Hello sahabat Agro kembali lagi dengan kami yang tak henti-hentinya berbagi pengetahuan.
Ehmm… masih tentang perikanan nih.
Coba – coba diinget-inget sudah ada berapa macam ikan yang pernah kalian makan?
Ups..minimal tahu dulu deh?
Hayoo ada berapa coba?
Hmm… pernah dengar istilah “sidat” ?
Udah pernah makan “sidat” belum?
Waduh… jangankan makan, tahu aja belum.
Nah, lohhh. Don’t be sad.
Disini kami akan memaparkan apa itu sidat.
Sidat adalah jenis ikan yang memiliki bentuk tubuh memanjang seperti ular, bersirip dorsal, caudal dan anal bergabung menjadi satu, sirip dada ada dan sirip perut tidak ada. Tubuhnya diliputi sisik halus (Deelder, 1984). Panjang tubuh ikan ini bervariasi dengan kisaran 50-125 cm tergantung jenisnya. Sisik yang dipunyai berukuran sangat kecil dan terletak di bagian bawah kulit pada sisi lateral. Perbedaan diantaranya jenis ikan sidat dapat dilihat antara lain dari perbandingan antara panjang preanal (sebelum sirip dubur) dan predorsal (sebelum sirip punggung), struktur gigi pada rahang atas, bentuk kepala dan jumlah tulang belakang (Haryono, 2008).
Ikan sidat ini ternyata banyak digemari lho di negara-negara maju seperti Jepang dan Eropa. Tapi di Indonesia sendiri ikan ini belum begitu familiar padahal Indonesia memiliki potensi untuk menjadi produsen sidat yang besar. Selama ini budidaya ikan hanya tertuju maka ikan nila dan ikan guramai serta ikan lele. Ayo kita mencoba hal yang lain, salah satunya adalah dengan melakukan bididaya sidat.
Nah ini ada beberapa keunggulan sidat dibandingkan dengan ikan lain. Ikan Sisat ini ternyata memiliki kandungan vitamin A 45 kali lipat dari kandungan vitamin A yang terdapat pada susu sapi. Kandungan vitamin B1 sidat setara dengan 25 kali lipat kandungan vitamin B1 susu sapi. Kandungan vitamin B2 sidat sama dengan 5 kali lipat kandungan vitamin B2 susu sapi. Dibanding ikan salmon, sidat mengandung DHA (Decosahexaenoic acid, zat wajib untuk pertumbuhan anak) sebanyak 1.337 mg/100 gram sementara ikan salmon hanya 748 mg/100 gram. Sidat memiliki kandungan EPA (Eicosapentaenoic Acid) sebesar 742 mg/100 gram sementara salmon hanya 492 mg/100 gram (sumber kaskus.co.id).
Wah… nampaknya ikan sidat ini bisa jadi alternatif santapan yang kaya akan protein di rumah masing-masing.
Sumber referensi :
Deelder, C. L. 1984. Synopsis of Biological Data on The Eel Anguilla Anguilla (Linaeus, 1758). FAO Fisheries Synopsis No. 80. Revision 1. Food and Angriculture Organization of The United Nations. Rome.
Haryono. 2008. Sidat, Belut Bertelinga: Potensi dan Aspek Budidayanya. Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi-LIPI. Fauna Indonesia. Vol 8(1) : 22-26.
Follow us:
Facebook : Agro Window
Tumblr: agrowindow.tumblr.com
Twitter: @agro_window
Instagram: @agrowindow
Email: [email protected]
CP: 085740604188