Seperti biasa--kita terdampar lagi pada kedai kopi yang telah memilih kenangannya sendiri. Di kedai kopi itu, ada hal paling mahal dari apa-apa yang dijual; ialah kebersamaan kita. Sederhana tapi jadi berharga, karena terasa bahagianya. Beberapa waktu yang lalu, aku telah mencicipi sesuatu yang tak pernah ingin kurasakan. Dan, berkatmu aku tahu; yang pahit belum tentu menyedihkan. yang gelap belum tentu tidak enak. Mungkinkah pernah kamu ajarkan hal yang sama-- pada seseorang yang bukan aku? Jika pernah, "pada siapa?". Aku tidak ingin tahu. Pertanyaan ini memang lebih baik tak dijawab, sebab dia akan lenyap, sesaat setelah diungkap. Tapi, aku selalu ingin kamu tahu. Aku rela menempuh beribu-ribu KM untuk menghadirkan rindu. Supaya kamu tahu, kalau rindu bisa seperti itu. "Seperti apa kopi hari ini?" Pertanyaan favoritmu, yang mendadak melekat pada ingatanku. Dan aku akan selalu menjawab-- Dua cangkir kopi hari ini; Yang satu manis. Yang satu pahit. Seperti kita; Aku rindu. Kamu tidak. Dan kamu tertawa. Hanya tertawa. Aku pun tertawa. Dan, ya, kita tertawa untuk dua hal yang berbeda. Tapi, bolehkah aku menyimpan kita dalam setiap potret? "Untuk apa?" Mungkin kamu akan bertanya demikian. "Untuk mengingatkanku akan bau kopi. Tapi, lebih tepatnya untuk-- agar aku tidak kehilangan apa-apa." Jawabku. Sejak bertemu, kita selalu terpisah, iya kan? Katamu, kalau tidak jauh tidak akan terasa rindunya. Kataku, satu jarak dibayar dengan satu rindu. Aku akan menganggap itu sebagai sebuah utang kepastian bahwa kamu akan baik-baik saja di sana. Biarlah, cangkir kopi ini menjadi sebentuk rahasia. Bahwa aku tak pernah ingin dikenalkan dengan kopi, apabila kopi akan selalu bisa menghadirkan kembali bayangmu. Karena, bagaimana jika, selama ini, ternyata rindu ini, hanya menggunakan satu hati--yaitu, hatiku saja? Mungkin benar, aku hanya perlu latihan lagi supaya tidak terlihat terlalu rindu dengan lebih meyakinkan. Semoga di ujung sini, kamu akan mengerti segalanya, bahwa ini adalah sebuah kebohongan besar, jika aku bilang aku tidak pernah merasa rindu; pada kopi dan pada kamu. . . . #kunamaibintangitunamamu #cindyjoviand #sinjof (at Imperial Hotel Kuching)