Aku masih asik dengan komputer di kios cetak dan pengetikan yang ku rintis, saat tiba-tiba seorang pengunjung wanita memanggil.
“Iya mbak, ada yang bisa saya bantu?” jawabku setelah menoleh ke asal sumber suara.
Wanita itu berdiri tegap, tatapannya tegas, namun suaranya lembut, nampak ada wajah khawatir di matanya namun sepertinya dia mampu meredamnya.
“Mas disini terima mengetik cepat?” tanyanya.
“Hmm, emang ada apa ya mbak?” tanyaku heran, baru kali ini ada pengunjung menanyakan kecepatan mengetik.
“Mas ini skripsi saya, sudah hampir jadi,” dia menahan kata-katanya, memperlihatkan sebungkus tebal print out skripsi, sepertinya dia ingin memastikan aku memerhatikan ucapannya dengan seksama.
“Ada beberapa revisi yang harus di ganti, nah masalahnya mas, filenya di laptopku hilang karena laptop rusak, di flashdisk juga rusak, saya nggak tahu harus bagaimana menyelamatkan data-datanya, tadi ke tukang servis komputer katanya data yang di harddisk tidak bisa direcovery lagi,” suaranya mulai getar, namun wajahnya tetap datar.
“Owh, lalu saya…” tak sempat kuselesaikan ucapanku sampai akhirnya wanita ini memotongnya.
“Mas bisa bantu saya mengetik ulang?” tanya dia tajam, aku terdiam, tak lama kemudian ku kitung jumlah lembar kertas yang dia bawa.
“Harus selesai kapan mbak?” tanyaku
“Hah…. mana mungkin mbak?”, jawabku menolak halus.
“Mas Dito, saya sudah keliling semua pengetikan di sini, dan semua orang menyarankan mas Dito yang bisa mengetik cepat, saya tidak tahu lagi harus minta tolong siapa, maukah mas Dito bantu saya? tarifnya boleh dinaikin kok”, bujuknya panjang lebar
“Saya mau membantu mendikte”, imbuhnya, aku masih terdiam, tapi dia tetap menatapku tajam, meski tetap dengan ekspresi tenang.
“Baiklah, mari dimulai dari sekarang”, jawabku tegas, wajahnya mengangguk, kusiapkan kursi untuknya di sebelah kursiku, dia letakkan tasnya cepat-cepat, dia rapikan ujung jilbabnya, kuambil lembar pertama, ku baca namanya, ‘Prawita Sekar Prastista’.
Hari itu awal perkenalanku dengan wanita bernama Wita itu, kami mengetik semalaman, dia sudah tak peduli apapun, energinya tak pernah habis, dia masih bersemangat untuk mendikte dan menggantikanku mengetik saat mataku telah sayu, mengambil kopi instant dari dalam tasnya lalu membuatkannya untukku dari air dispenser, yang paling kuingat adalah bau parfumnya yang sejak tadi sore hingga sekarang masih saja wangi, dia tak banyak bicara kecuali membahas skripsinya, dia sangat tegas batas sehingga aku sangat berhati-hati berbicara, bahkan aku tak sedikitpun berani menggodanya.
Jam 3 pagi, aku terbangun karena kedinginan, masih ku dengar cetak-cetik keyboard komputerku, aku masih tak percaya dia berani tinggal di sini, di tempatku yang asing baginya, pintu kios memang sengaja dibuka lebar-lebar, lampu kios yang terang benderang juga masih menyala, di luar kios masih ada warung hik yang membuat kami tak sepenuhnya bisa dibilang berduaan, bahkan warung hik itu masih ramai pengunjung.
“Eh udah bangun mas”, suaranya masih nyaring.
“He em”, jawabku singkat.
“Buruan qiyamul lail gih”, ucapnya singkat.
“Owh… iya”, jawabku agak mengernyitkan dahi, segera ku buka HPku, ku search kata kunci ‘qiyamul lail’, mencari panduan sholat malam, aku belum pernah melakukannya.
Akhirnya naskah skripsi itu selesai tepat pada pukul 6 pagi, masih ingat betul betapa hectic tadi malam kami mengetik cepat.
“Terimakasih banyak ya mas Dit” ucapnya di pintu kiosku.
“Iya sama-sama, semoga skripsinya lancar ya”
“Kalo ke sini siang mungkin yang manunggu temenku, kalo siang aku ke kantor”
“Ya Allah mas, jadi ini masih harus berangkat kerja?”
“Ya ampun maaf ya mas, jadi ngantuk deh nanti masnya”
“Ndak apa-apa”, jawabku sambil menjentikkan jari, “Eh Ta, boleh foto bareng?” ucapku ragu.
“Buat apa mas?”, Wita nampak heran dan sepertinya kurang suka ajakanku.
“Oh ya udah deh Ta, gak jadi aja”, aku mendadak urung.
“Owh gak apa-apa kok, ayo foto bareng, pake HP mas Dit?” ucapnya sambil tersenyum akrab, dia menerima HPku, kami foto selfie bareng, dia tersenyum sambil memperlihatkan sedikit giginya, dan aku pasang wajah imut dengan dua telunjuk menempel di kedua pipi, Wita berpamitan, hingga akhirnya sepeninggalnya aku sadar lupa meminta kontaknya.
Ku buka sekali lagi foto selfie tadi, entah aku sangat suka melihatnya, ku cari namanya di facebook, namun aku tak berani menambahkannya sebagai teman, nanti ketahuan kepo, boro-boro mau japri dia buat tanya nomor kontak, akhirnya semuanya ku urungkan, masih berharap suatu hari dia akan kembali ke sini, semoga, pikirku dalam hati.
Sudah hampir sepekan aku tak lagi mendengar kabar Wita, hampir setiap saat aku buka laman profil facebooknya yang sengaja kubookmark, tidak mampir ke kios, tidak mengabarkan skripsinya, hmm, mungkin dia sibuk, atau lupa? ah aku terlalu ingin tahu kabarnya, aku mulai mengingat-ingat bau parfumnya yang khas dan awet, dan mengingat-ingat suaranya, sebenarnya jika aku mau, bisa saja aku kirimi pesan di facebooknya untuk menanyakan kabarnya dengan modus menanyakan skripsinya, tapi ternyata gengsiku masih tinggi, jadi kubiarkan saja rasa penasaran ini menumpuk hari demi hari, entahlah mungkin Wita tak akan pernah ke sini atau berkabar lagi.
Jam tujuh malam ku parkirkan motorku di garasi kost, menaiki tangga ke kamarku yang ada di lantai atas, ku lihat Bimo tetangga kamar yang sedang asik merokok di serambi kamarnya.
“Woi John, lama nggak nongol koe” panggil dia waktu aku ngelonong aja masuk kamar
“Banyak order”, jawabku singkat.
“Sek sek ta, aku meh pinjem uangmu, penting ini, meh tak pake nang Jogja”, ungkapnya to the point
“Aku gak ada duit”, jawabku singkat
“Healah, banyak order ra due duit? apa kamu bisnis jasa cuma buat sosial? lha mbok di rumah aja tidur”, sindirnya, aku diam tak menimpali.
“Sini ta, cepek aja, suk sek aku punya uang, kuganti”,
“Yo kalo dah ada duit”, jawabnya sambil nyengir.
“Dah ini ambil aja, besok-besok aku dah nggak mau kamu utangi lagi” kusodorkan uang dua puluh ribuan, dia nampak protes tapi akhirnya dia terima.
Baiklah sekalian kukenalkan tetanggal kost yang satu ini, namanya Bimo, dia tetangga kampungku di Gunung Kidul yang entah kenapa ikut-ikutan tinggal di Solo bahkan ikut-ikutan kost di tempat ini, aktivitasnya nggak jelas, dia bilang mengerjakan project, tapi project apa aja aku tak pernah tahu, kadang bingung juga, sebagai tetangga sejak kecil seharusnya kami bersahabat baik, namun sampai sekarang aku nggak mau menganggapnya sahabat, terlalu banyak kebodohan-kebodohan yang dia buat yang ujung-ujungnya membuatku jadi terlibat urusannya, berurusan dengan polisi? beberapa kali, dan aku yang selalu mengurusnya, bahkan waktu aku memintanya tolong untuk mengurus pajak motorku karena aku akan ke luar kota, dia malah menggadaikan BPKB motorku, jelas aku marah, aku harus mengurus pembatalan gadai dan justru semakin banyak menghabiskan waktuku, tak bisa kubayangkan ada manusia setidak jelas dia, sedikitpun aku nggak paham pola pikirnya, aku dah 3 kali pindah kost, dan dia selalu mengikutiku, dia seperti benalu, dan aku sulit lepas dari dia, sial.
Sepuluh hari telah berlalu sejak pertemuan dan perkenalanku dengan Wita, akhirnya aku memilih untuk mengirim permintaan pertemanan facebook ke Wita, dengan mengucap basmalah, dan jantung berdegup cukup kencang, agak merinding sedikit ketika permintaan pertemanan berhasil tadi, terdengar berlebihan tapi memang itu yang ku rasakan, setelah itu hampir tiap menit aku refresh facebook untuk melihat approvalnya.
Setengah jam kemudian permintaan pertemanan facebookku diterima, diikuti beberapa notifikasi ‘Prawita mentioned you on her new update’, masih dengan degup jantung kencang ku buka notifikasi itu.
‘Hai mas Dito, gabung yuk di SelaGula (Sekolah Alam Gunung Lawu), ngajakin main adik-adik ini, ajak teman-temannya yaa’, begitu bunyi updatenya, tampak sebuah foto Wita sedang bermain angklung bersama beberapa anak-anak usia SD dan TK, mereka nampak ceria.
Rasanya bahagia bisa disapanya, rasanya spesial dimentionnya, rasanya seperti mendapat kesempatan untuk akrab dengannya, meski akhirnya ketika seluruh update Wita ku scroll ke bawah, ternyata banyak sekali orang yang dia mention berupa ajakan yang sama, Ya Tuhan, aku cuma salah satunya, ternyata kemarin update-update ini tidak publik sehingga tak bisa kubaca saat belum berteman, namun apapun itu aku bahagia bisa kembali berkomunikasi, ku klik tombol like tanpa berkomentar apapun.
Sore ini aku sudah berdiri di rimbunan buku di sebuah toko buku paling terkenal diskonnya di kota Solo, mencari beberapa buku yang menurutku cocok untuk diberikan ke SELAGULA, sampai di kost langsung ku bungkus rapi dengan sampul polos warna coklat, siap dibawa sewaktu-waktu jika akan ke SELAGULA.
Saat itu juga kukomentari update Wita kemarin, ‘Boleh dong main-main ke sana :)’ komentarku, lalu kuikuti dengan mengirim japri facebook, ‘Ta minta kontak dan ancer-ancer ke SELAGULA dong’, ku harap modus berjalan dengan baik, dan benar saja tak ada 5 menit, Wita sudah membalas dengan nomor kontaknya, kukirim pesan wasap untuk memperkenalkan nomor kontakku, lalu dia membalas dengan petunjuk jalan menuju Selagula.
Pagi ini kuputuskan mengambil cuti, karena Wita memintaku datang ke Selagula untuk mengikuti pertemuan pengurus dan relawan Selagula, aku juga berfikir sekalian berkenalan dengan teman-temannya di sana, kubawa buku-buku yang kemarin ku bungkus, pagi ini mentari bersinar cerah, secerah air mukaku, sesemangat pikiranku, untuk segera berangkat, ke lereng gunung Lawu, di Ngargoyoso Karanganyar.
Dan sangking semangatnya, kukebut motorku agar sesegera mungkin sampai di Ngargoyoso, melintasi jalan-jalan di Karanganyar yang semakin lama semakin menanjak, sangat menyenangkan jalurnya, apalagi suhu udaranya yang semakin sejuk saja, membuatku pikiranku terbang kemana-mana, membayangkan apa saja yang mungkin nanti bisa kulakukan atau sampaikan, membayangkan sikapku ketika berkenalan, membayangkan bagaimana aku harus berbicara menghadapi anak-anak, ini sungguh dunia baru buatku, sambil sesekali kuingat lagi penampilan Wita, wajahku tersenyum sendirian, gila ya…. aku sampai bela-belain cuti, sampe bela-belain ke gunung, ada-ada aja, tapi sedetik kemudian, ‘braaakkkkk…….’
Tuhan, aku terlalu membayangkan hal indah hari ini, dan aku lupa bersyukur pada keindahan ini, hingga akhirnya hal buruk tak terduga terjadi, motorku terpeleset pasir dan terperosok jatuh ke selokan, apesnya kakiku terantuk batu tajam hingga luka menganga yang lebar, janggutku tergesek aspal dan berdarah banyak, telapak tangan kiriku dan lutut kananku pun demikian, aku masih ingin bangun dan melanjutkan perjalanan, tapi warga yang berkerumun memarahiku karena menolak ke rumah sakit, Aku tak banyak berbuat, diangkutnya aku dengan sebuah mobil ke rumah sakit, dengan lampu hazard menyala, aku pasrah dan menutup mata, tertatih menuju ruang IGD, merasakan perihnya luka yang dicuci suster, dan jahitan dokter.
Dalam minimnya sinyal ponsel, ku SMS Wita ‘Mbak, maaf aku nggak jadi ke situ, ada sedikit halangan’, lima menit, sepuluh menit, bahkan hingga aku duduk di tepi taman air mancur rumah sakit 4 jam kemudian tak pernah ada balasan, mungkin memang sebenarnya aku tak pernah penting, memandangi anak-anak yang sedang sakit bermain di tepi taman, ah seharusnya aku sudah bermain dengan anak-anak seperti itu hari ini.
Dijemput seorang teman yang tak kuduga, aku pulang ke kost, masih dengan perban tebal di janggut, di telapak tangan kiri, dan lutut kanan, jelas aku tak bisa naik motor, luka di telapak tangan yang lebar menyulitkanku menganggam apapun meski telah dibungkus perban, bahkan lutut kanan cukup tidak nyaman dipakaikan celana panjang.
“Darimana kamu tahu, aku minta dijemput?” tanyaku diboncengnya dalam perjalanan pulang saat hari mulai petang, sebuah pertanyaan datar, bahkan terkesan kaku.
“Mas Arjun yang kasih tahu”, jawabnya tak kalah datar.
Tadi memang sengaja aku mengabari mas Arjun, rekanku mengurus usaha pengetikan, tapi terpaksa dia tidak bisa menjemput karena sudah janjian dengan dosennya untuk konsultasi, dia janji mau mencarikan penjemput tapi aku tak pernah meminta maupun menyangka bahwa Citra yang dia percaya untuk menjemputku, dia juga janji akan mengurus motorku yang dititipan di bengkel tak jauh dari lokasiku jatuh.
Citra adalah adik tingkat mas Arjun, dia sering mampir ke kios pengetikan kami, dia adalah sahabat akrab mas Arjun, tiap mampir ke kios dia bisa bawa apa aja, mulai dari susu segar, tahu bacem, bahkan sate kambing. Secara fisik, Citra adalah wanita idaman anak muda masa kini, kulitnya putih bersih, sekilas saja bisa dinilai bahwa dia wanita atletis dan agaknya sedikit tomboy, dia tidak berjilbab sehingga terlihat jelas rambutnya yang hitam tebal, dia tak pernah lepas dari celana jeans elastis ketat dan sneaker warna putih, dia sangat periang dan tak pernah kulihat wajahnya redup, meski lebih sering aku memperlakukannya seperti anak-anak karena kelakuannya yang bawel, dia biasa berbicara serius hanya kepada mas Arjun, karena setiap berbicara denganku selalu aja ku jawab dengan recokan, aku terlalu meremehkan obrolannya yang berkisar antara voli dan bola, sedangkan aku tak pernah tertarik untuk membahas itu, seperti perjalanan pulang malam ini, kami lebih banyak diam, dia nampak serius dan hati-hati sekali menjalankan motornya, dan aku diam saja di belakang, dia masih nampak berkeringat, mungkin tadi baru saja selesai bermain voli.
Setibanya di kost, dia sempat mengantarku ke dalam, dia memang pernah mampir ke kost ini sebelumnya.
“Perlu apa lagi mas?” tanya dia tanpa memandangku
“Nggak ada Tra”, jawabku sambil membenarkan posisi tidur
“Citra menutup kamar kostku, terdengar dia berlari turun, entahlah dia memang tak pernah betah berjalan, dia terbiasa berlari meski terkadang dia menabrak sesuatu pada akhirnya.
“Napa John?” tersembul muka Bimo di balik pintu.
“Boleh juga tuh cewek, siapa namanya?”
“Yaelah To, ditanya gitu aja enggak jawab, uthil”, Bimo jika memanggilku memang lebih memakai To, itu panggilanku sejak kecil, sesaat kemudian pintu kamarku terdengar setengah dibanting, mataku sudah tertutup, aku enggan mengomentari lagi.
Pagi itu mas Arjun dan Citra sudah sampai di kost, mereka bawa bubur ayam, tisu basah, dan cairan pencuci luka warna kuning, ketika aku buka mata mereka sudah asik memainkan laptopku.
“Napa lo boy, lagak lo dah macem Valentino Rossi, eh tepar deh di jalan”, celetuknya saat melihat aku bangun, dia masih asik dengan laptopku, sementara Citra nampak buru-buru masuk kamarku membawa semangkuk bubur ayam.
“Sialan”, jawabku singkat, Citra tertawa kecil.
“Udah makan dulu lah mas”, ucapnya Citra
“Sebentar Tra, aku ke kamar kecil bentar”, aku bangun dan berjalan dengan pincang, kakiku bengkak, tangan kiriku juga bengkak, Citra mengangguk, sepertinya ada wajah khawatir di sana.
Sekembalinya ke kamar, dengan sigap Citra menyuapiku, agak kikuk aku menerima suapan, namun sepertinya Citra santai saja.
“Tuh kan, elu aja disuapin Citra, gue yang tiga tahun berkawan sama doi, nggak pernah tuh disuapin”, celetuk Mas Arjun lagi.
“Yee, itu mah mas Arjun yang ngarep”, sambar Citra mencibir lucu.
Aku hanya tersenyum, mendadak ada rasa syukur berteman dengan mereka, bahkan kali ini aku harus banyak-banyak bersyukur mengenal mereka, Aku kenal mas Arjun secara tak sengaja, saat itu aku sedang mengikuti undangan komunitas pengusaha muda yang mengadakan seminar di sebuah hotel, aku duduk bersebelahan dengan dia, kami pun berkenalan, dari perkenalan itu kami sering bertemu ngobrol di warung hik dan mencari ide-ide usaha yang cukup dirintis dari kantong tabungan kami, dan akhirnya kami memutuskan membuat kios pengetikan di belakang kampusnya, meski baru kenal aku merasa bisa memahami pola pikirnya dan sepertinya dia pun demikian, mas Arjun adalah anak Jakarta yang kuliah di kota ini di fakultas kedokteran, sama dengan Citra, mereka sama-sama calon dokter, bedanya Citra adalah warga Solo asli, sampai saat ini aku tak dapat mengerti sejauh apa persahabatan mereka, berteman saja, atau ada hubungan khusus, mereka tak pernah sedikitpun memberi bocoran cerita, bahkan ketika aku menyindirnya, baik mas Arjun ataupun Citra selalu mengalihkan pembicaraan, padahal di mataku mereka nampak sangat cocok, mas Arjun ganteng dan putih, suka bola dan voli, sama seperti Citra, pokoknya ketika mereka datang ke kios dengan wajah keringatan semua dengan handuk mungil di pundak, mereka sudah seperti pasangan paling kompak sedunia.
“Akk…” Citra menyadarkan lamunanku
“Yaelah, buka mulut aja pake dikasih aba-aba, gue juga mau dong digituin”, celetuk mas Arjun, setengah tersedak aku tertawa.
“Makan noh, sepatu”, Citra menjawab sekenanya.
“Emangnya elu sampe Karanganyar mau ngapain sih Dit? Mau manjat gunung?” tanya Mas Arjun sambil memalingkan wajah melihatku
“Haha, ada deh mas”, jawabku pelit
“Halah palingan galau trus nyari jurang, belum sempat terjun udah nyosor bumi duluan’, celetuknya kurang ajar.
“Sialan, kapan aku galau”, kami pun tertawa, kulempar dia dengan gelas air mineral bekas, dilanjutkan dengan celetukan-celetukan khas mas Arjun dan debat kusir dengan Citra yang selalu saja asik di dengar, terimakasih Tuhan telah kau datangkan mereka dalam kehidupanku.
“Dit, kalo lo ada perlu, lo bisa kontak kita, kita udah sepakat buat ngurusin elo waktu lo tepar kek gini”, pesen Mas Arjun, diikuti acungan jempol Citra
“Oke, makasih ya”, mereka menutup pintu kamar pelan-pelan lalu pergi.
Kusempatkan membuka akun facebook Wita, isinya foto-foto kegiatan di SelaGula kemarin, dia nampak ceria dan bahagia, sayang dia lupa membalas smsku sejak jatuh kemarin, mungkin terlalu banyak orang yang terlibat urusannya, mungkin smsku terlupa diskipnya, ah sudahlah, memang aku bukan siapa-siapa, aku hanya orang yang ingin masuk kedunianya, tapi yang pasti sejak kejadian mengetik malam itu, sejak dia mengingatkanku untuk sholat Qiyamul Lail, aku jadi rajin melakukannya, jika kamu tanya ini hanya modus atau apa, aku kesulitan menjawabnya, bisa dibilang nama Wita jadi rajin ku sebut dalam doa, bisa juga dibilang aku sholat malam karena Wita, tapi aku berusaha keras untuk meluruskan niat, untuk meluruskan sumber semangat, boleh kan aku memulainya dengan cara begini? atau semua ini hanya modusku saja? ah tak peduli apa kata mereka, aku akan tetap melakukannya, persetan alasan aku melakukannya.
Meski terkadang aku berharap dia membalas, ‘Hai mas, ada halangan apa kemarin?’, lalu akan kubalas bahwa ada sedikit musibah, mungkin agar dia akan terharu, tapi memang dia tak pernah menayakan kabar, sudahlah aku tak terlalu strategis baginya, memasang kode di sosial media pun bukan kebiasaanku, aku paling anti membuat status-status curhat atau galau, ku minum obat pagi, lalu kupejamkan lagi mata, hari ini aku tidak masuk kerja.
Sepuluh hari sejak kejadian saya jatuh, hari ini hari minggu, perban di telapak tangan dan lutut sudah dilepas, meski bekas lukanya belum benar-benar kering namun tidak ada radang infeksi di sana, kemarin sudah sepekan aku berangkat kerja dengan menaiki Batik Solo Trans, dan hari ini aku pulang ke Gunung Kidul, menemui bapak ibu yang belum mengetahui kabar kecelakaanku, sampai di rumah ibu kaget seperti melihat setan, anaknya pulang denga janggut dibalut perban, dan pulang tanpa motor.
Kurebahkan badan di Sofa rumah yang mulai terlihat sobek di beberapa tempat, ibu datang mengecek dengan teliti setiap bekas luka.
“Kapan terakhir dicuci?” tanya ibu dengan wajah galak
“Sini, ibu cuci lukamu”, bu menarik kakiku sambil menaikkan ujung celana agar lututku terlihat.
“Sudahlah bu, ini nggak apa-apa, nggak infeksi pula kan”, aku ngeyel, sesungguhnya aku malas berperih-perih ketika luka dibersihkan.
“Nggak apa-apa sekarang, makanya dicuci biar besok nggak kenapa-napa”, ibu melotot, aku pasrah, disiramnya lutut dengan sebotol rivanol, cairan warna kuning itu memenuhi lutut kanan ku, di bawahnya sebuah wadah besar siap menerima sisa-sisa rivanol, dengan tisue yang telah diberi antiseptik dipakainya untuk membersihkan sisa-sisa cairan kuning itu, rasanya sejuk, kadang aku meringis saat ibu tak sengaja menekan bagian yang luka.
“Tuh kan sakit? itu bisa bengkak kalau dibiarin, bisa infeksi”, ibu mulai ceramah, ibu juga melanjutkan mencuci telapak tanganku, sedangkan bagian janggut ibu membiarkan.
Itulah ibu, meski riwayat pendidikannya rendah namun keterampilannya, kerapihannya, dan keuptodateannya luar biasa, beliau bawel namun sangat care, dan aku sangat mensyukuri memiliki orang tua seperti beliau, bahkan kadang aku mikir jika ditanya kriteria calon istri, aku nggak bisa menjawabnya kecuali menjawab orangnya seperti ibuku ini, berbeda dengan bapak yang sering pura-pura cuek namun diam-diam merhatiin, ibu orangnya sangat spontan, jadi bagi orang baru akan mudah tersinggung jika berbicara dengan ibu, namun semakin mengenalnya akan justru menjadi merasa aman.
“Kamu kerja di Solo, ngapain bisa jatuh di Karanganyar?” tanya ibu masih dengan nada galak.
“Tuh pak lihat anakmu ini, ditanya malah senyam senyum”, omel ibu, yang di ajak ngomong sepertinya acuh dan lebih asik menonton acara berita politik di tivi.
“Ngapain sampai sana?” ulangnya, ‘huh kirain dah abai’ pikirku.
“Ngejar cewek buk”, jawabku membuka mata melihat reaksinya, tak kusangka bapak malah jadi berbalik wajah melihatku, sial malah jadi pada merhatiin.
“Emang itu cewek nang ndi kok pakai acara dikejar?”, tanya ibu sambil mijitin pundakku.
“Ono lah”, jawabku singkat.
Dan sore itu tersebarlah kabar ke se-RT kalo saya kecelakaan karena mengejar cewek, ingin rasanya teriak ‘Ibuuuuuuuu….., napa tetangga jadi pada tauuu???’, pelajaran penting, hati hati berbagi clue kepada ibu.
Seperti biasanya malam tahun baru, aku selalu menghabiskannya di kampung halamanku Wonosari Gunung Kidul, berpesta bakpia bersama keponakan, membeli beberapa kembang api yang dinyalakan bukan tepat pada jam pergantian tahun, namun jam 8 malam sudah kami nyalakan dengan suara lumayan mengelegar, krocil-krocil berteriak kegirangan, berloncat-lancat, sampai semua bunyi lontaran kembang api habis, krocilku kembar 2 bersaudara, namanya Hassan dan Husein, kami bertiga akhirnya duduk di halaman rumah.
“Mau tahu enggak apa yang Om lakuin tiap tahun baru?” tanyaku pada mereka, dan mereka masih fokus pada sisa-sisa batang kembang api yang masih hangat.
“Hei, ditanya Om malah…”, kataku sambil mencolek pipi mereka, Tapi mereka masih aja asik berdebat tentang kembang api.
“Woiiii….. kalian dengerin Om”, ucapku sambil melotot ke mereka, mereka akhirnya memandangku tanpa berucap sepatah katapun.
“Kalian mau tahu tidak, apa yang Om lakuin tiap tahun baru?” ulangku, mereka kembali malas-malasan, dan seperti bicara sendiri-sendiri, aku cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala.
“Baiklah, siapa yang mau Om nyalain kembang api lagi?”, tanyaku terpaksa
“Akuuuu Ommm… Akuuuu”, mereka menjawab berebutan, aku melongos.
“Tapi sebelumnya, om mau cerita, kamu mau tahu enggak apa yang Om lakuin tiap tahu baru?” tanyaku lagi.
“Nggak tahu, kamu tahu San?” jawab Husein, sedangkan Hassan cuma geleng kepala.
“Ya udah sini om ceritain”, ku rangkul mereka, hasan yang badannya agak kecil duduk di pangkuanku, sedangkan Husein memelukku dari bekang.
“Tahun baru itu bukan hal biasa, disana tempat kita mengukur jarak kita berjalan, kelak kalau kalian udah besar kalian akan tahu, kemajuan hidup kita diukur dengan tahun, jadi Om bakal ingat-ingat apa saja yang tidak tercapai di tahun ini, agar diselesaikan di tahun nanti, disitu juga kita rencanakan target apa yang diselesaikan tahun depan, jika tidak ada pergantian tahun kita tidak pernah tahu cepat atau lambatnya jalan menuju mimpi” jelasku dan mereka nampaknya tak terlalu paham apa yang aku bicarakan
“kamu lihat bintang di atas itu,” mereka mendongak ke atas.
“Jarak dari sini ke bintang itu dihitung dengan satuan tahun cahaya, suatu hari nanti kalian akan tahu, bahwa satu tahun cahaya itu sangatlah jauh, disitulah kalian akan mengerti bahwa satu tahun itu sangatlah pendek, dan kalian akan sadar bahwa kecepatan cahaya itu melesat sangatlah cepat, kalian nanti di waktu SMP dan SMA akan tahu bahwa kita kecil, tapi mimpi kita harus sejauh bintang, karena satu tahun itu pendek, maka kalian harus bergerak secepat cahaya, kalian harus berlari mengejar cahaya itu sayang, karena saat ini tak ada yang bisa mengalahkan kecepatannya, Satu tahun Cahaya itu sama dengan 10 triliun kilometer, bisa seumur hidup kamu meluncur mencapainya, kamu tak akan pernah sampai, tapi lebih baik kamu meluncur, karena semua orang itu harus bergerak mengikuti zaman, dan semakin cepat langkahmu, kamu ada bagian dari penggerak perubahan”, ucapku berapi api, kulihat mereka, mereka sudah terlelap, fuhh mereka mungkin sedang memikirkan kembang api daripada memikirkan imajinasi Omnya yang terlampau fisika, kucium dahi mereka, ‘Selamat Tahun Baru Sayang’ ucapku, kugendong Husein di belakang dan kubopong Hassan di depan, ku bawa masuk ke rumah, kubaringkan di kamar mereka.
‘Mbak Wita, lagi di SelaGula enggak?’ smsku ke Wita, ini sms perdanaku semenjak smsku yang tak terbalas waktu jatuh kemarin.
‘Iya mas, yuk ke sini’, balasnya
‘Oke’, balasku tak kalah datar
‘Asik, ditunggu mas’, jawabnya lagi.
Mendadak aku jadi bersemangat untuk ke SelaGula, menemuinya, hari ini hari sabtu, ku pastikan lagi di depan cermin, bahwa bekas lukaku tak lagi terlalu nampak, kanya saja jika memang diperhatiin seksama nampak bekas jahitan, tapi sepertinya Wita belum mengenaliku sedetail itu, luka di telapak tangan dan lutut udah mengering, meski telapak tangan terkadang masih terasa nyeri tapi kupikir itu hal yang biasa, yang penting sudah bisa dipakai untuk mengendarai motor, kucantolkan buku-buku yang sudah kumasukkan di kantong plastik, memakai helm baru dan sarung tangan baru, karena helm dan sarung tangan yang kemarin sudah baret-baret parah dan sobek.
Sore itu, santai kukendarai motorku menaiki jalur berkelok dan naik turun di Ngargoyoso, menikmati sejuknya udara lereng gunung lawu, memasuki kawasan kebun teh, kubelokkan ke gang sesuai petunjuk Wita, melintasi jalan setapak, lalu nampaklah sebuah rumah kecil di tengah perkebunan sayur, dimana puluhan bocah sedang bermain membentuk posisi melingkar, Wita dengan baju putih dan jilbab merah nampak berdiri di tengah-tengah, menggerak-gerakkan kedua tangannya tangkas, sesekali wajahnya menunduk ke salah satu bocah lalu memberikan sesuatu kepadanya, Memandangnya adalah sebuah hiburan tak terhingga, hatiku luruh mendengar suaranya yang rancak dan suara bocah-bocah yang berjeritan.
“Hai kalian, coba tebak siapa itu yang datang”, spontan Wita yang sebelumnya asik bermain, menunjuk ke arahku, diikuti arah pandang bocah-bocah mengarah kepadaku semua, aku grogi luar biasa.
“Itu namanya kak Dito, ayo disapa kak Ditonya” umbuhnya lagi.
“SELAMAT DATANG KAK DITO DI SEKOLAH ALAM GUNUNG LAWU”, suaranya serentak berteriak, aku speechless, aku hanya bisa tersenyum.
“Lihat adik-adik, kak Dito bawa apaan itu?” Wita nampak semakin bersemangat membuatku rikuh, rikuh dengan perhatian bocah-bocah ini, rikuh dengan buku lima biji yang hanya seplastik saja, itupun bukunya lecet-lecet karena kecelakaan kemarin, bocah-bocah ini berlarian mengerubungiku, dan berhasil mengambil buku-buku yang ku bawa.
“Ini mbak, buku”, jawab mereka, sambil beberapa mengacungkan buku yang mereka rebut.
“Bilang apa sama mas Dito?” ucap Wita lagi
“TERIMAKASIH MAS DITO”, kali ini mereka teriak kencang di dekatku, rasanya seperti mau copot gendang telinga, Wita menghampiriku.
“Gimana mas, susah ya jalannya?” tanya Wita membuka obrolan.
“Hehe biasa aja kok”, jawabku
“Adik-adik, main dulu ya, Kak Wita mau ngenalin mas Dito dulu dengan sekolah alam kalian, Oke?” Wita berpamitan berhenti bermain
“OKE MBAK”, jawab mereka kurang kompak.
“Jadi ya inilah SelaGula yang aku bilang itu mas, tepatnya sih bukan sekolah formal, hanya sebuah rumah singgah di tengah perkampungan, dulu aku menemukannya waktu KKN dan aku langsung jatuh cinta dengan kampung ini, Adik-adiknya ramah dan mereka potensial untuk menjadi pemuda dan pemimpin masa depan, aku yakin itu mas, nah kegiatan kita di sini ya bermain, belajar, berpetualangan, membaca bersama, membuat roket air bersama, dan lain-lain, nah ini kita juga mau bikin perpustakaan, itu sudah bikin satu rak dan ini ada beberapa sumbangan buku dari teman-teman” jelas Wita panjang lebar sambil menunjuk beberapa kardus yang kemungkinan besar berisi buku, aku jadi merasa payah kesini cuma bawa buku lima, sesungguhnya aku takjub, Jika Wita jatuh cinta dengan tempat ini, aku pun merasakan demikian, suara air yang mengalir, udara yang sejuk, dan lingkungan yang hijau dan berbukit jelas merupakan lingkungan yang aku idamkan.
Wita tak pernah menanyakan penghalangku saat kemarin aku tak jadi datang, dia juga tak melihat luka di janggut ataupun di telapak tanganku, dia tak pernah nampak memperhatikannya, dia tak pernah nampak menyadarinya, ah mungkin dia memang tak merasa perlu mempedulikannya.
Kuhampiri bocah-bocah yang sedang asik bermain lompat tali.
“Sekar Kak”, jawabnya mantap, dia adalah salah satu bocah paling imut dan paling ceria di tengah puluhan bocah-bocah ini, hari mulai sore, Wita akan menginap di SelaGula sambil menemani bocah-bocah ini belajar, aku ijin pamit kepada mereka juga pada Wita, mereka memandangku hingga aku menjalankan motorku, aku sangat menyukai hari ini, aku akan sering-sering ke sini, sampai jumpa Sekar dan kawan-kawan.