#SetiapMasa ... #SetiapWaktu ... #SetiapDetik ... #AmatBahagia ... #BersamaMu ... (at Uptown Puchong Night Bazaar) https://www.instagram.com/p/CejWDI8PZzOEq0kOc9g709-YuhEo_4b9DNV_LA0/?igshid=NGJjMDIxMWI=

seen from Singapore
seen from Australia

seen from United States
seen from Australia
seen from Pakistan
seen from United States
seen from United States
seen from Canada

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Netherlands
seen from South Korea

seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from United Kingdom
#SetiapMasa ... #SetiapWaktu ... #SetiapDetik ... #AmatBahagia ... #BersamaMu ... (at Uptown Puchong Night Bazaar) https://www.instagram.com/p/CejWDI8PZzOEq0kOc9g709-YuhEo_4b9DNV_LA0/?igshid=NGJjMDIxMWI=
#SetiapDetik #Hiks 😭 https://www.instagram.com/p/CdZmQ2yP89V/?igshid=NGJjMDIxMWI=
Bagian 3 : Mengejar Pagi
Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 sementara aku masih di Grogol, rencananya aku ingin mengejar bis keberangkatan pukul 15.00 agar besok pagi bisa sampai di Solo paling tidak Shubuh, padahal beberapa barangku masih di kost temen di Menteng, dan semuanya harus ku tempuh dengan busway saja. Pulang dari menemui pak Sapto mewajibkanku segera kembali ke Solo, karena besok pagi Wita mengajakku menemani CFD adik-adik.
Sebenarnya tidak banyak yang perlu aku lakukan, aku hanya perlu lari sekencang-kencangnya dari halte Kwitang ke arah Tugu Tani, kemudian kembali lari kembali ke halte Kwitang, sederhana sekali, dengan keringat mengucur deras aku bersyukur telah bersesak-sesak di dalam busway jurusan kampung melayu setelah transit di Senen Sentral, aku mulai rikuh dengan penumpang yang lain meski kusadari banyak diantara mereka yang mulai berbau keringat pula, di luar hujan telah deras, aku selalu merasa beruntung bisa berteduh saat hujan turun meski sesesak ini.
Di halte Matraman aku kembali transit dan kembali berlari kencang dari kedua halte Matraman yang saling memotong, kali ini aku menuju arah Arion, tempatku turun nanti sebelum ke terminal Rawamangun, kulihat jam sudah menunjukkan 14.15, bibirku mulai menggumamkan doa, doaku yang pertama Tuhan tolong kasih saya bis yang berangkat tepat ketika saya datang, doaku yang kedua Tuhan tolong ada bajaj atau taksi di Arion, dan doaku yang ketiga Tuhan tolong sementara hentikan hujan.
Aku turun di halte Pemuda Rawamangun, segera ku menyeberangi jalan dan berharap kutemukan bajaj atau taksi di situ, seluruh badan sudah basah kuyup karena derasnya hujan, doaku yang ketiga belum terkabul, dan doaku yang kedua nampaknya juga belum terkabul, tak ada pilihan lain aku harus berlari ke terminal yang jaraknya 500 meter, aku hanya berfikir jangan sampai terlambat sampai Solo, aku seperti mengejar matahariku, mengejar sesuatu yang aku sangat ingini, aku ingin berlari sekencang-kencangnya dan bilang pada mereka bahwa aku tak ingin matahariku kecewa, aku acuh pada setiap mata yang memandangiku dengan heran, aku tak sempat meminta maaf pada setiap orang yang terciprat dari jejakku, mengejar adalah berlari, sayang tak selalu ada saksi bahwa sebenarnya setiap saat kita selalu berlari mengejar yang kita cintai, hanya saja kita malas bercerita, malas menampilkan, dan barangkali lari ini hanya remeh, iya barangkali hanya remeh dan tak terlalu spesial buat di apresiasi.
“Buk, bis Rosalia ke Solo yang paling cepet jam berapa?” tanyaku di depan loket terengah-engah.
“Itu siap berangkat, Rosalia SE, jam 3 pas, mau?” jawab si ibu lambat sambil menunjuk sebuah bis mulus yang sudah banyak penumpang di dalamnya, aku nggak sabaran menyimaknya.
“Ambil” jawabku segera, kemudian si ibu mencorat-coret tiket pesananku setelah kusodorkan beberapa rupiah, syukurlah aku bisa duduk di kursi single, jujur aku khawatir ada penumpang yang terganggu dengan kondisiku saat menaiki bis, basah kuyup, dan hehe belum mandi juga, dan benar saja 5 menit kemudian bis berangkat, terimakasih Tuhan doaku yang pertama Kau kabulkan.
Sepanjang perjalanan yang kualami hanya menggigil, AC bis ini sangat dingin dan sepertinya basah ini memberikan efek rasa dingin dua kali lipat, jam menunjukkan pukul 22, kunyalakan HPku, kutancapkan powerbankku, mencari rekaman suara on air Wita tadi siang, aku selalu menyukai cara dia berbicara, suaranya selalu membuatku merasa ringan, hingga getaran HP dan suara rekaman yang menghilang membuatku membuka mata, Wita telepon.
“Assalamu alaikum Mas” suara yang sama di seberang.
“Waalaikum salam, gimana Wit?” jawabku berusaha menghilangkan suara serak tanda gejala batuk.
“Mas besok jadi ikut CFD?”
“InsyaAllah jadi, ini perjalanan pulang,”
“Assikk, oke mas besok ditunggu adik-adik lho,” aku selalu suka nada cerianya.
“Siap komandan!” jawabku
Dear Kertas, Aku seperti remeh Sepertinya telah kujual semuanya… Aku hanya gagal menjual waktu Aku terlalu sayang dengan waktuku Aku mulai hampir tak percaya dengan kata pengalaman Ketika aku habis-habisan mengorbankan waktuku, Aku kalah dengan Dia yang datang kemudian dapatkan. Ketika aku enggan merelakan waktu, ternyata yang rela berbagi waktu yang menang.
Bagian 1 : Ikrar
Pagi ini masih terlalu dini, tapi aku sudah beranjak dari karpet hijau shaf paling depan masjid ini, sebelum petugas masjid mengomel karena aku tertidur di atasnya, aku turun ke lantai bawah, menuju jejeran kamar kecil yang masih sepi, hanya ada satu cahaya neon disana, menerobos setiap lubang yang disengaja dibuat agar memberikan celah cahaya. Masih cukup waktu untuk sekedar tahajud gumamku dalam hati.
Masih jam 3 dini hari, delapan rakaat, diikuti doa-doa yang seperti sebuah template yang selalu kuucap secara urut, dimana ditengahnya terselip sebuah nama, nama yang kuperjuangkan hingga aku nekad untuk menginapi masjid di bilangan Kramat Senen ini, turut serta memperjuangkan mimpi-mimpinya yang luar biasa, yang membuatku bersedia untuk melakukan apa saja, mudah dan sangat nikmat.
Namaku Dito, karyawan swasta di Solo, aku kesini sedang memperjuangkan sponsorship sebuah program fundraising yang diinisiasi Wita, cewek yang saat ini kuperjuangkan, Wita adalah ketua dari sebuah sekolah alam di kaki gunung lawu, Ngargoyoso, sekolah ini hanya sebutan saja, sesungguhnya hanyalah sebuah rumah singgah tempat adik-adik bermain, belajar dan berkumpul, saya mengenalnya Wita belum lama, baru 5 bulan yang lalu, meski sebentar berkenalan dengan dia membuat hidupku sangat berwarna, bersemangat, dan hmm sepertinya juga bermanfaat.
Wita usianya dua tahun di bawahku, dia masih mahasiswi yang sangat aktif berorganisasi, di mataku dia adalah orang sibuk yang sangat anti dibilang sibuk, air mukanya akan berubah cepat ketika aku menyebutnya dengan orang sibuk, padahal dia sangat penyabar bahkan sangat sabar, bahkan belum pernah aku menemui orang se sabar dia, haha mungkin berlebihan, namun itulah yang ku rasakan.
Cerita perkenalanku dengannya akan kuceritakan nanti, sekarang aku ingin bercerita bahwa di 5 bulan perkenalan, aku merasa waktuku banyak tercurah untuk membantu aktivitasnya, dia tidak pernah meminta, bahkan dia kadang menolak dibantu, tapi aku memaksa membantu, entahlah kenapa aku yang kadang anti sosial ini bisa maksa dalam urusan menolong, ya kamu bisa menebaknya, aku tak perlu mengaku.
Seperti kali ini, aku ke Jakarta menemui tokoh pemerhati anak yang sangat terkenal di negeri ini, dengan budget pribadi yang minim aku nekad ke Jakarta demi mendapat video pengantar dari tokoh ini, Video ini sangat penting karena akan dibuat viral di sosial media agar bisa menjangkau semua kalangan dan mensukseskan fundraising tahunan, Wita dari Solo membantu mengkoordinasikan kemana aku harus menuju, aku dengan kereta ekonomi cabut ke Jakarta, wajahku sangat bersemangat, sangat menyenangkan sekali menjadi rekan di perjuangan dan mimpi Wita, dan sekali lagi Wita tak pernah memintanya, aku sendiri yang menawarkan diri, bahkan aku yang memohon untuk membantunya, dan Wita pasrah mengangguk, entahlah tak kupahami dia begitu berat untuk kubantu.
***
Beberapa orang nampak mulai muncul di masjid, waktu shubuh telah tiba, masih sesekali menguap aku mencoba menyalakan mata, Dito adalah pengkhayal tingkat tinggi, ya itulah aku, namun aku sangat membenci kata-kata pengandaian, aku menyukai bermimpi namun sangat benci menyampaikan mimpi-mimpi, aku suka berandai-andai namun sangat benci menuliskan perandaianku, bahkan aku benci kata ‘andai’, bagiku orang yang mengatakan andai dan menuliskan andai adalah seorang pemimpi pasif, dia menuliskannya dan berharap mimpi itu menjadi nyata, aku merasa aku bukan bagian dari itu.
Sehabis Shubuh kubuka HPku yang baterainya hanya tahan menyala selama 3,5 jam, membuka rute jalur untuk menemui sang tokoh, Wita mendadak sekali mengirimkannya, sebelumnya aku belum pernah tahu lokasi mana yang harus ku tuju, yang aku tahu, aku harus ke Jakarta secepatnya, cuti kerja sehari demi mengejar mimpi, halah mimpi lagi.
HPku berbunyi lagi, panggilan dari Wita.
“Assalamu alaikum mas” sapanya lebih dulu.
“Iya Ta, gimana?” jawabku sedikit gugup
“Mas tidur dimana semalam?”
“Di hotel”, jawabku berbohong.
“Oh, mas posisi dimana sekarang?”
“Di Senen Ta”
“Oke, mas Dit tahu Kalibata?”
“Tahu”
“Oh syukurlah, mas Dit bisa temui pak Sapto di Kalibata mas, di gedung ALPA, Jl. Pasar Minggu,”
“Oke sip” jawabku singkat
“Tapi paling lambat jam 10 mas, yakin bisa?” terangnya lagi
“InsyaAllah bisa” jawabku mantap
“Joss mas, semangat mas Dit, Assalamu alaikum” tutupnya.
Semangat mas Dit….. semangat mas Dit….. semangat mas Dit….. kata kata itu terdengar repeat di otak, memacu degup jantung dan mencurahkan darah segarnya menyalurkan ke seluruh rongga nadi, membangkitkan semangat yang mendadak kencang di pagi yang masih dingin ini.
“Waalaikum salam”, jawabku terlambat.
***
Pagi ini hari senin, Jakarta padat, namun dalam sekali masuk halte langsung kudapatkan busway yang penuh sesak, Senen ke Kalibata yang ku tahu harus 2 kali transit, jelas bukan jalur yang menguntungkan untuk ditempuh dari Senen, sejenak kutahan nafas oleh padatnya halte kampung melayu, aku loncat cari taksi pun tak menjamin bakal sampai tepat waktu, mengingat padatnya jalan, akhirnya kutekadkan untuk tetap berbusway dan berdiri di metromini jurusan pasar minggu.
Terlambat 5 menit, langsung kutemui pak Sapto yang terkenal dan sering ku lihat di tivi-tivi nasional, beliau menyapaku hangat, sambil menungguku mempersiapkan kamera dan tripod, beliau nampak bersemangat bercerita tentang Wita, beberapa kali kudengarkan pujiannya pada wanita berjilbab itu, sesekali aku berhenti bergerak, tertegun dan menyadari bahwa Wita lebih hebat dari yang sebelumnya kubayangkan, semakin pak Sapto memuji Wita semakin sesak nafasku, semakin sulit menerima atau justru ketakutan atas reputasi Wita yang luar biasa bahkan di mata orang populer sekalipun, aku jadi merasa kalah sebelum berperang, bahkan mungkin perjuanganku ke Jakarta ini, tidur di masjid ini, berdesak-desakan di bis ini tak ada nilainya di mata Wita? ini hanya hal lumrah yang tak perlu terlalu dipikirkan, aku berasa seperti debu, makin sesak nafas ini.
“Mas, sudah siap?” sebuah panggilan menyadarkan lamunanku
“Eh iya pak, maaf” langsung kutuntaskan setting kameraku.
“Kamera siap, satu…. dua…. start….”
***
“Assalamu alaikum, piye mas? lancar?” tanya Wita di seberang telepon
“Alhamdulillah Ta” jawabku pendek
“Alhamdulillah, makasih ya mas, Mas Dit udah makan siang?” tanya Wita lembut
“Ini sedang mampir warung” jawabku singkat lagi, sungguh pujian-pujian pak Sapto ke Wita tadi membuatku sadar diri untuk tak mimpi tinggi, kembali dada ini sesak.
“Yo wes mas, met makan siang mas Dit, oh iya nanti aku on air talkshow di Sinar Radio, kalo mas bisa streaming, dengerin ya, ini tentang sekolah yang kita kerjakan”.
“Iya, coba nanti ku dengerin”
“Asik, yo wes mas, Assalamu alaikum”
“Waalaikum salam”
Siang ini panas terik, aku mampir warteg di dekat tugu Pancoran, dengan pikiran yang masih berputar kencang, masih dengan pikiran yang membuat dada sesak.
***
Di sudut lantai 3, toko buku Gramedia Matraman, di pinggir dinding kaca yang bisa melihat pemandangan hujan deras di luar, kutancapkan powerbank di HPku yang baterainya sudah di ujung tanduk, membuka aplikasi streaming radio, kucari nama Sinar Radio Solo, dan kudapatkan suaranya, masih lagu galau yang diputar, membuat syahdu suasanaku memandang hujan ini, aku membolak-balikkan halaman buku komik yang tadi kuambil namun tak sedikitpun ceritanya yang kucerna, pikiranku terlalu rumit namun aku tak tahu mengapa bisa rumit.
‘Halo gaes, jumpa lagi sama gue yang kali ini bakal ngobrol asik sama tamu Sinar siang ini ada kakak cantik, boleh dikenalkan namanya dong kak?’
‘Hai… saya Wita….’
Nafasku berhenti, aku menyukai suara ini, spontan ku tekan tombol record, ku dengar suara ini dengan seksama, wajahku perlahan tersenyum, mataku perlahan berair, darahku perlahan berdesir, perlahan kukuatkan tekad bahwa apapun aku akan di belakang Wita, diterima ataupun ditolak perasaanku nanti, akun akan berdiri di belakangnya, aku akan bantu meski hanya secuil manfaat di matanya, aku terbawa suasana, aku terbawa perasaan, tapi aku menikmatinya, kutatap splash air yang menempel kecil-kecil di balik dinding kaca, menatap macetnya jalan protokol di agak jauh di depan, suasana mendukung mendungnya suasana hati, pasti aku tak akan lupakan adegan ini.
Wita, aku berjanji akan di belakangmu, ikrarku dalam hati.
***