Pregnancy Journey: Menjadi Kakak
Salah satu hal yang paling kusyukuri dari kehamilan kedua ini adalah; penerimaan mbak bayi yang luar biasa excited terhadap adiknya.
Sejak pertama kali diberitahu akan punya adik, matanya berbinar sekali. Baginya, mungkin itu adalah jawaban dari doa-doanya selama ini. Dia sudah berulangkali ingin adik, meski jawabannya berubah-ubah, kadang mau kadang tidak. Tetapi memang lebih banyak maunya.
Maka dari itu, mudah sekali memberinya pengertian. Bahwa, meski ada adik, dia akan tetap sama dicintainya, tetap sama disayangnya seperti sebelumnya. Dan mudah pula bagi dia menjawab ledekan orang-orang di sekitar yang bilang, "nanti bundamu direbut adik", karena setiap hari kami katakan, cinta kami tidak akan berkurang.
Setiap hari kami katakan, "kami tetap sayang mbak bayi, meski nanti adik lahir, tapi mbak harus sabar sedikit yaa kalau nanti adik lebih butuh bunda, sebab adik masih belum bisa melakukan apa-apa sendiri. Jadi adik akan lebih banyak butuh bantuan bunda dan semoga mbak sabar yaa gantian sama adik."
Aku mengerti betapa tidak enaknya harus mengalah terus pada adik kecilmu, maka dengan sadar diri akan aku upayakan mbak bayi tidak merasakan hal itu. Dan syukurnya, sejauh ini mbak bayi mengerti dan menerima dengan baik.
Adik bayi, yang masih di kandungan, dia sayang betul. Apa yang dia punya, dia selalu menawarkannya padaku. Diciuminya perut bunda, disayang-sayang adiknya. Selalu senang saat jadwal periksa kandungan datang. Dan menerka-nerka seperti apa wajah adiknya nanti.
Mbaaak, terima kasih sudah menerima dan mencintai adik dengan sebegitu besarnya. Semoga cinta kalian tetap sama yaa, hari ini, besok, dan selamanya. Semoga kalian berdua akur, saling sayang dan saling cinta. Mendukung satu sama lain. Doakan kami mampu menjadi orang tua yang baik untuk kalian.
Mbak bayi yang selalu nanya, "kapan periksa lagi bunda? Mau lihat adik lagi." 😅
Sabar yaa nduk. 4 bulan lagi ketemu adik. 🤲












