Dewasa
Waktu itu saya yang masih kecil dan sangat polos sekali menganggap bahwa orang dewasa sudah pasti tau segalanya. Terlepas dari usaha memerdekakan diri dari sekian banyak larangan orang tua dengan rengekan khas anak ingusan, saya sungguh percaya orang dewasa selalu punya perhitungan yang maha tepat atas setiap keputusan yang mereka ambil. Terlampau polos, saya tidak mengacuhkan banyak fakta tentang nasib orang-orang yang tidak terlalu mengalami banyak perubahan, tentang orang-orang yang katanya tidak pernah sholat, mencuri di desa sebelah hingga hal-hal mengerikan seperti perceraian. Orang dewasa adalah panutan. Tidak seperti kami anak kecil yang bisanya hanya meminta dan menangis saja.
Kepercayaan terkadang seperti noda bolpen di seragam putih sekolah. Meski sudah dicuci berkali-kali tetap saja tidak mau luntur. Buktinya, saya yang saat itu sudah berseragam SMP masih saja percaya bahwa orang dewasa memiliki kekuatan magis yang membuat mereka menjadi manusia yang maha bijaksana. Seperti yang ditunjukkan oleh guru-guru di depan kelas, saat upacara, dan dimanapun mereka berada. Dan saya, entah bagaimana caranya pasti juga akan seperti mereka nantinya ketika sudah dewasa. Saya akan tau jelas mana yang baik dan buruk, menentukan keputusan dengan ketepatan nyaris sempurna tidak akan sesulit melupakan mantan, apalagi hanya mantan calon pacar *ngenes*. Saya akan tumbuh menjadi manusia bijaksana, semua masalah dapat terselesaikan dengan baik. Hidup bahagia, selamat sentausa, berdaulat, adil dan makmur seperti dalam pembukaan UUD 1945.
Namun tidak semua siswa tetap memakai seragam putih yang sama setelah lulus. Noda bolpen masih tergores samar disana, tapi sudah waktunya berganti seragam. Noda itu terlupakan, kemudian lengkap begitu saja. Mungkin sudah ada di lemari tetangga sebelah. Pikiran-pikiran polos tentang kemahaan orang dewasa tergerus bersama gosip-gosip a la penduduk desa di teras-teras rumah dan di dapur-dapur berdinding papan saat ada acara syukuran. Saat ibu-ibu, remaja dan bapak-bapak berkumpul, satu per satu 'berita hangat' berbaris, menunggu giliran untuk berpindah dari mulut ke telinga kemudian mulut lagi dan seterusnya. Tidak tau apakah berita itu telah terdekomposisi sedemikian rupa, cangkruk an tidak akan lengkap tanpa adanya 'berita-berita hangat' itu. Si ini katanya sudah pulang ke rumah orang tuanya, suaminya ada main sama perempuan lain. Si itu lebih rajin dari kakaknya, sayang suaminya suka goda perempuan lain. Yang ini punya hutang banyak, istrinya minta cerai. Yang itu meninggal gara-gara main sama perempuan di warung desa sana. Jika memang orang dewasa tau segala yang baik, tidak mungkin ada masalah seperti itu kan? Ternyata umur memang tidak pernah menjamin kedewasaan.
Ada banyak yang perlu dipelajari orang dewasa, seperti anak sekolah, tidak semua dari mereka mendapat nilai yang baik dan lulus ujian. Seperti anak kecil yang tidak semuanya biasa main lompat tali, orang dewasa pun juga begitu, tidak semua bisa mengambil keputusan dengan bijak. Seperti saya yang tidak pandai main petak umpet, beberapa orang dewasa juga perlu banyak belajar menjadi orang tua yang baik.
"Kata 'dewa' dalam 'dewasa' kadang tak berarti apa-apa." - anonim
Dyah Oktavia | Senin, 8 Muharram 1438














