Seribu raungan
Seribu kata terjalin menjadi seribu kalimat, bertebaran dan berterbangan bagai partikel debu dalam remang cahaya seakan buyar tanpa tujuan, tanpa arti, menggelantung di udara seakan tidak peduli, tidak percaya..tidak berharap dalam doa dan mimpi-mimpi
Seribu kaki menjejak seribu langkah setiap hari, hilir mudik menerjang marabahaya demi lembar lembar angka, yang berkuasa membeli segala impian dan makna-makna, yang hakikatnya Sementara..menyuguhkan dan mewujudkan ilusi dunia penuh daya, begitu memabukkan — begitu melenakkan
Alunan musik yang berdentum dentum hingar liar, cahaya warna warni yang berkedip dan menyilaukan, mengaburkan dosa dosa dari pandangan kedalam gelap malam gulita yang menutupi, menyembunyikan kelemahan manusia, segala kebinasaan yang mereka pelihara
Bersedih itu sudah biasa, mengakar jauh ke dalam jiwa..menguburkan kewarasan sudah sepert Mandi, ritual yang tak lagi memberi suci
Pada bayang bayang panjang Hari, seribu hati iri kepada seribu hati yang lain. Seribu kepala menitahkan upaya menenggelamkan seribu kepala yang lain. mengeruk untung, menghisap sari, sampai hampir tak bersisa, menyisakan luka dan bisa
Seribu lembar halaman
Seribu bait ayat
Dalam bisu menyaksikan seribu kaki Dan seribu kepala yang berlarian dalam sesat yang tak bertepi
Seribu doa dilepas pergi, seribu raungan memekik dalam ngeri, seribu desahan dalam ruang ruang pengucilan diri, seribu rasa —menanti












