#SabtuBelajar “Sokola Rimba”
Saya berasa baru pulang dari rimba setelah selama dua minggu ini membaca Sokola Rimba. Saya membacanya hampir setiap malam sebelum tidur, dan saat Saya tidur isi buku ini terbawa di mimpi-mimpi Saya. Buku ini Saya beli setelah bertemu langsung sama Butet Manurung di acara Kongres Diaspora. Saat itu butet berbicara di diskusi panel “Chompassionate Change: Youth Leading the Way” bersama Atika Shubert, Intan Irani, Joe Taslim dan Gloria Natapradja Hamel. Dengan pembicara sebanyak itu dan waktu yang amat singkat, Saya merasa sangat kurang untuk mengetahui lebih dalam pengalaman Butet di Rimba. Walaupun ini bukan buku baru dan sudah di film kan, Saya baru benar-benar tertarik dengan sokola saat Butet bercerita di panel diskusi tersebut.
Oke kita ke isi bukunya, intinya buku ini bercerita perjalanan Butet sejak pertama kali masuk rimba sebagai fasilitator pendidikan WARSI sampai akhirnya keluar dari WARSI dan karena kecintaanya kepada orang rimba akhirnya Butet membangun sendiri sekolah untuk orang-orang rimba bersama ke empat temannya. Diawal Butet bercerita tentang pertama kali Ia masuk rimba. Tak mudah untuk Butet untuk memberikan pendidikan kepada orang rimba karena harus menghadapi berbagai penolakan. Setelah melakukan berbagai pendekatan akhirnya Butet pun mendapatkan murid.
Cerita Butet membuat metode pengajaran baca tulis untuk orang rimba sangat menarik bagi Saya. Butet membuat metode belajar dari eksperimen yang Ia lakukan sendiri. Ia juga mencari referensi belajar baca tulis dari buku-buku SD namun tidak bisa diterapkan. Sampai pada akhirnya Butet menemukan metode belajar dari kesalahan-kesalahan murid-muridnya. Butet melakukan pendekatan dengan mengajarkan apa yang manfaatnya bisa langsung dirasan oleh orang rimba, seperti membaca agar bisa membaca surat perjanjian dengan pihak luar agar tidak tertipu. Belajar angka agar bisa berhitung dan tidak tertipu ketika di pasar. Yang menarik adalah ketika Butet bisa menghafal beberapa mantra dalam semalam karena ia merekamnya menggunakan recorder dan menuliskannya kemudian hal itu membuat takjub orang rimba. Selain itu, anak didiknya di jadikan guru untuk mengajar anak rimba lainnya.
Perjalanan Butet sangat menginspirasi bagi Saya, rasanya Ia tidak takut apapun, padahal ancaman untuknya sangat banyak. Mulai dari binatang buas di hutan yang suatu saat dapat menikamnya, para pencuri kayu, para orang tua anak rimba yang tidak suka anaknya belajar baca tulis. seperti salah satu quotes dalam buku ini “Jika memang takut, apakah itu berarti takkan pernah memulainya?”.
Saya rasa isi buku ini dari awal sampai akhir adalah perjuangan, mulai dari perjuangan saat pendekatan kepada orang rimba, perjuangan mencari murid yang mau belajar, setelah mendapat murid berjuang lagi untuk membuat metode mengajar, kemudian berjuang mendirikan sokola dari nol, dan mungkin sampai saat ini Butet terus berjuang untuk orang-orang Rimba. Perjuangan itu disajikan dengan sangat menarik karena berbagai kejadian lucu dan menggelitik membuat Saya cekikikan saat membacanya.
Saya sangat suka dengan cara pandang Butet tentang Orang Rimba. Butet tidak memaksakan mereka untuk menjadi apa yang Butet atau orang luar anggap benar dan baik, karena yang orang luar seperti kita baik atau benar belum tentu menurut mereka demikian. Butet membebaskan Orang Rimba untuk melakukan cara hidup sesuai dengan yang Orang Rimba inginkan. Walaupun pada akhirnya Orang Rimba mengadosi berbagai hal dari dunia luar itu karena keinginan mereka sendiri tanpa paksaan dari manapun. Yang Butet inginkan dari Orang Rimba adalah mereka tetap sehat dan bahagia selalu. Terdengar klise memang, tapi begitulah Butet yang terlanjur mencintai Orang Rimba.











