Muslim Ideal = Sleepless Elite?
“Telah berlalu waktu untuk tidur wahai Khadijah...” – Rasul SAW
Siapa yang belum pernah mendengar sleepless elite? Sekelompok jurnalis media Wall Street Journal Amerika menamakan istilah tersebut pada orang-orang dengan kebutuhan tidur yang lebih sedikit dari tidur rata-rata manusia, yakni sekitar 7-8 jam. Meski dengan waktu tidur yang relatif sebentar, sleepless elite dipercaya tidak mengalami berbagai kelainan seperti insomnia, kurang fokus, kelelahan, tidak membutuhkan waktu tidur lebih lama pada hari yang lainnya, juga tidak memerlukan perlakuan khusus seperti minum kopi atau dengan bantuan kafein lain. Hal ini mengindikasikan waktu tidur sebentar tersebut adalah hal yang ‘normal’ bagi kalangan ini. Sleepless elite bahkan berperilaku cenderung aktif dan optimis dalam kesehariannya. Fenomena sleepless elite didukung oleh beberapa ilmuan yang menyatakan bahwa hanya 1% populasi manusia memiliki kemampuan tidur dalam waktu yang sebentar. Tokoh-tokoh terkenal di dunia Barat seperti Barack Obama, Oprah Winfrey, Elon Musk, disebut-sebut sebagai contoh sleepless elite yang katanya hanya membutuhkan waktu tidur sekitar 4 jam setiap malam.
Bahasan tentang pola tidur ideal manusia menjadi hal yang sangat menarik dan masih diteliti secara ilmiah hingga kini. Peneliti dari University of California, San Fransisco yang menekuni fenomena sleepless elite sejak 1996 mengkorelasikan sleepless elite dengan keberadaan gen yang mempengaruhi jam biologis manusia yang mengatur tubuh untuk tidur pada kondisi suhu dan keadaan pencahayaan tertentu, namun bahkan penelitian tersebut belum sampai pada kesimpulan yang signifikan mengenai perilaku tidur manusia. Bagaimanapun, ditemukannya gen ini menimbulkan secercah harapan bagi mereka, yang dapat berujung pada pemanfaatan terapi gen untuk membuat orang-orang memiliki kemampuan sleepless elite.
Munculnya ide-ide artificial intelligence, functional food, terapi gen dan berbagai penunjang efisiensi hidup lainnya menandakan bahwa manusia semakin terus berlomba-lomba, mengupayakan produktivitas yang maksimal dan sebisa mungkin mereduksi spend-time per aktivitas untuk dapat mengikuti perkembangan taraf hidup yang terjadi hari demi hari. Hingga pada akhirnya istilah sleepless elite ini muncul dan kita dapat menemukan di platform forum bertanya Quora misalnya, ada pertanyaan seperti “How to become a sleepless elite?”.
Uniknya, dalam islam, karakter sleepless elite dapat ditemukan sejak zaman Rasulullah SAW. Pemuda-pemuda yang membela agama bersama Rasulullah dengan karakter optimis, tangguh, memperjuangkan kebenaran adalah mereka yang sedikit tidurnya di waktu malam. Julukan untuk mereka adalah singa di siang hari dan rahib di malam hari. Tentunya belum ada teknologi pengecekan gen dan sejenisnya di zaman tersebut, tetapi ada faktor yang menjadi kesamaan pemuda-pemuda sleepless elite ini, yaitu keimanan yang kuat dalam dirinya.
Sebagai muslim, kita telah sering ditanamkan akan besarnya keutamaan ibadah saat tengah malam (dini hari), yakni qiyamulllail. Bermunajat kepada Allah dengan shalat, dengan sujud, dzikir dan do'a-do’a, laksana anak panah melesat yang tidak akan lepas dari sasaran. Saat hampir semua orang terlelap dalam tidur, sebagian umat muslim bangun, mengejar keutamaan shalat yang utama setelah shalat fardlu, di waktu sepertiga malam terakhir yaitu sekitar pukul 1.00 - 3.00 dini hari.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami adalah mereka yang apabila diperingatkan (ayat-ayat itu) mereka menyungkur sujud seraya bertasbih dan memuji Rabb-Nya dan mereka tidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya. Mereka selalu berdoa kepada Rabb-Nya dengan penuh rasa takut dan penuh harap serta menginfakkan rezeki yang Kami berikan kepada mereka,” (As Sajdah 15-16).
Tatajaafa (jauh) berasal dari kata jafwah yang berarti lambung mereka tidak menyukai tempat tidur. Mereka yang kerinduannya kepada Rabb-Nya telah mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata, menyebabkan orang-orang ini tidak tahan jika berada di tempat tidur berlama-lama dan memilih untuk tenggelam dalam kesyahduan malam bersama Allah SWT.
Kita ambil contoh Rasulullah Muhammad SAW, sebagai teladan terbaik umat di bumi. Beliau SAW memiliki kebiasaan tidur pada awal malam dan bangun pada pertengahan malam hari. Rutinitas seperti ini menjadikan metabolisme yang terjadi dalam tubuh menyesuaikan dengan kondisi yang memungkinkan untuk beraktifitas lebih awal.
Tidur adalah salah satu bentuk kekuasaan Allah SWT, dengannya manusia dapat beristirahat setelah berlelah-lelah di siang hari. Sebagai agama yang syumuliyah, tidur pun menjadi salah satu dari begitu banyak aspek dalam hidup manusia yang diatur dalam Islam. Komitmen pemuda muslim terhadap ibadah semulia Qiyamullail telah menjawab sejak berabad-abad lamanya pertanyaan yang baru muncul pada kalangan pemuda dewasa ini. Yang menjadi PR dan perlu umat muslim tunjukkan adalah bahwa karakter ideal ini masih ada. Karakter Qiyamullail pada diri pemuda muslim hingga kini, bukan hanya pada pemuda zaman Rasulullah SAW.
sumber foto: quranreading.com