Alkisah
9 Desember 2018
Alkisah, seorang perempuan yang sedang ngantuk-ngantuknya meminta kepada kekasihnya untuk menceritakannya sebuah dongeng agar ia bisa tertidur lelap. Sang pujaan hati menyanggupi, lalu merebahkan diri di sampingnya.
Di puncak malam menuju pagi yang buta itu, sang kekasih menceritakan sebuah kisah tentang si Putri Upil, dan Mas Pisang. Kisah tentang bagaimana dua hati yang saling terpikat, tapi menjaga cintanya satu sama lain dalam diam. Hanya menahan rindu, saat raga tak bisa berjumpa. Sampai di penghujung kisah, diceritakan si Putri Upil melamar pujaan hatinya, lalu mereka menikah. Kisah pun diceritakan berakhir bahagia. Meskipun si perempuan bertanya-tanya, benarkah pernikahan selalu menjadi sebuah “akhir”? Benarkah pernikahan selalu berakhir bahagia? Ia penasaran bagaimana kelanjutan kisah si Putri Upil, tapi tak disampaikannya. Kekasihnya hanya tersenyum, lalu mengecup dahinya pelan sambal berkata, “kamu lelah, istirahatlah.”
Si perempuan belum ingin tidur. Rasa penasaran yang lebih besar dari ngantuknya masih menghantui, hanya ia tak mampu banyak bertanya. Pada akhirnya, hanya satu yang ia tanyakan, “siapa Putri Upil-nya, yang?” Kekasihnya pun menjawab, “kamu lah.” “Kok bisa?,” tanya si perempuan. “Karena kamu hobi ngupil, makanya namanya Putri Upil.” Mereka tertawa, dan di sela keheningan malam yang dingin itu pun kehangatan sejenak menyeruak.
“Berarti Mas Pisangnya kamu dong, ya?” tanya si perempuan lagi. “Bukan lah,” jawab sang kekasih, sambil menyeringai jahil. “Kalo aku abang, Bang Keren,” tukasnya. Si perempuan pun terdiam sejenak. Tidak tahu apakah arti seringai kekasihnya itu tanda ia hanya sedang bergurau atau memang benar-benar serius dengan kata-katanya.
Di tengah malam yang sesaat sempat menghangat itu, udara kembali terasa dingin. Setidaknya sebesit hawa itu melintas, menusuk ruang hati si perempuan. Matanya yang semula mulai sayu kini menjadi lebih terang. Ia tak jadi mengantuk. Semalam suntuk ia tak bisa tidur hingga pagi menjelang, memikirkan banya hal yang berputar di otaknya. Sementara kekasihnya tertidur lelap, di tengah dengkurannya ia belai lembut pipi sang kekasih. Berharap kalau ia temukan masih ada secercah kehangatan diantara dua ruang hati itu.
Kisah si Putri Upil pun hanya tinggal kisah. Tak tahu di masa depan apakah akan menjadi nyata, apakah malam itu, si Putri Upil tengah memandang Mas Pisang-nya. Ia hanya bisa berharap “semoga,” doanya dalam hati.
Si perempuan pun mengecup pelan dahi kekasihnya, lembut.
Di tengah suara dengkuran kekasihnya itu, ia mencoba memejamkan matanya...
13 Desember 2018
Kisah si Putri Upil telah berakhir.









