Cerbung: Nama
Kalimatnya kembali terhenti. Setiap kali teringat sebuah nama, ia tak bisa melanjutkan kalimat do'anya. Dengan mata yang masih terpejam dan kedua tangan yang masih menengadah, keningnya mengerut. "Haruskah kusebut namanya? Apakah dia memang yang terbaik? Yakinkah aku menginginkannya? Ataukah setelah ini aku akan menyesal?" Pertanyaan-pertanyaan itu selalu membuatnya bingung. Tidak seperti do'a-do'a lain yang ia yakin akan akan diulang-ulangnya dalam setiap kesempatan, do'a tentang satu nama ini selalu menjadi dilema. Ia yakin bahwa ia menginginkannya, namun ia tidak yakin bahwa bersamanya adalah yang baik.
"Hei. Lagi nungguin siapa?" "Hai, Win. Lagi nungguin Angkasa nih." "Oh, Angkasa. Kalian pasaran, ya?" "Eh kamu cemburu aja. Ya gak lah. Angkasa kan bukan tipe yang mau pacaran." "Cemburu dari mana. Iya sih. Temen-temennya aja anak masjid ya." "Ngomongnya biasa aja kali. Gak usah sambil senyum-senyum gitu. Ciyeee..." "Yeee aku kan emang murah senyum. Bukan gara-gara temenmu itu."
Beberapa menit kemudian, datang seorang laki-laki sebaya berpenampilan kasual. Celana jeans yang tidak ketat, baju flanel kotak-kotak warna biru dongker dan tas punggung a la mahasiswa.
"Assalamu'alaikum," sambil duduk di depan Desti dan Windi "Wa'alaikumsalam. Win, kamu kok gak jawab?" Desti menggoda Windi yang tiba-tiba pasang muka agak jutek "Wa'alaikumsalam, " Windi menyelaraskan nada bicaranya dengan ekspresi agak juteknya "Windi bukannya dari dulu emang jutek ya?" Angkasa menjawab santai seperti tidak terpengaruh nada suara Windi yang agak jutek "Dia juteknya cuma sama orang-orang tertentu kok" Desti senyam-senyum "Gak sih. Biasa aja. Kalian aja yang sensi," Windi menyangkal sambil melihat kolam ikan yang ada di bawah "Halah. Kalo jutek ya jutek aja. Eh Des, laptopmu masih rusak?" "Eh iya nih. Muncul gini terus," Desti menunjukkan layar laptopnya yang ada garis-garis horizontal warna-warni "Sering kayak gini?" "Dulu kalo udah dipake 2 jam muncul kayak gini. Sekarang baru make 45 menitan aja udah muncul beginian. Apanya yang rusak, ya?" "Kalo udah gini kamu apain?" "Tak matiin paksa. Hehe." "Kalo gini biasanya grafisnya yang rusak. Aku gak bisa benerin kalo kayak gini. Coba service aja. Samping bakso bakar di Mulyos situ ada tukang service laptop." "Oh gitu ya. Yaudah deh. Maaf ya udah ngerepotin." "Iya gak papa. Yaudah aku pergi sholat dulu ya. Kalian sholat gak?" "Gak," Desti pertamax "Gak juga," Windi menjawab sambil main hape "Yaudah nitip tas ya. Ntar mau balik lagi kesini. Kalian gak kemana-mana kan?" "Gak kok. Kita disini aja," yang jawab cuma Desti "Oke. Aku nitip ya," Angkasa pergi tanpa salam, mungkin lupa.
Setelah beberapa menit saling asyik sendiri, Desti kembali membuka pembicaraan.
“Win, menurut kamu Angkasa itu orangnya kayak gimana?” “Gimana apanya?” “Ya dia kan gak mau pacaran. Temen-temennya banyak yang anak masjid. Ya ada yang bukan anak masjid juga sih. Tapi, penampilannya biasa aja. Maksudku dia tetep pake celana jeans, bukan celana kain kayak temen-temennya yang anak masjid gitu. Nah... kamu kan anak masjid juga nih. Menurutmu gimana soal penampilannya dia?” “Aku anak bunda ayah. Bukan anak masjid. Hmmm... menurutku sih penampilan gak jadi masalah sih. Selama penampilannya sopan, ya menurutku gak ada masalah.” “Iya juga sih.”
Kemudian mereka berdua kembali asyik sendiri. Desti main hape, buka wa, buka facebook, instagram dan lain-lain. Sedangkan Windi sedang main game Candy Crush. Hape di tangan, tapi pikirannya mengikuti sosok yag tadi pamit untuk sholat.
Bersambung...
Dyah Oktavia | Senin, 30 Muharram 1438













