Jawaban dari pertanyaan itu memang cuma ya dan tidak. Tetapi di balik setiap “ya” dan setiap “tidak” dari orang yang menjawab, pasti didasari oleh alasan-alasan. Alasan inilah yang seharusnya kita apresiasi sebagai sesama individu, bahwa tiap individu memang memiliki pemikiran, persepsi, dan nilai-nilai yang mereka yakini. Sampai pada tahap ini lah kita tidak boleh memaksakan kehendak kita sebagai sebuah individu ke individu lain.
Menurut saya sendiri, basa-basi masih sangat diperlukan. Memang, kontekstual, tetapi justru konteks tersebutlah yang menjadikan basa-basi bisa amat sangat diperlukan atau tidak sama sekali. Mari kita bahas konteksnya dari yang tidak perlu-perlu amat, sampai ke yang wajib harus perlu:
1) Menjawab UAS esai, dan/atau menulis dalam ranah ilmiah, kita sama sekali tidak perlu berbasa-basi untuk keperluan ini. Kita cuma perlu argumentasi pengantar menuju poin utama yang ingin kita kemukakan. Argumentasi pengantar tidak sama dengan basa-basi. Dalam dunia akademis, hanya pendapat yang sudah teruji kebenarannya yang bisa menjadi argumentasi pengantar, dan pengujian kebenaran ini tidak main-main prosedurnya. Argumentasi pengantar ini juga berperan penting untuk membawa kita menuju poin utama yang ingin kita sampaikan dalam setiap naskah akademik kita, karena dengan adanya argumentasi yang telah teruji tersebut kita jadi punya semacam support system yang mengabsahkan tulisan kita.
2) Bertemu orang baru, kalau kamu suka berjejaring, membuat relasi, dan ingin punya banyak teman dan/atau sekedar kenalan, basa-basi menjadi poin penting untuk bisa mengantarkan kamu memenuhi kepentingan-kepentinganmu. Tapi kalau memang kamu sudah nyaman dengan dirimu sendiri apa adanya, merasa bahwa peran orang baru tidak akan membawa perubahan signifikan terhadap hidupmu, atau simply karena tidak suka berbagi dengan orang lain mengenai dirimu, ya sudah, tidak usahlah repot-repot berbasa-basi. Toh, kamu tetap bisa hidup nyaman tanpa mereka.
3) Berinteraksi dengan bapak/ibu kos, kalo kamu termasuk suka menunggak tagihan, berbaik-baiklah dengan yang kamu hutangi. Basa-basi menjadi top of the list to survive. Tanpa berbasa-basi dan berbaik-baik, segera kemasi saja barang-barangmu dan/atau cari pinjaman kepada yang kira-kira bisa kamu pinjami untuk membayar kos. Tapi, meminjam pun perlu berbasa-basi.
4) Meminta tolong kepada orang lain, sebenarnya poin ini adalah inti dari seluruh post ini. Saya sebenarnya ingin menyampaikan bahwa basa-basi masih sangat diperlukan ketika kita hendak meminta pertolongan dari orang lain. Um, pertolongannya tentunya bukan yang darurat, ya. Nggak boleh, tuh, kita secara tiba-tiba menghubungi orang lalu tanpa menjelaskan permasalahan yang kita punya secara runut, tiba-tiba kita minta tolong ke orang tersebut. Nggak ada yang ngelarang, memang, tapi kalau kamu peduli dengan perasaan orang lain dan tidak ingin terlihat sebagai orang yang disrespectful, maka berbasa-basi menjadi appetizer yang wajib kamu suguhkan ke orang yang mau kamu mintai tolong, sebelum kamu menyajikan main course, which is your main point exactly when you contact them from the first place. Ketika kita mengharap bantuan dari orang lain, dan kita sudah dengan berani menghubungi mereka, maka sebenarnya pada detik itu juga berlaku sistem server-client. Kamu jadi server-nya, dan sebagai server maka kamu pasti mengharapkan feedback yang baik dari client. Feedback di sini berarti adalah uluran tangan mereka. Ingat! Kamu (server) butuh pertolongan, orang yang kamu mau mintai tolong (client) adalah yang kamu harapkan mau menolongmu, dan respon mereka adalah feedback yang pastinya kamu maunya mendapat yang positif. Lalu, bagaimana agar kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan?
Dosen saya pernah bilang: dalam dunia kerja, tiap pekerjaan itu mudah, asalkan kita mengerti esensi utama kita berada di tempat tersebut. Esensi ini sama bagi seluruh orang yang bekerja, cuma satu.
Saya yang penasaran, selayaknya orang-orang penasaran lainnya, bertanya: apa itu, Pak?
Lalu dosen saya menjawab singkat pertanyaan saya tersebut: melayani.
Me.la.yani., menurut KBBI artinya adalah: v membantu menyiapkan (mengurus) apa-apa yang diperlukan seseorang; meladeni.
Banyak orang sekarang lupa, bahwa orang lain harus senang dengan keberadaan kita agar kita bisa diterima. Banyak orang sekarang hanya fokus pada kebahagiaan dirinya sendiri. Banyak orang sekarang bila tidak bahagia, dia merasa harus mencari tempat lain yang bisa membuatnya bahagia, alih-alih berusaha membuat kebahagiaan tersebut. Melayani, bisa jadi adalah kunci kebahagiaan.
Kembali ke topik basa-basi, let’s put it this way. Ketika kamu berharap orang lain akan melakukan sesuatu untukmu, bukankah seharusnya kamu memberikan orang tersebut trigger terlebih dahulu agar dia mau melakukan apapun itu yang kamu butuhkan? Bentuknya bisa macam-macam: kamu bisa meyakinkan dia bahwa dialah satu-satunya yang bisa kamu andalkan, atau kamu memberitahukan bahwa kalau dia melakukan itu maka dia akan mendapatkan manfaat, atau yang paling sederhana, kamu tunjukkan bahwa kamu percaya dia untuk menolongmu dengan cara menceritakan ceritamu sampai-sampai kamu berada dalam posisi butuh pertolongan. Apa persamaan dari semua itu? Ber-ba-gi. Fair, dong, kalau kamu ingin dia meluangkan waktu atau tenaga atau pikirannya untukmu, kamu juga harus memberikan sesuatu ke dia, setidak-tidaknya adalah ceritamu.
Intinya, kalau mau minta tolong ke orang lain, jangan pernah menempatkan dia sebagai orang yang sudah seharusnya memberikan pertolongan kepadamu, apapun alasan pembenaranmu. Tidak peduli dia temanmu, sahabatmu, saudaramu, bahkan orang tuamu. Tidak ada seorangpun di kehidupan kita yang bisa kamu perlakukan seperti itu. Masih ingat pelajaran di sekolah dasar bahwa manusia adalah makhluk sosial? Ingat? Bagus. Masih ingatkah juga apa yang membuat manusia menjadi makhluk sosial? Iya, berbagi.