Ongkos Perasaan
Suatu hari, teman saya memposting undangan pernikahannya dengan calon suaminya. Saya tidak begitu ambil pusing dan biasa saja. Sampai suatu ketika saya melihat postingan teman saya ini di media sosialnya yang berisikan bagaimana teman saya ini berkenalan dengan calonnya. Singkat cerita, mereka adalah dua manusia yang sebelumnya tidak saling kenal dan dikenalkan oleh seorang perantara. Saya tahu bahwa teman saya ini punya cerita kegagalan masa lalu yang membuatnya tidak ingin pacaran lagi. Sehingga perkenalan dengan calonnya ini sempat ia khawatirkan jika berhubung hanya ppada pacaran. Allah menolongnya, meyakinkan ia.
Memang selalu ada jalan untuk setiap niat baik menikah. Ada saja. Mereka yang awalnya terseok-seok secara finansial, ketika memutuskan serius untuk menjalin hubungan menuju pernikahan selalu mendapatkan pertolongan dari Allah. Banyak sekali teman lelaki saya yang tiba-tiba dapat pekerjaan, dapat proyek, gajinya naik, keterima jadi PNS ataupun kisah lain yang intinya seakan-akan Allah memberikan rezeki nomplok untuk dirinya. Allah kasih jalan kemudahan bagi dirinya untuk menikah.
Lalu pertanyaannya, jikalau ada dua sejoli sedang membina hubungan serius namun nampaknya rezeki sangat sulit, apakah berarti mereka tidak jodoh ? Apakah berarti Allah tidak ridha pada mereka dan memudahkan jalan mereka menuju pernikahan ?
Saya selalu bermimpi suatu hari ada seseorang yang menghubungi saya untuk menjalin hubungan serius, kita cocok dan akhirnya menikah. Sama halnya seperti saya bermimpi menikah menggunakan suntiang atau baju Dara Baru Aceh, hehehe meskipun makin kemari makin tidak mungkin nampaknya. Orang yang entah dari mana asalnya dan orang baik pastinya. Atau bisa pula orang baik yang merupakan kawan sendiri yang bisa jadi dahulunya tidak akrab atau hanya sekedar kenal namun ternyata berjodoh. Kasus kedua ini sangat sering saya jumpai dalam pertemanan saya.
Mimpi hanya sekedar mimpi. Terkadang kenyataan tidak seindah mimpi atau bahkan mimpi tidak seindah kenyatannya. Saya pernah gagal dengan proses ta’aruf atau perjodohan atau apapun itu namanya. Saya menjadi agak tidak percaya cara tersebut jika saya tidak mengenal orang tersebut sebelumnya. Idealnya saya bisa mengenal calon suami saya sebelumnya agar saya bisa memprediksi konflik apa yang akan terjadi nanti dan bagaimana penangannya.
Namun semakin mengenal orang tersebut, semakin muncul rasa kepada dirinya. Apalagi kalau dia memiliki perasaan yang sama kepada kita. Sayangnya “perasaan” itu tidak selamanya indah. Kadang senang, namun akan lebih banyak rasa kesal, marah, bahkan sedih. Kita akan sangat mudah sakit hati. Ketika menemui perilakunya yang tidak sesuai dengan harapan rasanya sakit sekali. Padahal jikalau nanti menikah bisa jadi tingkah laku tidak kita sukai itu hilang, atau sebaliknya menjadi menguat. Tidak ada yang tahu.
Oleh karenya menjalin hubungan “serius” sebelum menikah sebenarnya hidup tanpa kejelasan. Apa yang kita lihat buruk saat ini bisa jadi saat menikah tidak seburuk ini. Apa yang kita lihat baik saat ini bisa saja tidak muncul ketika menikah karena ini hanya kedok mendekatimu. Kita akan terombang ambing atau bahasa jaman sekarangnya galau dan sangat sensitive alias baper. Kita mudah sekali sedih dan menangis, mudah merasa tersakiti, marah dan kesal, bahkan mungkin sampai jijik jika tingkah laku yang sangat tidak sukai muncul.
Oleh karena itu, saran saya dibanding kalian semua menghabiskan waktu dengan ketidakpastian yang lebih banyak membuat kalian kesal, marah, sedih, bahkan jijik lebih baik kalian hindari saja hubungan “serius” sebelum menikah. Karena banyak sekali ongkos perasaan yang harus kalian bayarkan dengan waktu kalian yang terbuang dalam menjalani hubungan serius ini. Waktu untuk merenungi sesuatu, menahan rasa kesal serta amarah dan pastinya air mata yang sering sekali mengalir ketika semua emosi negative tersebut muncul.
Jadi, berbahagialah ketika kalian single, karena sumber kebahagiaan adalah kalian sendiri. Ketika kalian berpasangan, kalian berharap bahwa pasangan adalah sumber kebahagiaan kalian. Dan pastinya itu salah. Ketika single kalian bebas melakukan apa saja, bebas seperti burung, bebas menggapai mimpi. Tanpa ada harapan dengan orang lain akan melakukan apa yang kita sukai :p
*Ditulis setelah berhenti menangis*











