Day 13 Augustrope - Sick Fic [ID]
Shika x Rico Persona Collab
Note : Please read the previous story of this (accidentally) series LMAO.
Day 11 - Love Potion | Day 12 - Drunken Confession
"... Kalau bisa, aku tidak mau kau lupa ...."
"Masih belum membaik juga?"
"Hm .... Demamnya sudah sedikit turun, tapi pusing dan mual muntahnya belum hilang." Gadis yang memunggungi pemuda di atas ranjang berbalik memandang khawatir tubuh yang terbaring dengan selimut tebal dan kompres di dahi. Lelaki itu masih menggigil dan merintih, beberapa kali menggeliat pelan. "Synth, bagaimana ini?"
"Maafkan saya, Ibu. Tapi, saya juga tidak bisa memberi saran untuk kali ini. Herbal yang saya tahu bukan untuk hal medis," tutur Synth di seberang telepon sana. Shika juga bisa mendengar Eve menyahut, mengatakan kalau sejak awal bertanya pada mereka adalah suatu kesalahan. Sebab, keahlian dasar Synth dan Eve adalah untuk melenyapkan, bukan menyelamatkan.
"Kenapa tidak Madame coba hubungi Raysa? Anak kedokteran itu mungkin bisa membantu, bukan?" tambah Eve yang jauh dari telepon.
Shika menimbang sejenak, sebelum akhirnya memutuskan mengikuti saran tersebut. Ia mematikan sambungan dan langsung menekan dial pad untuk menghubungi orang yang dimaksud. "Raysa? Bisa tolong aku sebentar?"
Hanya butuh tiga puluh menit untuk perempuan bersurai pink-keunguan datang ke alamat yang diberikan Shika. Dia sepertinya pergi dari Universitas Osaka, terlihat dari buku dan map yang ditentengnya. "Ibu!" Raysa berseru sambil mendobrak pintu kamar Rico. Tanpa basa-basi langsung merapat ke samping kasur. "Biar aku lihat dulu," katanya.
"Oh tidak, Raysa! Kau tidak bisa mendahuluiku!" Suara gebrakan pintu kedua membuat Shika melompat dari tempatnya. Di sana, berdiri lelaki berambut pirang ikal yang terengah-engah. Seperti habis dikejar hantu--atau mungkin dia yang mengejar hantu. "Serahkan dia padaku. Biar aku yang rawat."
"Kamu datang telat! Dia punyaku!"
"Kau tahu aku jelas punya penyembuhan lebih baik darimu."
"Tanpa bantuan maya, aku masih lebih hebat dari kamu, Rheafen."
"Kalian tolong ...." Shika mendesah berat. Seketika keduanya bungkam, Raysa meminta maaf. "Daripada membuang waktu untuk bertengkar, kalian bekerja samalah. Aku hanya ingin dia cepat membaik."
Tanpa membuang waktu, keduanya mulai memeriksa keadaan Rico. Shika mencuri dengar kalau Raysa membawa alat praktek milik kampus dan beberapa obat-obatan. "Aku hanya meminjam!"
"Meminjam tanpa ijin, maksudnya?"
Sekali lagi Shika mendesah berat. Tidak pernah ia tahu dokter bisa ribut satu sama lain selagi memeriksa pasien. Dan, hebatnya mereka masih bisa bekerja dengan baik. Dua orang ini memang kelewat berbakat.
Shika memperhatikan Raysa mundur sedikit saat Rheafen mengulurkan tangan pada kening Rico. Kerlap-kerlip cahaya mengitari tangan ke dahi lelaki yang masih memejamkan mata. Hanya satu detik yang terbuang, Shika bisa melihat perbedaan pada kekasihnya. Terlihat lebih tenang dan tidak sepucat sebelum dua ahli medis ini datang. "Sekarang sudah lebih baik," katanya kemudian.
"Butuh berapa hari untuk sembuh kira-kira?"
Raysa menjawab pertanyaan Shika. "Seharusnya satu atau dua hari sudah cukup untuk pemulihan." Ia mengambil catatan kecil dan pulpen dari tas selempangnya dan menuliskan sesuatu di sana. "Ibu bisa beli obat ini untuk membantu kesembuhannya."
Shika menerima sobekan kertas tersebut seraya berterimakasih. "Ngomong-ngomong." Perempuan berambut senada pasir pantai menoleh pada si lelaki pirang. "Perasaan aku tadi hanya menelpon Raysa, kenapa kau bisa menyusul kesini?"
"Ya .... Itu ...."
Raysa menjawab dengan suara sedikit dipelankan. "Kami berdebat soal siapa yang punya kemampuan lapang lebih baik, karena nilai ujian kita baru keluar."
"Lalu, Ibu menelepon. Seharusnya aku bisa mendahului perempuan ini kalau saja Veena tidak ingat soal kemarin."
"Kemarin?" Shika bertanya penasaran.
"Aku dengar Rheafen berulah lagi dengan menggoda pegawai cafe dekat kampus. Veena marah dan tadi menyusul untuk menghukumnya," tutur Raysa. "Oh, tadi Reyza yang mengantarku kesini, makanya bisa datang cepat."
Shika ber-oh panjang. Ya sudahlah, pikirnya. "Kalian mau makan?"
Keduanya menggeleng serempak dan mengatakan kalau mereka ijin pamit karena masih ada yang harus diurus di kampus. Ruangan itu kembali diisi hanya oleh Shika dan Rico, setelah dua mahasiswa Universitas Osaka meninggalkan tempat.
Sang gadis mengambil duduk di sisi kasur, saat ia melihat Rico membuka mata. "Hey," sapa Shika. "Masih sakit?"
Ada jeda sebelum Rico menggeleng lemas. Samar, Shika mendengar lelaki itu mengucapkan maaf karena sudah merepotkannya. "Harusnya aku tidak datang ke sana tanpa seijinmu."
"Bukan salahmu," balas sang gadis. "Kalau bertemu Eve, semua akan mengalir seperti apa yang kau alami kemarin." Shika lantas diam. Ia tenggelam dalam pikirannya, bertanya-tanya, tentang apa yang terucap orang ini di Bar Fee Verte milik Synth. Shika ingin bertanya, tapi ini tentu saja bukan saat yang tepat.
Tapi, rasa penasarannya terlalu membuncah. Ia gatal.
"... Rico--"
"Tolong ... lupakan yang ku katakan kemarin," potong Rico yang menutupi wajahnya dengan lengan kanan.
"Kau ingat ternyata?"
"Kalau bisa aku lebih ingin amnesia saja soal yang kemarin," katanya. "... memalukan."
"Kenapa? Aku cukup senang bisa mendengarmu mengatakan sesuatu seperti itu," goda Shika. "Kapan lagi, ya, kan? Seorang Rico seberani itu untuk berkata--Adu-duh!!" Badan Shika ditarik hingga terjatuh ke atas kasur tanpa ranjang tinggi tersebut. Matanya membulat terkejut ketika beradu dengan wajah Rico yang sangat dekat.
Iris hitam menatapnya tajam. Tak berkedip sedikit pun, lelaki itu memerangkap Shika dalam canggung sekaligus gugup. "E--Eum ...." Tiga puluh detik, lelaki itu masih belum berkutik. Bahkan bergerak dan bersuara pun tidak. Sang gadis hanya bisa mendengar hembusan napasnya yang menerpa kulit hangat, dan itu semakin membuat perempuan berambut coklat salah tingkah. "R-Rico, apa sih? Lepasin!"
"Aku masih tidak ada tenaga, jadi berhentilah."
Sedikit takut Shika mengangguk. Kemudian lelaki itu kemudian melonggarkan lengan yang melingkar erat pada tangan dan pinggang si gadis. Rico memposisikan dirinya dengan perempuan tersebut agar saling berhadapan, bertumpu pada sisi tubuh seraya mendekap hangat.
Untuk sesaat, keduanya diam menikmati momen yang ada. Hingga Shika berucap, "...kalau bisa, aku tidak mau kau lupa. Baik tragedi di kamar ini, maupun di bar semalam." Ia membenamkan wajah pada dada Rico, sambil terus bersuara pelan--hampir berbisik. "Mungkin ini egois, tapi aku benar-benar senang bisa melihat sisi dirimu yang tidak pernah kau tunjukkan."
Shika melirik. "Memang, sejujurnya aku melakukan ini atas dasar penasaran. Tapi, aku juga ingin bisa mengerti dirimu sepenuhnya. Baik maupun buruk. Jadi ... maaf."
Sebelah tangan Rico terangkat menepuk-nepuk pelan belakang kepala Shika. Tidak berkata apa-apa, dan sang gadis pun tak mengharapkan balasan. Dilihat dari gerakan lelaki itu yang lemah. Sebentar lagi Rico akan kembali pulas. Mungkin lebih baik aku juga tidur saja.
Namun, sebelum Shika benar-benar membiarkan tubuhnya tenggelam dalam mimpi, telinganya menangkap sebuah kalimat.
"Tunggu sampai aku sembuh."
Shika tidak bisa menahan senyumnya yang merekah lebar.
--End













