Aku paling suka cuci piring. Sukaaaaaaa sekali! Suka kalau cucian piringnya banyak. Tapi kalau cuma satu atau dua malah biasanya aku biarin wkwk.
Kenapa?
Disaat mencuci piring ada banyak hal yang menyenangkan.
Berkeliling rumah sambil mengumpulkan gelas yang kotor, kemudian dikumpulkan disatu bagian. Membuang sisa makanan pada piring, kemudian menumpuk piring kotor di satu bagian. Tidak lupa mengumpulkan sendok dan garpu kotor.
Setelah semua sudah tersusun dan terkelompok, sekarang saatnya menikmati sabun dan sabut yang bersatu menjadi balon-balon busa. Halah. Oh iya, aku kalau nyuci piring gak pakai spons. Tapi pakai sabut……..apa ya…ga sabut juga sih. Jadi kayak jaring-jaring nelayan, atau kayak tali kusut. Yaudah, skip aja ya.
Mulai dari gelas-gelas dulu. Mencuci bibir gelas lalu ke dasar gelas agak memerlukan keterampilan dan ketangkasan. Entah apa keterampilannya, tapi…butuh aja pasti.
Kemudian piring-piring. Gerakan memutar di bagian dalam piring kemudian di punggung dan ujung piring seperti sedang menari. Menumpuk piring yang sudah tak bernoda diganti busa sungguh sangat menyenangkan.
Lalu giliran sendok dan garpu. Aku suka bunyi sendok dan garpu yang saling beradu. Bergemerincing.
Sekarang saatnya kran diputar, air mengalir. Momen basuh membasuh juga menjadi penenang jiwa.
Bersentuhan dengan air.
Oh, puncaknya?
Menyusun piring, gelas, sendok, garpu dan teman-temannya di rak.
Terakhir, membersihkan wastafel.
GAK PENTING YHA.
But i really need to write about it. Kesenanganku pada mencuci piring. Makanya aku kalau nyuci piring agak lama. Pekerjaan rumah paling aku suka.
Berapa banyak di antara kita semua yang berpikir bahwa akan sangat menyenangkan bisa bekerja sesuai di bidang yang kita senangi? Berapa banyak dari kita yang berpikir bahwa orang-orang yang bekerja sesuai dengan passion-nya adalah orang yang beruntung? Atau berapa banyak dari kita yang berkeinginan bekerja berdasarkan hobi?
Let me tell you something, you’d better not!
Kenapa?
Normalnya, bekerja adalah tuntutan. Bekerja bukanlah sesuatu yang kita lakukan dengan sukarela. Kita bekerja karena memang harus bekerja, karena butuh atau ingin imbalannya. Kita bekerja untuk bertahan hidup.
Kalau ada tuntutan, berarti ada pihak yang harus dipenuhi syarat kepuasannya. Bisa jadi bos, bisa jadi klien, bisa jadi pasar/konsumen. Memenuhi tingkat kepuasan orang lain tidak pernah mudah. Revisi, koreksi, bahkan inovasi adalah santapan sehari-hari. Tidak jarang ada miskomunikasi antara kita dengan pihak yang harus dipuaskan, sehingga pekerjaan kita bisa jadi sama sekali tidak berarti. Tidak jarang juga, kita kehabisan akal dalam berusaha memenuhi keinginan mereka. Sampai pada titik ini biasanya kita mulai masuk di tahap yang orang sebut sebagai stres.
Stres tidak pernah baik untuk pekerjaan kita, Kawan. Stres akan membuat kita cranky, sensitif, hilang fokus, dan tidak produktif. Stres adalah kondisi di mana kondisi diri kita tidak seimbang. Oleh karenanya, kita perlu menyeimbangkan lagi diri kita. Mengutip SOP petugas SPBU milik perusahaan tambang minyak BUMN, “mulai dari nol”. Betul, kita harus kembali ke titik nol. Titik seimbang yang bisa mengembalikan semangat kita dalam melakukan sesuatu, agar kita bisa kembali fokus dan produktif.
Bagaimana cara memulai dari nol?
Di sinilah premis awal tulisan ini sampai pada ranah praktikal. Tiap orang punya cara sendiri untuk mengembalikan keseimbangan diri. Ada yang repot, ada yang sederhana, ada yang penuh tuntutan. Tapi kalau diperhatikan, menurut saya ada benang merah dari usaha-usaha yang dilakukan tiap orang untuk mengembalikan dirinya pada titik nol. Betul, benang merah itu adalah melakukan kegiatan yang disenangi atau hobi.
Sekarang coba bayangkan, kalau kita menjadikan hobi sebagai sumber penghidupan, ketika kita stres mau ke mana kita pergi?
“Kalau ngerjain hobi, kan nggak mungkin stres,” oh, Kawan, entah kamu terlalu naif atau sedang membohongi diri sendiri. Tapi ijinkan saya menyampaikan satu hal:
Kalau kamu pernah dengar “do what you love, then you’ll never have to work the rest of your life”, itu hanyalah salah satu ucapan motivator yang mungkin sebetulnya juga tidak mengerjakan apa yang mereka cintai. Dalam beberapa kesempatan, itu bahkan tidak lebih dari sekadar lip service untuk menyenangkan audiens. Orang Jawa punya istilah untuk ini: manis-manis lambe. Yang perlu kita ketahui adalah, ada perbedaan yang cukup jelas antara do what we love dan love what we do.
Doing what we love is a privilege, yang tidak semua orang bisa dapatkan. Maka, beruntunglah kalau kalian memang betul-betul bisa mengerjakan apa yang kalian cintai. Meskipun ini berarti kalian juga harus mencari kesenangan lain yang bisa dijadikan pelarian ketika sedang stres.
Di sisi lain, loving what we do is a compromise, yang kebanyakan orang terpaksa harus lakukan. Nggak semua keterpaksaan itu berakhir dengan frustrasi atau depresi, kok. Ada juga yang cukup persisten sehingga betul-betul menemukan kenikmatan setelah menjalani keterpaksaan. Pada akhirnya, menurut saya orang-orang ini sangatlah beruntung.
Terakhir, saya mau berbagi satu falsafah yang sangat umum dianut oleh orang Barat: don’t mix business with pleasure. Falsafah itu mengamanatkan untuk betul-betul tidak mencampuradukkan pekerjaan dengan kesenangan. Oleh karena itu, mereka menjadi sebuah tatanan masyarakat yang bisa membedakan hubungan bisnis dan personal. Pembicaraan bisnis dan personal. Permasalahan bisnis dan personal.
Mungkin inilah sebab mereka sangat bisa menegaskan batas antara rekan dan kawan. Bahkan, jika mereka menjalin rekanan dengan kawan sendiri, biasanya persoalan bisnis tidak boleh sampai merusak ikatan personal yang telah terjalin sebelumnya. Dampak lebih jauhnya? Mereka nggak gampang baper.
Dari falsafah orang Barat itu, kita bisa menyimpulkan satu hal:
Kerja ya kerja, aja. Jangan dicampuradukkan dengan kesenangan pribadi. Kalau mau bersenang-senang, jangan ketika kerja. Tapi, kalau bisa menemukan kesenangan dalam bekerja, tentunya itu amat jauh lebih bak. Persis sebagaimana mendiang founder Apple, Inc. pernah berwasiat:
Sumber gambar: https://www.linkedin.com/pulse/loving-what-you-do-crucial-success-katrina-sawa/
Aku bukan siapa-siapa, sih, nggak berprestasi, nggak ada pula yang bisa dibanggakan. Setidaknya menurutku. Hanya saja, aku agak lebih cerewet dan pede dibanding teman-teman sekelilingku. Cerewet mengomentari ini itu, mengkritik sana sini, mengargumentasikan apa saja. Sampai pada hari ini, 23 Agustus 2017, tiba masa wisudaku.
Aku bukan wisudawan terbaik, bukan pula tercepat, apalagi termuda. Aku nggak dapat privilege untuk memberi sambutan mewakili siapapun. Tetapi sehari sebelum wisuda, aku dihubungi salah satu adik tingkat, pengurus himpunan mahasiswa jurusanku. Dia memintaku untuk memberi sepatah-dua patah kata sewaktu acara penyambutan wisudawan-wisudawati oleh HMGP (Himpunan Mahasiswa Geografi Pembangunan). Acaranya informal, tanpa perwakilan dosen, tanpa undangan, tanpa orang tua, hanya antara kakak tingkat dan adik tingkat, dan aku dimintai tolong untuk memberikan wejangan. Akhirnya, aku iyakan saja permintaannya, “Mungkin tidak ada salahnya berbagi dengan adik-adik jurusan,” pikirku. Wagu? Mungkin. Mungkin juga tidak. Kenapa? Coba lihat dulu wejangan-ku berikut ini.
Pertama saya ingin mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada teman-teman HMGP untuk sambutannya yang sangat meriah. Saya angkatan 2012, menargetkan lulus di November 2016. Tetapi kalau saya wisuda di November 2016, maka saya tidak akan memperoleh sambutan semeriah ini, maka saya menunda kelulusan saya sampai hari ini.
Momen ini sangat membahagiakan, tentu saja. Setiap kalian pasti mendambakan sampai pada tahap ini. Tapi satu hal yang perlu benar-benar diingat, perjalanan sampai sini sungguh tidak berat, kalau kalian persisten dan konsisten. Sering kali, bagian tersulit dalam sebuah perjalanan adalah menjaga konsistensi. Kadang kita melambat, jarang kita mempercepat, sering kita terlena akan indahnya pemandangan di sekitar. Tidak apa-apa, nikmati saja prosesnya.
Tahap sebelum wisuda ini adalah salah satu tahap paling krusial, setidaknya bagi saya personal. Selama proses penyusunan skripsi, mungkin saja kalian akan menghadapi musuh terbesar dalam setiap pertarungan untuk pertama kalinya: ialah diri sendiri. Menyadari bahwa kita sedang bertarung dengan diri sendiri amatlah penting, karena hanya dengan begitu kita jadi bisa tahu, lebih mengenal diri sendiri: kita bisa semakin tahu apa yang benar-benar kita senangi, apa yang tidak kita sukai, apa yang kita inginkan, apa yang bisa menghambat laju kita, apa yang bisa mempercepat kita. Selama tahap ini, kita bisa bertemu dengan diri kita sendiri. Saya rasa, ini penting dalam proses penyusunan skripsi.
Kalau kalian nanti dalam penyusunan skripsi tidak merasa begitu berat, tidak merasa sedang bertarung dengan diri sendiri, tapi ternyata kalian tetap bisa menyelesaikan dan lulus cepat, bagus! Tapi saya rasa, tidak ada tahap yang lebih baik untuk bisa bertemu dan mengenali diri sendiri, selain dari pada selama masa perkuliahan. Mengingat di saat-saat ini, kalian punya kekuasaan penuh akan diri kalian: kalian bisa memilih untuk menjadi pribadi yang amat baik ataupun amat br*ngs*k. Itu benar-benar pilihan kalian. Silakan saja. Hanya saja, perlu diingat, kalau kalian tidak suka dihakimi oleh orang lain, jangan pernah menghakimi pilihan orang lain!
Mengenai durasi kelulusan, saya sepakat dengan salah seorang teman yang pernah berkata: “Lulus itu kayak lahir, tidak ada jaminan bahwa yang lahir lebih dulu bisa menjadi lebih sukses dari pada yang lahir belakangan. Nggak ada jaminan!” Saya tahu kalian terbebani dengan administrasi UKT dan lain sebagainya. Untuk itu, saya tidak menyarankan kalian untuk menunda lulus. Tetapi saya tetap percaya, bahwa waktu lulus paling tepat adalah ketika kita sudah betul-betul bertemu dan mengenal diri kita seperti tadi saya ungkapkan. Semoga saja, kalian bisa lulus tanpa harus memasuki semester sembilan. Semoga saja, sebelum semester sembilan kalian sudah bisa lulus sekaligus telah berhasil bertemu dan kenal dengan diri kalian sendiri. Karena kalau belum, proses pencarian jati diri di jenjang selanjutnya tentu akan lebih berat.
Terakhir, saya mau berbagi keresahan personal tentang jurusan kita. Kalian teman-teman yang masih berada pada tahun pertama dan tahun ke-dua, mungkin saja masih berorientasi bahwa seusainya menempuh pendidikan di sini, kalian kelak akan menjadi seorang regional planner, itu sah saja. Tetapi itu tidak seratus persen tepat, karena menurut saya, terminologi perencana itu sebenarnya lebih melekat pada teman-teman kita di fakultas sebelah. Kalau kita memang mau menyetarakan diri dan menyebut diri kita sebagai seorang perencana wilayah, pastikan kita benar-benar mengetahui apa yang mereka pelajari selama ini. Pastikan kita memiliki kapabilitas, kapasitas, dan kualifikasi yang setara dengan mereka, pastikan kita bisa melakukan yang mereka bisa lakukan. Tetapi, menurut saya, satu yang tidak boleh kita lupakan adalah bahwa walaupun kita sering berorientasi menjadi seorang perencana, latar belakang kita adalah geografi. Oleh karena itu, teruntuk teman-teman yang masih berada di tahun-tahun awal, pesan saya satu: jangan pernah mengesampingkan mata kuliah dasar tentang geografi!
Dulu, di tahun ke-empat, ketika saya bercengkerama dengan teman-teman prodi sebelah di fakultas ini, saya sering merasa bahwa kapasitas saya sebagai mahasiswa geografi sama sekali tidak setara dengan kapasitas mereka. Untuk teman-teman tingkat tiga atau empat, coba sesekali refleksikan diri kalian terkait kapasitas kegeografian kalian sendiri. Sudah seberapa baik pemahaman tentang geomorfologi, bentuk lahan, hidrologi, tanah, dan lain sebagainya? Sudah seberapa mahir kita mengolah dan menginterpretasikan citra satelit, membuat peta sesuai dengan kaidah kartografis, melakukan survei lapangan dengan alat-alat survei seperti theodolite, GPS geodetik, dan mengoperasikan drone? Kalau ternyata kita memang masih belum terbiasa dengan kajian-kajian dan kegiatan-kegiatan seputar kegeografian seperti itu, mari tanyakan kembali ke diri kita, perencanaan wilayah seperti apa yang ingin kita buat?
Teman-teman, ada banyak sekali sekolah perencanaan di luar sana. Lulusannya jauh lebih banyak lagi, dan mereka menyandang status sebagai perencana karena memang diberikan ilmu-ilmu yang sesuai dan mendukung. Jumlah mereka yang banyak membuat perspektif dan topik-topik kajiannya lebih banyak dipahami dan lebih banyak orang yang familiar. Lalu, pertanyaan yang harus kita jawab adalah, di mana posisi saya dengan ilmu ini?
Sampai di sini, saya ingin mengutip ucapan salah seorang panutan pribadi saya, dan ini berlaku untuk berkarya, berbisnis, dan bekerja:
Sedikit lebih beda lebih baik dari pada sedikit lebih baik.
Dengan belajar di sini, kita sudah mendapatkan keunikan. Kita memiliki modal sedikit lebih beda tersebut. Selanjutnya, adalah tugas kita menjadikan modal keunikan yang kita miliki tersebut untuk membuat diri kita menjadi sedikit lebih baik dari pada kebanyakan orang di luar sana.
Sekian yang dapat saya sampaikan, semoga ada yang bisa diambil manfaatnya. Terima kasih, wassalamualalikum wr. wb.
Hari-hari Terakhir di Jogja #5 [Melting Pot Yogyakarta]
Sabtu, 19 Agustus 2017.
Masuk ke lingkungan baru bagi orang introvert sama susahnya keluar dari zona nyaman bagi kebanyakan orang. Hari itu, untuk pertama kalinya gue memberanikan diri dateng ke sebuah event yang nggak gue banget. Gue (kayaknya) bukan introvert, hanya saja hampir setiap millenial pasti setuju bahwa mendatangi sebuah acara terbuka seorang diri itu dibutuhkan keberanian dan kemauan yang besar. Karena bagi (kebanyakan) millenial, lebih mudah memulai segala macam bentuk hubungan dengan orang baru melalui media perantara dibandingkan langsung ketemu. Mending kalau satu lawan satu, lah kalo satu orang lawan satu komunitas, pasti lebih banyak yang jiper duluan dan ujungnya nggak jadi berangkat aja. Wait, am I judging, making assumption, and generalizing here?
Event yang gue datangi adalah semacam book charity. Gue sendiri nggak terlalu interested nor care about the event, motivasi utama gue dateng ke situ pengen nonton teman nge-gig di lokasi acaranya. Ndilalah, acaranya berlokasi di warung kopi. Jadi, gue punya tiga lapis alasan datang untuk datang: (1) nonton teman, (2) nyumbang buku, dan (3) nambah referensi tempat ngopi.
Biasanya, ketika datang ke suatu acara asing di tempat yang belum pernah gue datangi, gue ngerem ekspektasi serendah mungkin. Gue nggak berharap acaranya menyenangkan, tempatnya asik, ataupun makanan/minumannya enak. Udah se-terbiasa itu gue mencegah kekecewaan. Jadi, walaupun ada tiga, tetap alasan nomor satu yang gue andalkan.
Turned out that Saturday was my lucky day!
Gue sampai di lokasi acara kecepetan wkwk. Padahal, pengumuman di IG acaranya mulai jam 3, gue sengaja menunda keberangkatan setengah jam dan sampai di lokasi jam 4. Eh, pas sampai sana panitianya juga masih siap-siap. Teman gue? Belom dateng doong! Tapi ya okelah, I didn’t mind at all. Setelah gue nanya ke salah satu panitianya, gue kasih buku yang udah niat gue sumbangin. Setelah itu, sebagai reward, gue boleh minta dibuatkan sketsa wajah oleh komunitas yang bekerja sama dengan panitia book charity-nya. Orang yang ngegambar sketsa wajah gue namanya Vanya, mahasiswi ISI tingkat akhir yang tinggal tunggu wisuda. Vanya ambil jurusan DKV. Yoi, Vanya njawab semua pertanyaan gue itu sambil ngelukis. Goks! Hasilnya? Gue sih suka, meskipun pas malamnya gue pamerin sketch itu ke Anggun, dia bilang nggak mirip wkwk.
Foto 1: Sketsa wajah gue yang digambar oleh Vanya.
Waktu gue lagi konsenterasi menjadi model still live-nya Vanya, teman gue datang. Ow, gue belum sebut namanya, ya. Perkenalkan dulu, nama teman gue yang gue ingin tonton aksi gig-nya adalah Vina. Doi bertalenta dalam seni, utamanya nyanyi dan nulis. Ga punya Instagram karena sedang di-deactivate, tapi kalau lagi aktif nama IG-nya adalah @vinafm. Doi juga punya akun IG khusus untuk menuangkan puisi-puisinya. Anyway, setelah dia sampai, dia siap-siap di spot-nya. Sketch gue selesai bersamaan dengan Vina siap memulai lagu pertamanya. Tapi gue sempet-sempetnya nyamperin doi dulu buat pamerin hasil sketch wkwk. Gara-gara gigs-nya Vina sore itu, gue jadi kenal sama satu lagu yang sepulangnya dari sana, gue download lagunya di Spotify dan Joox dan kemudian gue “repeat one song” sampai nggak terhitung. Lagu apa? Aku Milikmu-nya Dewa 19. Gue terlambat kenal! Terakhir gue terlambat kenal lagu tuh Adelaide Sky-nya Adhitia Sofyan yang dirilis tahun 2009 dan gue baru tau tahun 2016. Tujuh tahun dong telatnya. Eh lagunya Dewa 19 yang satu ini… 23 tahun coy! Gue jadi teringat omongannya Lord Adri: “Karya yang bagus tuh nggak bakal mati, coba aja lo dengerin lagu-lagunya Dewa 19 era Ari Lasso dua puluh-tiga puluh tahun lagi, masih tetep asik!” Totally relevant, right?!
Sampai di sini gue harus menghela napas dulu untuk bersyukur. Gue masih ingat vibe positif yang gue rasakan sore itu. Gue datang ke sebuah event asing sendirian tanpa ekspektasi, dan gue mendapat feedback yang sangat menyenangkan. Gue pikir cukup sampai di situ, gue udah nggak peduli lagi sama kopi di warung itu. Tapi berhubung gue udah sampai di sana, gue pesan lah segelas single origin filtered. Gue memilih kopi Mandhailing diseduh pakai V60. Guess what?! Kopinya enak coy!!! That could be the luckiest gamble in my coffee journey. Not only they serve very good coffee, but also I managed to get to know their barista, whose the idealism is matched with me at soooo many ways!
Okay, gue ceritakan dulu ya soal tempatnya. Namanya Melting Pot Yogyakarta. Kalau gue liat di IG sih, kayanya banyak kafe di tempat lain yang namanya sama. Tapi clearly, ini bukan franchise. Sebenarnya, Melting Pot adalah kafe. Mereka nggak hanya jual kopi. Banyak berbagai makanan dan cemilan, juga minuman lucu-lucuan seperti latte, red velvet, dan sekawanannya. Gue selalu skeptis sama kopi yang dijual di tempat semacam itu, karena biasanya kopinya cuma jadi sampingan. Tapi Mas Andri, baristanya, cerita bahwa justru karena mereka menawarkan berbagai macam menu selain kopi, Melting Pot jadi bisa idealis sama kopinya. Tahu bagian terbaiknya? HARGANYA MURAAAH! Bahkan gue berani klaim, harga yang mereka tawarkan adalah yang termurah di antara tempat-tempat ngopi lain yang biasanya gue datangi. Bagi gue personal, ada bagian yang lebih baik lagi dari pada harga yang murah: barista yang open-minded dan punya cakrawala wawasan yang sangaaat luas. Itu yang gue bisa simpulkan setelah hampir dua jam ngobrol sama Mas Andri. Poin utamanya, hanya dari satu kali datang, gue bisa memasukkan Melting Pot ke salah satu pilihan utama kedai kopi yang bisa gue datangi kalau lagi butuh ke warung kopi. Atau mungkin, sekalian saja dijadikan top of the list?
Kenapa masih butuh ke warung kopi? Padahal, alat-alat manual brewing sudah tersedia cukup memadai? Apa nggak cuma buang-buang uang?
Begini, meskipun sudah punya alat seduh manual yang cukup memadai di rumah, saya tetap butuh ke warung kopi. Sesekali. Lebih dari sekadar minuman, kopi buat saya adalah sebuah meditasi. Bisa menyeduh kopi yang enak adalah sebuah ultimate goal pribadi bagi saya. Untuk bisa meraih ultimate goal itu, saya perlu banyak belajar. Lalu, adakah tempat belajar lebih baik dari pada tempat praktiknya? Ada, belajar formal langsung ke ahlinya yang menyediakan tempat praktik langsung. Tapi, dibutuhkan biaya yang cukup besar untuk belajar formal soal kopi. Ambil contoh salah satu kedai kopi di Jogja yang juga membuka kelas kopi. Mereka memasang tarif (kalau saya tidak salah) paling murah sekitar 3,5 juta untuk tiga kali pertemuan yang masing-masing pertemuannya berdurasi sekitar enam jam. Jelas saya belum mampu. Jadi, saya coba ambil jalan pintas. Saya belajar otodidak.
Saya selalu menganggap warung kopi adalah “padepokan” saya. Makanya, biasanya saya main cocok-cocokan dengan warung kopi. Lebih dari sekadar soal rasa, saya menilai kecocokan warung kopi dari baristanya. Apakah si barista terbuka? Apakah dia bisa berbagi ilmu? Ataukah dia merasa sudah merasa sangat tahu? Apakah dia memperlakukan tamu yang bertanya-tanya soal kopi sebagai teman diskusi, ataukah sebagai murid? Terakhir, seperti apa sikap dia tentang “kopi yang enak” itu sendiri? Buat saya, paling mudah adalah menjawab pertanyaan terakhir. Kalau dia menjelaskan panjang lebar: “Jadi, Mas, kopi yang enak itu yang diseduh pakai blablabla pada suhu blablabla dengan brewing time selama blablabla menit dan blablabla ....” Kalau sudah nemu yang begitu, biasanya saya mengucap “Oke, Mas, makasih ya,” lalu segera beranjak pergi dan berjanji ke diri sendiri untuk tidak datang ke tempat itu lagi.
Oleh karena itu, pemilihan kedai kopi buat saya menjadi sangat-sangat-sangat personal, sehingga kalau sudah ketemu satu yang cocok akan butuh waktu cukup lama untuk mencari yang lain lagi. Sampai pada batas sudah benar-benar butuh suasana baru lagi, atau sekadar sampai nyaman sudah tidak terasa lagi.
Berlebihan? Tidak apa, I’ll leave an empty space for you to judge.
Hari-hari Terakhir di Jogja #4 [Perks of Studying Geography]
Beberapa hari lalu gw sempat nulis soal Career Day. Kehadiran gw di event itu sebenarnya tidak seratus persen untuk mencari kerja. Niatan paling utama adalah gw pengen tau sensasi datang ke job fair. I’m that one guy who loves to try any kind of first time. So there I was, standing in queue with other thousand job seekers.
Alasan utama gw tidak benar-benar mencari pekerjaan di job fair adalah karena gw sadar ijazah yang gw miliki tidak begitu laku di pasaran. Dengar dari teman-teman dan kakak-kakak tingkat yang sudah bekerja, pekerjaan mereka bukan tipikal yang didapatkan dari mendaftar di job fair. Ijazah gw, Pembangunan Wilayah Fakultas Geografi, belum setenar itu sampai kebutuhannya perlu dicari melalui bursa kerja.
Terus, menyesal nggak ambil kuliah jurusan ini?
Are you kidding?!
Nggak. Sama sekali nggak. Ada banyak alasan personal yang mendasarinya. Tapi selain alasan-alasan personal itu, gw akan coba cerita the perks of studying Geography.
Pertama, kuliah di Fakultas Geografi membuat gw punya kesempatan melihat daerah-daerah di Indonesia~ Studi tentang pembangunan ini menyadarkan gw bahwa PR kita tentang pembangunan Indonesia tu masih banyaaaak sekali. Sebanyak apa? Menurut gw, permasalahan utama pembangunan di negeri ini adalah ketimpangan. Kalau diukur pakai waktu, ada PR yang tertunda selama tiga dekade mengenai penyamarataan pembangunan. Lalu tanyakanlah ke gw kenapa gw sangat suka dengan pemerintahan Pak Jokowi ini.
Ke-dua, kuliah di Fakultas Geografi membawa gw ke tempat-tempat yang mungkin nggak akan pernah gw datangi. Catat dulu, gw sangat suka travelling. Catat lagi, gw suka travelling dengan nyaman. Belajar Pembangunan Wilayah di Geografi membuat gw bisa travelling dengan tidak nyaman, which is very good! Kenapa? Karena kalau travelling dengan nyaman adalah pelepasan penat, travelling dengan tidak nyaman mendatangkan pembelajaran. Pembelajaran yang bisa diartikan secara sangat harfiah, karena travelling dengan membawa latar belakang keilmuan selalu berbentuk penelitian. You read that right! Penelitian Geografi selalu diisi dengan kegiatan travelling. Selalu! Bahkan untuk beberapa kasus, dari travelling bisa lahir penelitian. How could that be not cool?!
Tapi, kan, ijazahnya nggak laku. Okay, sampai di sini gw harus bertanya kembali ke diri sendiri. Apa yang sebenarnya gw cari di sini? Apa tujuan gw datang ke sini dari awal? Apa gw ingin bekerja di tempat mentereng dengan gaji selangit? Kalau iya, pasti gw meratap. Tapi alhamdulillah, bukan itu yang gw jadikan tujuan utama. Bukan itu yang gw kejar-kejar.
Btw, tulisan ini lahir dari kesempatan gw membantu teman untuk survei lapangan di Kebumen, which apparently is my last research project as a student. Ternyata, survei kali ini adalah salah satu kegiatan survei lapangan terbaik yang pernah gw lakukan, terutama karena tempat-tempat yang gw kunjungi.
🎶 Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia raya 🎶 *** Barulah ketika kita bisa melaju tanpa meninggalkan, meninggi tanpa merendahkan, membesar tanpa mengecilkan, dan membaik tanpa menghinakan, kita layak berteriak merdeka! Karena bangsa ini mengamanatkan untuk membangun jiwa sebelum raga. Karena sebelum kita bisa menjadi seperti itu semua, kita hanya mengisi ruang hampa. Semoga kita semua bisa, karena "Sekali merdeka tetap merdeka, selama hayat masih dikandung badan". Selamat ulang tahun, Tanah Tumpah Darahku! *** Moment: upacara lagi setelah lima tahun. Pertama kali selama mjd mahasiswa, seminggu sebelum purna. *** In frame: Gedung Pusat UGM & Susilo brothers. *** Captured by: @eci_fauzia *** #independenceday #dirgahayurepublikindonesia72 #indonesia72 #17agustus #upacarabendera #harimerdeka72
Hari-hari Terakhir di Jogja #3 [FKY DIY & Malioboro Night Fest]
Kesan gw setelah membandingkan dua FKY adalah: kalau mau cari suasana yang nJogjani atau nJawani ya datang ke FKY Kota Yogyakarta (Pasar Ngasem), tapi kalau mau ke festival seni yang “sesungguhnya” maka FKY DIY adalah pilihan paling tepat. Lebih banyak produk-produk bernilai seni dipamerkan dan dijual di FKY DIY. Panggungnya pun banyak, macam Java Jazz yang dalam satu waktu seluruh panggung menyajikan penampilan seni.
Ngomongin soal makanannya juga sama, di FKY DIY lebih buanyaak pilihan jajanannya. “Lebih kontemporer,” meminjam istilah Yustika. Tapi... lebih mahal. Huehuehue. Oh! Stand souvenirnya pun sangat lebih bervariasi di sini. Lebih menggoda hasrat belanja barang nyeni-lah. Overall, gw bisa berkesimpulan, kalau mau membandingkan jelas lebih unggul FKY DIY. But you’ve to remember, dua festival ini tidak untuk dibandingkan karena secara scope-nya pun tidak setara. Lebih baik kunjungi dua-duanya! Karena ge-ra-tis ehe~
Hari Minggu tanggal 13 Agustus 2017 sepertinya memang surga untuk para penikmat festival-festival di Jogja. Karena bersamaan dengan upacara penutupan FKY, eh ada acara puncak dari Malioboro Night Festival 2017. Katanya, sih, Malioboro Night Festival ini baru diselenggarakan dua kali, yang pertama pada tahun 2016 lalu.
Malam ini, gw lebih memilih untuk menikmati Malioboro Night Fest hanya karena satu alasan: bintang tamu puncaknya adalah... *drum rolls* B A R A S U A R A ! Bagian paling seru dari Malioboro Night Festival ini adalah panggung-nya outdoor, cuy!!! Lebih seru lagi, Jalan Malioboro-nya nggak ditutup dong, jadi Barasuara manggung tuh sambil ada mobil, motor, becak, andong, kang ojek, kang bubur, kang sate, berlalu-lalang begitu saja. Menurut pengakuan mereka pun itu adalah pertama kalinya mereka manggung dengan suasana seperti itu. Gw sebagai salah satu yang hadir di sana dan punya keterikatan emosi dengan Jogja jadi ikut bangga....
Langsung foto-fotonya aja deh ya.
- Karya yang menyambut pengunjung FKY DIY (dipajang paling depan). Emang keren banget sih, angklung-nya goyang sendiri gitu -
- Suasana panggung utama FKY DIY 2017 -
- Di dalam situlah karya-karya seni dipamerkan -
- Ini salah satu yang pengen dibawa pulang. Eh, sofanya, ya! -
- Love the quote! -
- Judul karyanya: “Banyak Bicara”. Keren banget, sih, mungkin ini akan nongol di feed IG saya. Mungkin. -
- Nggak ada alasan khusus nge-capture in, cuma tertarik aja -
- Stand es jeruk murni. Mur-ni! Nggak pake air dan gula, pure air jeruk yang diperas langsung di tempat. Tapi... laham :x -
- This is the one and only.... Barasuara! -
- Tanpa Marco Steffiano dan Cabrini Asteriska, tapi tetap goks! -
Baru terasa setelah empat tahun sebelas bulan menempuh pendidikan tinggi, ijazah bisa benar-benar tak bernilai.
Baru terasa setelah lima puluhan mata kuliah dipelajari, deretan nilai nyaris sempurna pun belum tentu membawa kita ke tempat yang baik.
Baru terasa setelah lebih dari 150 sistem kredit terakumulasi, IPK tiga koma lima tidak pernah menjamin kita menjadi apa-apa.
TAPI
Empat tahun lebih yang telah kita investasikan menjalani perkuliahan,
Puluhan juta rupiah yang kita keluarkan untuk menebus akses terhadap ilmu pengetahuan,
Entah berapa ratusan malam kita jalani dengan terjaga hingga esok pagi bahkan mungkin beberapa hari, entah untuk belajar atau sekedar guyup di warung kopi,
Semua itu adalah harga yang rela kita bayarkan demi sebuah kesempatan.
Hal besar di hidup adalah buah dari pertemuan antara kesiapan dan kesempatan.
Kita, semua yang telah kita jalani, semata-mata adalah wujud persiapan diri, sedangkan datangnyakesempatan itu untuk dimohonkan kepada Yang Maha.
Before all the writings, I just wanna say: Can’t believe I’m finally doing this project.
Personally, gw ngga begitu mengerti esensi di balik FKY ini. Judulnya Festival Kesenian Yogyakarta, tapi yang lebih banyak gw temui di sana tukang jajanan lol. OH btw, untukmu yang belum tau, FKY ternyata nggak cuma satu, ya. Ternyata ada FKY DIY dan FKY kota Yogyakarta. FKY DIY diselenggarakan di Pyramid Jl. Parangtritis, sedangkan FKY Kota Yogyakarta di Plasa Pasar Ngasem. Dan to be more surprised, menurut teman, ternyata juga tengah berlangsung Festival Kesenian Bantul, KP, dan Gk?
Di project HTdJ ini gw berniat mau melakukan berbagai hal yang selama ini sangat gw sukai (either daily or occasionally basis), dan hal yang selama ini sangat ingin gw coba lakukan. Hey, siapa bilang lima tahun di Jogja itu cukup?
Anyway, untuk bagian FKY ini gw akan share banyak foto aja, karena nggak ada yang begitu spesial untuk harus dirangkaikan kata-kata. So, here they are.
My 1st stop: Sate Kere. Dibilang “kere” karena isinya cuma gajih alias lemak doang. Tapi dilihat dari harganya, ternyata sama dengan sate daging sapi -_-
Experience: bukan pilihan yang terbaik.
2nd stop: Indomie Geprek. Yes, you read that right. Sejak awal, feeling gw terhadap jajanan ini adalah... penistaan terhadap Indomie! Sebagai Indomie goreng’s loyal slave gw punya keyakinan nggak ada yang bisa membuat penyajian Indomie goreng lebih enak dari pada standar penyajian oleh ‘Aa-’Aa Warmindo. Dan benar saja....
Price: 7k.
Experience: Biasa!
3rd stop: Es Limun. Gw nggak beli, sih, nggak nyobain juga, cuma temen gw aja yg beli. Tapi gw tau, kalau Agus ketemu ini doi pasti senang.
4th stop: Gw mudah sekali tergoda oleh asap sisa pembakaran sate-_- This is waaaay better than the first one. Lebih enak, lebih banyak, lebih “niat” jualan satenya.
Price: 3k/pc, in frame itu 10k.
Experience: Nice!
And here, meet my friend, Yustikarani. Doi jago motret (check her page here), jago desain, jago video editing, dan lulus cepat. Tapi, setau gw sih doi nggak available ya.
Kebanyakan dari kita, memperlakukan pasangan kita sebagaimana kita ingin diperlakukan. Padahal, ini adalah kekeliruan paling mendasar dari sebuah hubungan. Dulu, salah satu yang gw andalkan setiap kali mendekati lawan jenis adalah kemampuan beretorika yg--katanya--agak lebih. It worked, almost every time. Tapi itu dulu, ketika usia belasan, ketika kebanyakan perempuan masih belum terbiasa atau belum tau cara menerima pujian selain tersipu dan berbunga, dan ketika kebanyakan laki-laki senang ada yang memperhatikannya selain ibunya.
Tapi, melewati usia belasan, kondisi itu menjadi tidak lagi relevan. Ternyata, bukan itu yang dibutuhkan. Ternyata, yang selama ini didapatkan justru kebalikan dari apa yang sebetulnya harus dicari.
Melewati usia belasan, kebanyakan perempuan sudah kenyang akan pujian dari para laki-laki yang pernah berusaha mendekatinya sepanjang masa remaja. Katakanlah, sejak usia tiga belas? Di sisi lain, kebanyakan laki-laki mulai merasa bahwa diberi perhatian itu seperti diperlakukan sebagai anak kecil. Padahal, kami tidak butuh itu. Ego kami bukan itu.
Tulisan ini lahir dari mention yang gw terima setelah gw me-reply twit salah seorang following gw yg sedang resah bicara tentang selingkuh-selingkuhan. Dia bertanya-tanya kenapa sosok yang sempurna masih saja bisa diselingkuhi oleh pasangannya? Akhirnya, dia mempertanyakan, “mau yang se-perfect apa lagi, sih?”
Padahal, penyebab orang berpaling kebanyakan justru bukan karena pasangannya memiliki kekurangan, atau lantaran dia menemukan kelebihan pada diri orang lain yang tidak dimiliki pasangannya. Berpaling selalu soal adanya kebutuhan yang tidak dia dapatkan dari pasangannya, tapi ndilalah ada orang lain yang bisa memberikannya.
Ini ke-sotoy-an gw, tapi coba tanyakan ke semua orang yang pernah berselingkuh. “Kenapa?” Mungkin, sebagian besar dari mereka tidak bisa benar-benar menjelaskan sebabnya. Mungkin, sebagian besar dari mereka hanya bisa menjelaskan apa yang mereka rasakan: karena saat itu, semuanya terasa pas. Pas lagi merasa ada yang hampa, pas ada yang datang mengisi kehampaan itu. Mungkin, saat itu semua terasa benar, karena adanya kesempatan yang tiba-tiba hadir.
Iya, sedihnya, selingkuh itu kayak peristiwa kriminalitas yang selalu dipesankan oleh Bang Napi di salah satu acara TV beberapa tahun lalu: tidak selalu karena adanya niat dari pelakunya, tapi juga karena adanya kesempatan.
Gw membuka tulisan ini dengan dua premis tentang kebutuhan alami perempuan dan laki-laki. Lalu, gw akan menutup tulisan ini dengan sebuah twist yang bisa elo lakukan untuk mendapatkan seseorang yang elo taksir, meskipun dia sudah punya pasangan. Iya, gw kasih tau cara bikin orang berpaling dari pasangannya ke elo.
Perempuan butuh perhatian. Laki-laki butuh pengakuan. Beri dia lebih dari yang biasa dia dapatkan dari pasangannya, dia akan jadi milik lo.
p.s.: Seperti biasa, sebelum menulis ini gw mencoba meng-google yang berkaitan dengan tulisan ini, and here’s what I found which I think might be informative for you who’re damn curious about this topic: http://health.liputan6.com/read/2361386/ini-sebabnya-pria-selingkuh-meski-punya-istri-sempurna
p.p.s.: Twist di akhir tulisan itu bukan karya gw, itu bit stand-up comedy yang dibawakan oleh Pandji Pragiwaksono ketika menggelar stand-up special world tour-nya yang pertama, “Mesakke Bangsaku”. Gw hanya meng-copy paste, karena that’s exactly what Pandji said on the stage, word by word.
Ini ke-dua kalinya gw nulis dengan judul click-bait, nyebut nama orang, orang yang sama pula. I guess I’m only an inch from being a social-climber.
Terlepas dari motifnya which most probably is social-climbing, ini merupakan salah satu upaya gw menebarkan keresahan. Menurut gw generasi muda mah harus resah, karena hanya berawal dari keresahan akan timbul perubahan ke arah yang lebih baik.
Tulisan kali ini lahir dari mention iseng gw ke Gita, ketika dia mengungkapkan keresahan tentang replies yang dia dapat setelah berkomentar tentang salah satu video viral yang dibuat oleh remaja akhir yang belakangan ramai diperbincangkan di jagat media sosial. Alih-alih mendapat respon yang senada dengan keresahan yang dia ungkapkan, justru banyak yang me-reply twit Gita dengan celaan berkedok kritik.
Iya, sebenarnya tulisan ini back-fire dari request gw sendiri -_- Tapi okay, biar nggak kayak kebanyakan warganet yang cuma bisa banyak menuntut idolanya melakukan ini itu tanpa menyumbang apapun untuknya, I’ll try to see what’s the least I can do for sharing my thoughts.
Pertama dan paling utama, mencela tidak sama dengan mengkritik. So, don’t you ever dare to hide your bad deed behind the good word. Karena mencela saja sudah tidak patut, apalagi kalau ditambah mengamuflasekannya dengan kritik. Jadi dua kali lipat tidak patutnya.
Lalu, apa yang membedakan kritik dan cela? Menurut gw, setidaknya ada empat (4) hal:
1. Niat
Kritik selalu dilahirkan dari niat untuk membangun, sedangkan cela... well gw nggak pernah mengerti motif orang mencela tuh apa. Kepuasan diri? Oh, malang betul.
2. Perhatian
Kita hanya bisa mengkritik setelah kita memperhatikan sesuatu yang akan kita kritik. Karena sebetulnya, kritik adalah pendapat yang terkonstruksi di dalam pikiran seiring dengan perhatian detail yang kita berikan terhadap suatu obje. Dengan mengkritik, kita sebetulnya sedang mengapresiasi objek tersebut karena itu berarti kita telah memperhatikannya, dan sebagaimana disebut di poin (1), bersama dengan kritik selalu terkandung saran yang bisa menjadi bahan evaluasi untuk membuat / melakukan yang lebih baik lagi ke depannya.
Sedangkan cela, seprtinya orang mencela karena simply ngerasa mereka bisa melakukan yang lebih baik dari pada yang telah dilakukan oleh si kreator objek yang dikritik. Padahal mah......... *silakan dilanjutkan sendiri*.
3. Sasaran
Karena lahir dari perhatian mendetail, biasanya (dan seharusnya) kritik punya sasaran yang spesifik. Misalnya, kita mau mengkritik suatufilm, maka kita harus tau bagian mana yang menurut kita bisa membuat film itu menjadi lebih bagus dari yang sudah ada. Apakah bagian plot ceritanya, sinematografinya, lagu latarnya, akting pemerannya, naskah atau dialognya, cara penyampaian pesannya, atau apa?
Atau kalau mau mengkritik sebuah tulisan, bagian mana yang membuat tulisan itu menjadi kurang baik? Apakah tata bahasanya, alur penyampaian pendapatnya, logika yang dibangun, penggunaan istilah tertentu?
Atau berbicara restauran / tempat makan, bagian mana yang menurut kita bisa ditingkatkan lagi? Rasa makanannya, kesesuaian harganya, porsinya, perpaduan bumbunya, pelayanannya, kebersihan tempatnya?
Nah, kalau celaan, biasanya dia nggak punya sasaran yang jelas. Ibarat orang pegang senapan, dia blind-shooting dan akhirnya hanya buang-buang amunisi. Eh, pencela tu biasanya punya amunisi nggak sih ketika mencela?
4. Pondasi
Seperti membangun sebuah gedung, semakin kuat pondasinya akan semakin sulit untuk diruntuhkan. Gw bilang di atas bahwa kritik adalah pendapat yang terkonstruksi. Konstruksi ini nggak akan bisa jadi kalau nggak ada dasarnya. Jadi, sebelum mengkritik, pastikan kita punya argumentasi yang mendukung kritikan kita. Argumentasi ini harus valid, berdasar fakta yang ada, atau sudah teruji secara ilmiah~ Cara yang paling mudah kalau mau membuat argumentasi macam ini? Membandingkan! Tapi, yang dibandingkan ni harus setara. Menurut gw ada dua cara membuat perbandingan yang setara: sesuaikan kelas / level antara objek yang ingin kita bandingkan dengan pembandingnya, atau bandingkan dengan hasil karya / kerja dia yang sebelumnya.
Kalau mencela? I don’t think I should talk about it any longer ya, tinggal dibalik aja: tidak punya pondasi, membandingkan tidak setara, dan parahnya, biasanya celaan tuh preferensi personal sehingga nggak fair.
---------------
Empat hal yang gw bahas di atas adalah opini pribadi gw. And for that matter, I very welcome any kind of disagreements, critics, and suggestions which might make this writing better. Feel free to disagree! And for what it’s worth, gw tidak membahas tentang cara menyampaikan kritik, ya, that’s not my area of expertise. All I wrote above is just common sense which I think people should have known.
Oh! There’s one last thing about critic yet absolutely not the least.
Kritik yang kamu sampaikan tentang suatu objek tidak menggambarkan kekurangan dari objek tersebut, ataupun dari kreatornya. Sebaliknya, justru kritik yang kamu sampaikan cukup bisa memberi gambaran tentang dirimu sendiri: tentang cara berpikirmu, preferensimu, dan luas wawasanmu. Emang mau, ketahuan “kosong” justru gara-gara ucapan sendiri? So, from now on, I kindly suggest you to watch it! :)
p.s.: Before writing this, I’ve tried to google about critics, and I found plenty articles about the etiquette of expressing critics instead. So, surf it!
p.p.s.: If you wanna know examples of critics, I suggest you to type any title of your favorite movie on IMDB search bar and then click the Metascore button.
First of all, you’ve to pardon me for making such a click-bait title to this post. But this post is truly made because of her writing on her blog. The one which went viral, actually, and the title of that post is on top of the “Popular Post” tab on her blog.
You see, I choose not to post a link to the post I describe, instead I give you clues:
1) Her writing
2) On her blog
3) Viral
4) Top of the Popular Post tab.
Kalau masih ada yang nggak nemu, mungkin this is exactly yang dimaksud Gita, bahwa generasi kita--I’m referring to fellow Indonesian youths--adalah generasi tutorial. I found out this is a bold statement. Yet I kind of agree.
Pertama kali gue baca quote Soe Hok Gie tentang idealisme dan pemuda, gue masih belum 17 tahun. Waktu itu, gue nggak ngerti maksudnya “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda”. Terlalu tinggi, terlalu abstrak, terlalu sulit direlasikan dengan kehidupan. Waktu itu. Anehnya, sesuatu yang tidak gue mengerti itu nempel cukup lama di kepala. Gue suka mikir. Gue suka memikirkan hal-hal yang gue nggak ngerti. Karena menurut gue, nggak ada hal umum yang tidak boleh gue gak ngerti. Semua common logic harusnya gue mengerti. Karena menurut gue common logic yang membuat manusia adalah manusia.
Akhirnya, quote tentang idealisme dan pemuda itu selalu gue bawa ke mana-mana. Bukan untuk gue jadikan prinsip atau panutan, tapi untuk gue cari lebih jauh maknanya. Hampir setiap hal yang gue alami, terjadi di keseharian gue, coba gue relasikan dengan kalimat itu. It took me years to completely understand its meaning, and still, honestly, I don’t think I’ve understood it completely.
Gue cuma tau bahwa sejak baca kalimat itu di novelnya Donny Dhirgantoro yang ngehits itu, there’s something about youth attracts me very much. Gue jadi mencari-cari berbagai hal tentang kepemudaan. Yang paling dekat? Tentu saja, sosok / figur yang bisa dijadikan panutan. Beruntung, nggak lama sejak baca Dhirgantoro, gue ketemu sama Pragiwaksono. For instance, I tag him to be my role.
Di blog post-nya, Gita mengungkapkan kegusaran dan kegelisahan tentang kondisi generasi muda kita. Di sini, gue mau mengonfirmasinya dan mengungkapkan bahwa gue punya kegusaran dan kegelisahan yang sama.
Gue (sampai tulisan ini dimuat) adalah pemuda. Gue mengenyam pendidikan. Belakangan gue tau, bahwa tujuan pendidikan itu bukan membuat kita menjadi jenius. Tujuan pendidikan sebenarnya adalah membentuk pola pikir. Kalau nggak bisa membentuk pola pikir secara ilmiah, minimal dari keseharian kita harusnya mencerminkan bahwa kita adalah termasuk golongan orang beruntung yang pernah mengenyam pendidikan. Seminimal mungkin, cara menunjukkannya adalah dengan bisa memilah hal baik dan hal buruk, dan menerapkan hal-hal yang menurut kita baik di keseharian.
Kalau lo tau bahwa berkendara harusnya punya surat izin resmi, jangan bangga dong ke mana-mana tanpa SIM. Kalau lo tau bahwa helm itu untuk melindungi kepala lo (walaupun isinya dikit), jangan mbatin “nggak ada polisi” dong sebagai alasan ga mau pake helm. Kalau lo masih berpikir bahwa pegawai McD adalah waiter/waitress yang berkewajiban membereskan meja lo dari sisa-sisa makanan lo, fixed you’re simply not qualified to live in this era of urbanization nor to be part of educated-millenials-generation.
I’m not making a generalization or such thing here. I just want to express what have been my concerns lately: more youth which Instagram, Facebook, Youtube, Ask.fm, and others soc-med are part of their daily activities are not necessarily smart. I don’t know, perhaps this judgment comes from the perspective of a guy who’ve been in his 20s. Perhaps if this guy is still in his teens, he’d still be like a teen whom he judged here. Tapi inilah poin dari semua modernisasi, kemajuan teknologi, dan perkembangan zaman ini: Kalau belum siap, jangan masuk! Kalau sudah masuk, harus cepat menyesuaikan! Terakhir, jangan nge-skip Terms and Agreement dan langsung klik I Agree / I Understand kalau emang nggak betul-betul ngerti.
Jawaban dari pertanyaan itu memang cuma ya dan tidak. Tetapi di balik setiap “ya” dan setiap “tidak” dari orang yang menjawab, pasti didasari oleh alasan-alasan. Alasan inilah yang seharusnya kita apresiasi sebagai sesama individu, bahwa tiap individu memang memiliki pemikiran, persepsi, dan nilai-nilai yang mereka yakini. Sampai pada tahap ini lah kita tidak boleh memaksakan kehendak kita sebagai sebuah individu ke individu lain.
Menurut saya sendiri, basa-basi masih sangat diperlukan. Memang, kontekstual, tetapi justru konteks tersebutlah yang menjadikan basa-basi bisa amat sangat diperlukan atau tidak sama sekali. Mari kita bahas konteksnya dari yang tidak perlu-perlu amat, sampai ke yang wajib harus perlu:
1) Menjawab UAS esai, dan/atau menulis dalam ranah ilmiah, kita sama sekali tidak perlu berbasa-basi untuk keperluan ini. Kita cuma perlu argumentasi pengantar menuju poin utama yang ingin kita kemukakan. Argumentasi pengantar tidak sama dengan basa-basi. Dalam dunia akademis, hanya pendapat yang sudah teruji kebenarannya yang bisa menjadi argumentasi pengantar, dan pengujian kebenaran ini tidak main-main prosedurnya. Argumentasi pengantar ini juga berperan penting untuk membawa kita menuju poin utama yang ingin kita sampaikan dalam setiap naskah akademik kita, karena dengan adanya argumentasi yang telah teruji tersebut kita jadi punya semacam support system yang mengabsahkan tulisan kita.
2) Bertemu orang baru, kalau kamu suka berjejaring, membuat relasi, dan ingin punya banyak teman dan/atau sekedar kenalan, basa-basi menjadi poin penting untuk bisa mengantarkan kamu memenuhi kepentingan-kepentinganmu. Tapi kalau memang kamu sudah nyaman dengan dirimu sendiri apa adanya, merasa bahwa peran orang baru tidak akan membawa perubahan signifikan terhadap hidupmu, atau simply karena tidak suka berbagi dengan orang lain mengenai dirimu, ya sudah, tidak usahlah repot-repot berbasa-basi. Toh, kamu tetap bisa hidup nyaman tanpa mereka.
3) Berinteraksi dengan bapak/ibu kos, kalo kamu termasuk suka menunggak tagihan, berbaik-baiklah dengan yang kamu hutangi. Basa-basi menjadi top of the list to survive. Tanpa berbasa-basi dan berbaik-baik, segera kemasi saja barang-barangmu dan/atau cari pinjaman kepada yang kira-kira bisa kamu pinjami untuk membayar kos. Tapi, meminjam pun perlu berbasa-basi.
4) Meminta tolong kepada orang lain, sebenarnya poin ini adalah inti dari seluruh post ini. Saya sebenarnya ingin menyampaikan bahwa basa-basi masih sangat diperlukan ketika kita hendak meminta pertolongan dari orang lain. Um, pertolongannya tentunya bukan yang darurat, ya. Nggak boleh, tuh, kita secara tiba-tiba menghubungi orang lalu tanpa menjelaskan permasalahan yang kita punya secara runut, tiba-tiba kita minta tolong ke orang tersebut. Nggak ada yang ngelarang, memang, tapi kalau kamu peduli dengan perasaan orang lain dan tidak ingin terlihat sebagai orang yang disrespectful, maka berbasa-basi menjadi appetizer yang wajib kamu suguhkan ke orang yang mau kamu mintai tolong, sebelum kamu menyajikan main course, which is your main point exactly when you contact them from the first place. Ketika kita mengharap bantuan dari orang lain, dan kita sudah dengan berani menghubungi mereka, maka sebenarnya pada detik itu juga berlaku sistem server-client. Kamu jadi server-nya, dan sebagai server maka kamu pasti mengharapkan feedback yang baik dari client. Feedback di sini berarti adalah uluran tangan mereka. Ingat! Kamu (server) butuh pertolongan, orang yang kamu mau mintai tolong (client) adalah yang kamu harapkan mau menolongmu, dan respon mereka adalah feedback yang pastinya kamu maunya mendapat yang positif. Lalu, bagaimana agar kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan?
Dosen saya pernah bilang: dalam dunia kerja, tiap pekerjaan itu mudah, asalkan kita mengerti esensi utama kita berada di tempat tersebut. Esensi ini sama bagi seluruh orang yang bekerja, cuma satu.
Saya yang penasaran, selayaknya orang-orang penasaran lainnya, bertanya: apa itu, Pak?
Lalu dosen saya menjawab singkat pertanyaan saya tersebut: melayani.
Me.la.yani., menurut KBBI artinya adalah: v membantu menyiapkan (mengurus) apa-apa yang diperlukan seseorang; meladeni.
Banyak orang sekarang lupa, bahwa orang lain harus senang dengan keberadaan kita agar kita bisa diterima. Banyak orang sekarang hanya fokus pada kebahagiaan dirinya sendiri. Banyak orang sekarang bila tidak bahagia, dia merasa harus mencari tempat lain yang bisa membuatnya bahagia, alih-alih berusaha membuat kebahagiaan tersebut. Melayani, bisa jadi adalah kunci kebahagiaan.
Kembali ke topik basa-basi, let’s put it this way. Ketika kamu berharap orang lain akan melakukan sesuatu untukmu, bukankah seharusnya kamu memberikan orang tersebut trigger terlebih dahulu agar dia mau melakukan apapun itu yang kamu butuhkan? Bentuknya bisa macam-macam: kamu bisa meyakinkan dia bahwa dialah satu-satunya yang bisa kamu andalkan, atau kamu memberitahukan bahwa kalau dia melakukan itu maka dia akan mendapatkan manfaat, atau yang paling sederhana, kamu tunjukkan bahwa kamu percaya dia untuk menolongmu dengan cara menceritakan ceritamu sampai-sampai kamu berada dalam posisi butuh pertolongan. Apa persamaan dari semua itu? Ber-ba-gi. Fair, dong, kalau kamu ingin dia meluangkan waktu atau tenaga atau pikirannya untukmu, kamu juga harus memberikan sesuatu ke dia, setidak-tidaknya adalah ceritamu.
Intinya, kalau mau minta tolong ke orang lain, jangan pernah menempatkan dia sebagai orang yang sudah seharusnya memberikan pertolongan kepadamu, apapun alasan pembenaranmu. Tidak peduli dia temanmu, sahabatmu, saudaramu, bahkan orang tuamu. Tidak ada seorangpun di kehidupan kita yang bisa kamu perlakukan seperti itu. Masih ingat pelajaran di sekolah dasar bahwa manusia adalah makhluk sosial? Ingat? Bagus. Masih ingatkah juga apa yang membuat manusia menjadi makhluk sosial? Iya, berbagi.
Ada beberapa keyakinan tentang identitas yang diyakini oleh orang. Mulai dari you are what you said, you are what you read, sampai you are what you eat, bebas aja mau bilang you are blabla dan mau percaya yang mana. Tapi ini satu yang gue percaya: you are whom you are friends with.
Gue ngerasanya, teman memiliki porsi yang dominan untuk membentuk personality gue sebagai manusia. Okey, kalo ada yang berargumen “ya keluarga dong, orang tua dong, ibu dong, ayah dong, guru dong,” dan lain-lain. Tapi menurut gue, ketika elo merasa bahwa orang tua lo bisa sangat mempengaruhi personality lo, maka sebenarnya elo berteman dengan orang tua lo. Karena malangnya, banyak kok orang yang nggak bisa berteman dengan orang tuanya, nggak bisa berteman dengan anaknya, bahkan nggak bisa berteman dengan kakak/adiknya. Mungkin karena ini pula, kita sering nemuin orang yang karakternya beda banget sama adiknya, kakaknya, atau bahkan orang tuanya. Simply, in my opinion, because they are not friends with them.
“Nggak boleh pilih-pilih teman ya, Nak.” Kalimat umum menjadi nasihat oleh orang tua - orang tua. Menurut gue, nasihat itu tidak lagi relevan di jaman seperti sekarang ini. Teman justru harus dipilih dengan sangat hati-hati, ketika elo (atau anak lo) belum kenal dengan diri sendiri. Karena as I wrote earlier, your friends make your personality, dominantly. Kalo elo sebagai orang tua nggak bisa mengawasi anak lo bergaul dengan siapa, setidak-tidaknya, berdoalah sekuat mungkin agar Tuhan memberikan teman-teman yang baik untuk dia.
P e r s i s t e n c e @rainbowpeak - Tumblr Blog | Tumgag