Sopir baru
Soalnya, kalau nggak nekat, kapan mau berani?
Ini adalah kali pertama aku menyetir tanpa didampingi bapak yang selalu memberikan arahan sepanjang aku yang bawa mobil. Rasanya sedikit takut, tapi lebih banyak excitednya. Karena rute yang akan aku lewati adalah rute yang sudah aku khatamkan berkali-kali dengan motor, jadiiii.. sepertinya gak akan ada masalah.
Karena rasa percaya diriku masih level sedang, meskipun gak didampingi bapak, bukan serta merta aku benar-benar sendirian, just in case aku butuh tukang parkir, ya kan?? wkwkwk. Sudah hampir 5 km berlalu, aman-aman saja sampai akhirnya, sampailah pada rute yang lagi ada perbaikan jalan. macet. lamaaaaa kali. kesabaranku yang gak terlalu tebel ini terkikis juga, yaudah aku minta adikku untuk buka maps dan ambil rute alternatif. turns out, rute alternatif memang lancar, tapi jalannya hanya muat satu mobil. meskipun wajah terlihat tenang, tapi hati gak berhenti istighfar. gimana kalau tiba-tiba papasan dengan truk atau mobil yang lebih besar?
Baru aja ngebatin, ternyata langsung dikasih simulasinya. wkwkwk, untunglah sesempit-sempitnya jalan, adikku bisa ngarahin dan aku bisa mengontrol emosiku untuk lebih fokus dan tenang, wkwwkwk. rasanya, jalan yang cuma dilewati selama 20 menit ini berasa satu jam.
Tapi, gak sampai situ aja, ternyata belok sambil kasih uang untuk tukang yang bantu di pertigaan/perempatan jalan itu susah sekaliiiii. alhasil, setiap ada pertigaan dan aku harus belok, aku minta adikku untuk pindah ke bangku belakang agar bisa lebih mudah ngasih uang untuk tukangnya. Yang ininih yang aku belum lulus. Multitasking untuk buka jendela sambil kasih uang sambil fokus setir di tangan, dah lah, nyerah.
Finally, aku sampai rumah dengan selamat alhamdulillah dan nampaknya, ada senyum yang cukup lebar di wajah Bapak. selain mobilnya yang kembali tanpa lecet, nampaknya Bapak dah lebih percaya sama aku untuk nyetir sendiri. Karena Bapak lagi senyum, nanti ajalah aku cerita tentang tukang parkir di perempatan jalannya. wkwkwk ^^
Oia, apa yang membuatku takut, ternyata kalau dah terlewati gak semenakutkan itu. Yaa... terkadang sedikit nekat itu perlu, tapi nekat yang harus diukur juga antisipasinya.













