu masih melekat di kepala. Lambung saya akhirnya nyerah juga. Tidak hanya lambung, setiap malam, saya selalu berkeringat banyak sekali, padahal sorenya saya menggigil kedinginan. Dan ini berlangsung satu bulan lebih.
Satu kali cek darah, hasilnya anemia parah. Sel darah jauh dari ukuran normal. Rambut saya rontok, berat badan saya turun 10kg. Obat anemia tidak membuat saya lebih baik. Dan batuk saya memburuk. Sampai akhirnya cek thorax, dan hasilnya TB Paru. Wah. Saya harus menyelesaikan urusan dunia yang menekan mental saya, dengan kondisi tubuh yang sedang kepayahan. Saya akan sesak nafas kalau jalan kaki lebih dari 10 menit. Apalagi kalau harus naik tangga, astaga, pengap betul. Saya merasa bersalah sekali dengan badan saya.
Yang paling menyiksa dari ini semua: konsumsi obat TB. Efek sampingnya lebih menyiksa lagi dari sakit di paru-paru tiap saya batuk. Kalau ibu, bapak, dan lek saya ngga ada, saya mungkin sudah buang semua obatnya yang besar dan banyak sekali dosisnya itu. Satu bulan pertama, rasanya sampai trauma tiap lihat obatnya. Benar-benar bikin mual, badan rasanya sakit seperti dipukuli. Efek paling parah yang saya alami itu sakit sendi. Kalau orang tua kalian sakit asam urat, jaga mereka dengan baik. Sakit sendi itu benar-benar sakiiitt.
Beruntung saya tidak terinfeksi covid. Kalau iya, ditambah kena TBC, wah. Gelar yang saya dapat di tahun 2020 jadi Almarhum. Tapi Allah baik. Saya masih diberi kesembuhan, mungkin supaya saya bisa berterima kasih ke orang-orang yang merawat saya selama sakit: keluarga, dan teman-teman terdekat saya. Semoga mereka selalu diberi kebahagiaan dan kedamaian dalam hatinya.
Sekarang, saya sudah jauh lebih baik. 2 minggu lagi, saya selesai konsumsi obat tb itu. hasil lab sudah negatif tb dari dua bulan lalu. Tahun ini benar-benar masa terberat dan terpayah saya. Titik balik yang menyadarkan saya, kalau keluarga dan teman terdekat -yang hanya berapa orang itu- rasanya sudah seperti dunia dan seisinya: kemewahan yang cukup. Mereka tidak banyak menuntut, apalagi menghakimi. Yang penting saya sehat dan bahagia. Cukup.















