Agostino d'Ippona - Soliloqui.

seen from Brazil
seen from China
seen from China

seen from Malaysia
seen from China
seen from Bahrain
seen from Uzbekistan

seen from Argentina
seen from Saudi Arabia

seen from Saudi Arabia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from China

seen from Türkiye
seen from Poland
seen from China
Agostino d'Ippona - Soliloqui.
Ho aspettato per un ora e venti, ottanta minuti esatti, alla stazione dei pullman, all'aperto, a Milano, con due gradi, due soli miseri gradi, il pullman per tornare a casa: non mi sento più le dita dei piedi, ho le mani congelate, il freddo mi è entrato nelle ossa oltre che nei polmoni (come piace a me) ma ho avuto modo di pensare a quanto io sia cresciuta come persona negli ultimi due mesi scarsi, a quanto io sia adesso più fiera e consapevole di me stessa, più aperta al mondo e alla vita. Decisamente per Natale ho avuto il regalo migliore che potessi desiderare: sono più vicina alla persona che vorrei essere.
... #justice ~ is a #soliloqui of hypocritical #love !
( #Samara )
... #justice ~ is a #soliloqui of hypocritical #love !
( #Samara )
c’è una speciale provvidenza anche nella caduta di un passero. Se è ora, non è a venire; se non è a venire, sarà ora; se non è ora, pure sarà a venire – essere pronti è tutto. Visto che nessun uomo sa niente di ciò che lascia, che è lasciare per tempo? Che sia
Hamlet, W. Shakespeare
Perfino in Amleto trovo uno sprone ad essere lievi, perfino in una tragedia così cupa trovo insegnamento al vivere leggeri, senza il fardello del tuo ieri e del tuo domani, essere pronti è tutto. Amleto è tornato vivo dal viaggio, contro i progetti assassini del re usurpatore, e sembra avere “rimuginato sul suo rimuginare”. Poi sarà che voglio leggerlo così, non so, sarà pure che ho bevuto dell’ottimo rosso...
Do what you wish
“He repartido mi vida inútilmente entre el amor y el deseo, la queja de la muerte, el lamento de la soledad. Me aparté de los pensamientos profundos, y he agredido a mi cuerpo con los excesos y he ofendido a mi alma con la negación.”
"...me habló de la mariguana, de la heroína, de los hongos, de la llaguasa. Por medio de las drogas llegaba a Dios, Se hacía perfecto, desaparecía. Pero yo prefiero mis viejos alucinantes: la soledad, el amor, la muerte."
******
“Me he sentido culpable de derrochar la vida y no he querido quedarme en casa a atesorarla. Tuve miedo del fuego y me incineré. Amaba las páginas de un libro y corría a la calle a aturdirme. Todo ha sido superficial y vacío. No tuve odio sino amargura, nunca rencor sino desencanto. Lo esperé todo de los hombre y todo lo obtuve. Sólo de mí no he sacado nada: en esto me parezco a las tumbas.”
Noli foras ire, in teipsum redi; in interiore homine habitat veritas...
Tukang Air PDAM
Aku anggap itu yg aku lakukan kini. Mengintip meteran kamu secara reguler. Tak peduli jauh dan liku liku menujumu. Sebulan sekali aku datang padamu. Sebentar.
Seperti benang merah. Ya. Aku ini kok deketnya justru mostly sama introverted people. Dan tertariknya sama mereka. Dari dulu. Mungkin ini keseimbangan.
Orang bilang aku extrovert mutlak, ga ada malu malunya kalo udah di tengah sorotan lampu perhatian. Iya. Itu saat puncak pubertas. Kini aku kembali. Kepada awalku yang memang anak introvert. Sejak kecil. Bukan menjadi tetiba pendiam. Tapi lebih banyak menimbang dan tidak sespontan aku jaman puber.
Aku masih meledak dan jadi badut di kelompok. Aku suka jadi perhatian. Jadi sumber kebahagiaan. Tertawa walau aku jadi kelihatan bodoh. Tak apa. Sungguh. Aku hanya ingin lihat lengkungan itu di bibirmu. Syukur syukur sampai kelihatan gigi.
Tapi aku ya masih sama. Kadang suatu malam terlalu banyak merenung sampai pagi. Sampai subuh dan justru mengantuk saat adzan. Beruntunglah punya ayah dan mamah yg ga pernah abis tenaga dan akal buat bikin sadar. Kamu, si Aku, yang mau sadar saat kamu mau saja. Timingnya bahkan kamu ngga tahu jelas.
Aku yah masih begitu. Banyak menulis tapi tak suka dibaca. Karena manusia kejam. Tulis sedikit sudah prasangka. Dulu, karena mereka, aku yang tetap menulis enggan berbagi. Siapa suruh begitu. Rasakan. Kamu ngga bisa mengambil hikmah dari apa yang aku alami. Hidupmu kan beda denganku. Siapa tau kamu ngga pernah merasakan episode seindah punyaku. Dan aku yakin, aku takkan iri padamu.
Aku, yang sekarang, mirip aku jaman kecil. Mau ngomong aja mikir. Iyalah. Kamu tau? Jaman puber, apa yang terlintas, apa yang kau dengar. Pedes! Gitu kata temen dekatku. Sekarang, aku paham. Ga semua respon tepat dikeluarkan saat ini. Kadang perlu diredam sebentar, perlu waktu, atau bahkan tidak sama sekali. Gedek? Ya kamu kan ga hidup sendiri. Mulutmu jangan jadi beban orang lain gitu lah.
Jadi? Tukang air PDAM yang suka ngecek meteran air rutin ke rumah rumah itu.. Aku ngga ngefans lho ya. Cuma rasanya nasibnya sama dengan aku. Hilir mudik ngga punya temen yang beneran deket kaya sahabatan duo sejoli, tapi rajin nengokin temen yang bahkan deketnya gapernah ketemu muka. Yang bahkan sekampus tapi ketemu cuma sebulan sekali, bahkan lebih. Yang se-kota, tapi mau ketemu kudu reserve jadwal jauh jauh hari. Gitu. Tapi kamu bela bela. Rindu katamu. Butuh share dengan serandom randomnya jenis orang. Walau mungkin antara temanmu ada yang beda sama sekali, mungkin saling ga suka bahkan cuma kamu irisannya.
Terus dengan isengnya, kamu cari kesamaan antara mereka. Dengan ilmu se-abal abalnya kamu judge karakter dan kehidupan mereka. Tentu saja hasil analisis ini tak mau kubagi denganmu. Ini off the record yang mungkin masih terlalu banyak kesalahan penulisan dan analisis. Tapi seru.
Misal, temanmu dan kakak yang baru kamu temui di dunia maya, punya karakter MBTI sama banget dan ternyata mengatakan quote sejenis. Duniamu melebar!
Terus begitu. Connecting your network. Sebegitu asik mencari pola dengan terus menambah input jaringan. Ini menyenangkan katamu. Terserahlah. Kamu kan Aku. Jadi ya terserah kita ya.