Sore ze Band!
Sore - Bantal Keras
Masa terkapar menyelami keramaian berakhirlah pudar
Dalam kelimpangan kelah
Terkalungi kerinduan dari fihak yang mendambakan semu
Taklah, tiada lagi rindu
Dan salahku dia hilang
Terhempas kemarau waktu yang menggarang
Dan salahku tak ku jelang
Seribu juta masalah rikuh
Rapuh, bisu
Dan bila melati menari rindukan kau
Akankah sahabat menungguku
Jika beranjak senja menuju ufuk
_______
Mungkin aku lupa ya memperkenalkan band ini. Sore adalah salah satu band paling istimewa di Indonesia. Musik dan liriknya semuanya membunuh! Setidaknya itu yang terasa dalam dua album penuh dan satu album kompilasi. Tidak ada kejenuhan!
Tapi jujur saja, pertama kali mendengar mereka aku tidak langsung jatuh cinta. Jujur aku menilai penampilan live mereka tidak terlalu istimewa (terlepas dari kualitas rekaman di youtube). Apakah kehilangan tempo atau mixing-an yang buruk aku tidak tahu detailnya. Yang jelas, penampilan live Sore tidak istimewa.
Bisa jadi ini seperti kasus The SIGIT. Segila apapun aksi panggung mereka, dukungan kualitas suara belum maksimal. Aku yang belasan kali menonton konsernya merasakan itu. Aku menduga itu mixing-annya. Sound Engineer nih berarti.
Oke, lupakan itu. Yang terpenting adalah terciptanya karya-karya yang luar biasa. Album Centralismo (2005) menyuguhkan SEMUA lagu bagus. Sumpah tidak ada lagu jelek di album ini.
Album Ports of Lima (2008) adalah endapan pasir dari gunung berapi di muara sungai. Pasir yang bergizi, berkumpul menjadi satu di album yang sangat idealis. Cukup sulit menerima mereka membuat lagu-yang-barang-kali-tidak-terlalu-mudah dinikmati liriknya. Harus didengarkan beberapa kali sebelum mengakui kehebatan band asal Bogor ini.
Apatis Ria adalah sikap untuk mengelabuhi rendah diri. Sakit yang menyakitkan ditantang dengan sikap percaya bahwa sakit ada nikmatnya.
Banyak lagu yang bermain dengan kata dengan menyusupkan alam. Musim Hujan adalah lagu favoritku untuk band ini. Keteduhan tingkat dewa yang dihadirkan terlalu mewah. Semua lagu cinta Sore tidak pernah yang aku-sayang-kamu, melainkan “Sukakah kau pada redup larut di dalam alam biru. . .
Jika Bantal Keras adalah sentuhan hati yang terabaikan oleh sahabat, maka lagu semua lagu cinta akan gugur dengan sendirinya. Fase hidup sebelum berkeluarga adalah duplikat kunci siapa diri kita sebenarnya. Jika salah satu pemegang kunci itu tidak ada, fase sudah berkeluarga pun tidak akan cocok untuk membuka sebuah album kenangan. Kehilangan seorang sahabat adalah kehilangan sebagian pengalaman hidup.
Mata Berdebu adalah kegelisahan. Tidak perlu mengatakan gelisah untuk mengungkapkan isi hati. Semua hukum itu dilakukan Sore dengan menghadirkan musik dan lirik yang atmosferik--pembawaan suasana ketimbang kata. Dari sana kegelisahan itu menyembul keluar di antara kabut.
Funk the Hole berlari dengan waktu. Menyadari juga kuasa sang waktu. Ketika pusat kehidupan itu lebih bermakna materi, ini merisaukan. Dan dengan merisaukan lubang kepicikikan inilah manusia bisa bahagia.
Setengah Lima adalah kekaguman sejenak di tengah perjalanan. Boleh menduga kilat bernama cinta pada pandangan pertama. Bualan yang menyedihkan? Setiap lagu Sore adalah rasa. Menemui rasa akan lebih sulit jika belum pernah merasa. Anehnya, semua itu sama pada akhirnya.
Cermin mewakili sisi manusia yang sangat lemah. Dua sisi pengambilan keputusan yang beradu. Dua sisi yang harus diakui ada di diri manusia. Di diri ini, rasa yang lain, pendapat yang lain, ingin yang lain, diri yang lain berhasrat keluar tak cuma didengar. Pergolakan batin dengan musik yang menyeramkan. Diri, biarkan karma berbicara/Tak heran dirimu terisak Ucapkanlah dendam.
Aku sudah bilang semua lagu Sore tidak ada yang jelek. Ini hanyalah beberapa contoh pengalaman mendengarkan lagu mereka. Interpretasi yang kurasa. Karya mereka tidak mati, malah kuhidupkan dan kupanjangkan.
Awan, Ade, Eca, dan Bembi adalah band dengan personil yang memiliki bakat menggunakan tangan kiri. Tentu ini sangat nyentrik ketika melihat semua personilnya memegang instrumen secara terbalik.
Dono Firman dan Mondo Gascaro sayangnya sudah terburu cabut. INi sangat menarik untuk mengetahui album yang akan datang. Tanpa seorang Dono dan Mondo yang punya peran besar di balik meja rekaman. Tanpa ciri khas keyboard milik Mondo yang aduhai. Tanpa synth membius milik Dono.
Sore dari personil yang tersisa sepertinya akan kesusahan. Dengan mereka pun, performa langsung tidak enak didengar. Sangat jauh dengan hasil rekaman.
Begitupun, aku tetap mencintai Sore. Band dengan ciri khas yang tidak akan pernah mungkin diduplikat. Bermain kidal, semua anggota band ambil vokal, memainkan instrumen sambil bernyanyi dengan nada dan lirik yag tidak wajar, hmmm, Sore adalah satu-satunya. Inilah mereka, SORE ZE BAND!














