rendezvous
chara: skylar montgomery/kara bennet setting: AU (dimana mereka berdua bukan demigod, terinspirasi ‘childhood sweethearts’ dari meme ini)
Yang gadis ini tunggu-tunggu setiap kali ia mengunjungi perpustakaan sekolahnya tiap pulang sekolah bukan hanya sekadar membaca berbagai jenis buku yang berderet rapi di rak perpustakaan, biarpun buku-buku tersebut selalu menarik perhatian bungsu Bennet kita. Gadis ini sesungguhnya juga menunggu seseorang di perpustakaan ini. Orang tersebut merupakan pemuda seumurannya, kata nyaris semua perempuan di sekolahnya cukup menarik penampilannya, biarpun untuknya, yang paling menarik dari pemuda itu bukanlah penampilannya.
Buatnya, percakapan merekalah yang membuat pemuda itu nampak begitu menarik di mata Kara.
Maka itulah, kali ini, begitu kakinya melangkah masuk menuju perpustakaan, matanya sibuk melirik kiri-kanan, mencari buku yang mungkin ia ingin pinjam sekaligus mencari sosok tersebut. Sementara tangannya mengambili buku yang ingin ia pinjam (The Lady With The Little Dogs and Other Stories, karya Anton Chekhov), matanya sibuk menelusuri perpustakaan, berharap ia menemukan sosok pemuda tersebut hari ini. Dia mengakui bahwa pencariannya ini agak konyol. Seharusnya Kara juga bisa menemukan sosok ini di kelas sang pemuda sedari tadi; kelas mereka bersebelahan. Hanya saja, di kepalanya, pemuda itu sudah ia asosiasikan dengan perpustakaan, maka itulah ia lebih suka menemui sang pemuda di perpustakaan.
Pemuda itu dimana?
Dia tak menemukan batang hidung sang pemuda sedari tadi. Lorong demi lorong sudah ia sisiri, namun tak kunjung ia menemukan pemuda tersebut. Ia tahu bahwa pemuda tersebut tidak absen—ia menemukan laki-laki tersebut di kelas sebelah. Setahunya, seharusnya pada jam pulang, pemuda ini juga akan berkunjung ke perpustakaan. Lantas, dimanakah sekarang pemuda tersebut?
Sejujurnya, ia sedang ingin mengobrol dengan laki-laki tersebut.
Ia masih mencari-cari sang pemuda begitu matanya mendadak ditutup dari belakang oleh telapak tangan seseorang. Mungkin seharusnya ia panik, tetapi bagaimana ia bisa panik jika ia yakin bahwa sosok yang sedang menutup matanya merupakan sosok yang ia cari-cari dari tadi?
“Oi, Kars,” suara sang pemuda menyapanya “Lagi cari apa?”
Kara cuma bisa menggelengkan kepala kecil sekarang. “Kamu bisa bikin orang sakit jantung, Skylar.”
Si pemuda terkekeh ringan mendengarnya. Tangan yang tadi menutup mata Kara kini tak lagi menutup matanya. Kara sendiri sekarang berbalik badan agar ia bisa meghadap laki-laki itu. Di tangan si pemuda, telah terdapat buku yang baru saja Kara ambil dari rak buku. Kara baru saja hendak meminta si pemuda untuk mengembalikan buku, namun laki-laki tersebut sudah buka suara terlebih dahulu. “Kamu baca Chekov?” tanya si pemuda, santai.
Ya, ya, Kara tahu apa yang Skylar akan ucapkan sebentar lagi. Mereka sudah berdebat mengenai ini berulang kali. Ia menarik napas sejenak sebelum menjawab. “Iya. Silahkan bilang kalau Dostoevsky lebih menarik dan Chekhov sangat membosankan karena cuma membahas kehidupan sehari-hari, tapi, Skylar, aku akan mengulang bahwa bahasan Chekhov mengenai kehidupan sehari-hari terasa begitu nyata sehingga itu jauh lebih menarik. Dan kita bakal membahas ini sampai panjang dan penjaga perpustakaan bakal mengusir kita, kan?”
Pemuda tersebut memamerkan senyum jahilnya. “Yup. Mau bahas lagi?”
…..konyol memang, tapi Kara memang menunggu-nunggu diskusi tak penting mereka, jadi apa lagi yang bisa gadis ini lakukan kecuali mengangguk?












