Allah, Aku, Si Orang Asing, dan Si Pengembara.
-Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” (HR. Bukhori)- "Orang asing? Musafir? Dalam pandangan saya, "orang asing" itu adalah orang yang sengaja atau tak sengaja mengasingkan diri atau diasingkan dari pergaulan. Begitu juga musafir, orang yang mengembara dari satu daerah ke daerah lain, tanpa mengerti harus makan dimana tidur dimana matinya juga dimana. Gak jelas. Masa sih disuruh jadi orang asing ataupun musafir? Dijaman seperti ini? Please" Itulah sederet pemikiran yang terlintas dalam pikiran awam atas hadits Rasul diatas. Jika dipikir2, memang ironis sekali ya, kita di dunia disuruh jadi orang asing dan disuruh jadi musafir. Tapi, jika kita ingin melihat lebih kuas dan lebih dalam lagi, makna "orang asing" dan "musafir" itu jauh lebih mulia dari yang kita pikirkan sebelumnya. Memang tingkat pemahaman agama dan spiritualitas setiap orang berbeda, namun saya akan mencoba mendalami makna dari 2 istilah tersebut sesuai tingkat spiritualitas saya. "Jadilah seperti orang asing" Orang asing. Orang yang tidak peduli perlakuan keadaan sekitar, orang yang anti-mainstreem, orang yang memiliki gap dengan keadaan sekitar. Dan masih banyak lagi. Menurut saya pribadi, makna dari kita yang sebagai orang asing yaitu kita itu menjalani kehidupan kita sendiri. Kita hidup bukan karena manusia lain. Hidup kita bergantung pada apapun yang kita kerjakan, bukan yang orang lain kerjakan. Tak jarang kita menjadikan seseorang atau banyak orang sebagai pegangan dalam hidup kita. Saking percayanya, kita sampai2 menggantungkan harapan setinggi langit kepada mereka yang sesama manusia, entah itu harapan akan kesetiaan, harapan akan pembalasan, harapan akan kebaikan, harapan akan masa depan dan lain sebagainya. Dan ironisnya, tidak jarang, sangat sering malah, pengharapan itu berbuah kekecewaan. Hal tersebut membuat kita lupa akan keberadaan Allah sebagai satu-satunya tempat pengharapan yang sempurna, yang tidak akan ingkar dan tidak akan memberikan kekecewaan bagi kita yg telah menggantungkan harapan kepada-Nya. Oleh karenanya, untuk menghindari keburukan itu, oleh Rasul diibaratkan, didunia ini, sudahlah, hidup itu seperti orang asing saja. Toh ujung-ujungnya, semakin tinggi pengharapan kita pada orang lain, orang lain juga akan mengecewakan kita. Bergantung saja hanya kepada Allah semata. Seperti riwayat dari Imam Syafi'i "Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang, maka Allah timpakan atas kamu pedihnya pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap kepada selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya". Kita dari Allah, oleh Allah, dan ujung-ujungnya kembali kepada Allah. Jadi, sudahlah, serahkan semua pengharapan kepada Allah, sang pencipta manusia. Tapi tunggu sebentar. Bukankah kita selain disuruh menjaga hubungan baik dengan Allah (hablumminallah), kita juga disuruh menjaga hubungan baik dengan manusia (Hablumminannas)? Ya, benar. Menjadi orang asing tidak melulu mendiamkan dan menjahati orang lain kan? Menjadi orang asing bukan berarti tidak mempedulikan orang lain. Kita tetap dianjurkan untuk berbuat kebaikan kepada sesama manusia, wajib malah. Dan kita juga tahu kalau salah satu sumber dari ridho Allah terhadap kita adalah bagaimana perasaan yang kita timbulkan didalam hati sesama manusia atas kita. Jadi, makna dari "jadilah orang asing" adalah berbuat baiklah di dunia, berbuat baiklah ke sesama insan, dan berusahalah untuk membahagiakan setiap orang yang kamu kenal, atau minimal tidak menyakiti hati mereka. Sudah. Itu saja tugas kita terhadap sesama manusia. Tidak usah mempedulikan pembalasan yang mereka berikan. Tidak perlu mengharapkan apapun. Kalau dibalas dengan kebaikan ya Alhamdulillah masih ada orang yang menghargai kita, kalau dibalas dengan keburukan ya syukurillah masih ada orang yang mengingatkan kita untuk jadi lebih baik. Diambil positifnya saja. Jangan terlalu memikirkan perbuatan orang ke kita. Ingat "jadi orang asing". Namun sebaliknya, kepada Allah, sudah, puas2kan bermanja-manja pada Allah, puas-puaskan curhat dan cerita apapun ke Allah, puas-puaskan mengharap apapun ke Allah. "Jadilah seperti Musaffir" Musaffir. Orang yang tidak punya tempat tinggal tetap. Orang yang hanya singgah sementara. Menurut saya pribadi, "musaffir" memiliki makna yang sentimentil, yaitu "kulo niki mlarat, mboten gadah nopo-nopo. Sedoyonipun ingkang kulo gadah nggih meniko "barang titipan". Kulo luntang-lantung dumateng dunyo nggih namung numpang" yang artinya, kita di dunia ini sebenarnya mlarat, tidak punya apa-apa. Semua yang kita miliki sekarang pun hanyalah titipan saja, tidak abadi dan tidak kekal. Di dunia ini kita hanya numpang, dan waktu numpangnya pun limited, ada batasnya. Mari resapi satu-satu. Mengapa kita sebut kita mlarat? Ya. Kita semua sama. Antara CEO perusahaan multinasional dengan tukang sol sepatu sama saja, antara Bill Gates CEO nya Microsoft dengan Cak Bud bakul mlijo rujak buah dekat rumah saya itu ya sama saja. Sama mlaratnya dimata Allah. Uang, harta kekayaan, pride, anak, istri/suami, rumah tanah emas, itu semua hanya titipan. Punya Allah. Ya. Sejatinya itu bukan punya kita. Kita tidak punya apa-apa. Lantas, apa dong yang membedakan setiap insan? Masa sama semua? Oo jelas tidaak.. Memang semua yang bersifat materi dan "ketok moto", keliatan mata, adalah milik Allah. Tapi sebenrnya, kita juga punya harta. Yaitu akhlak dan perilaku. Itu yang kekal. Itu yang benar-benar milik kita, bukan titipan Allah. Lantas, apa hubungannya coba dengan disuruh jadi musaffir? Nah, apapun yang kita miliki didunia ini tidak kekal, apapun yang ada disekitar kita ini tidak kekal, yang kekal hanya akhlak perilaku ibadah kita kepada Allah dan sesama manusia. Apapun yang ada di dunia, yang ketok moto didunia, semua tidak kekal, karena saya percaya akan hari akhir. Semua akan kembali kepada sang pencipta, Allah SWT. Jadi, okelah gakpapa kita cari materi kedonyan, uang untuk makan, uang untuk sekolah, uang untuk beli baju. Tapi diniatkan lebih ke ibadahnya, jadinya seperti ini, ah aku mau cari uang buat makan, biar nanti pas bekerja aku semangat mencari uang yang halal untuk istri dan anak-anakku, karena aku tahu ridho Allah terletak di kebahagiaan keluargaku. Dan seperti ini, ah aku mau cari uang untuk pendidikan, supaya pendidikan ku lebih manfaat dan bisa menyampaikan dakwah Allah kepada sesama, karena aku tahu salah satu amalan yang tak terputus adalah ilmu yang bermanfaat. Seperti itu. Fokuskan hidup kita untuk mencari bekal akhirat, bukan dunia. Akhiratlah yang kekal, bukan dunia. Kita di dunia hanya numpang lewat, cuma 1,5 jam nya akhirat. Bayangkan. Oleh karena itu, jangan berkecil hati jika jadi tukang becak. Mungkin dikala sepinya orang yang mau naik becak, pak tukang becak bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk baca Al-Qur'an, sangu akhiratnya nambah deh, dan jangan kelewat bahagia jika nilai saham makin naik, buru-buru telpon orang kaya A sampai Z supaya yang jadi stock brocker dapat komisi banyak, justru waktu mu kamu habiskan hanya untuk memenuhi kedonyanmu, seharusnya sih khawatir. Hidup di dunia layaknya pengembara aja deh, jangan terlalu cinta hal-hal kedonyan. Toh pastilah apapun yang "terlalu" itu pada akhirnya akan berakhir buruk. Yah, Wallahua'lam. Lalu, apa kaitannya dengan "orang asing" dan "musaffir"? Yang bisa saya petik : lakukan apapun yang terbaik kepada sesama manusia, bahagiakan mereka. Tapi memang, kita tidak bisa membahagiakan setiap manusia yang kita kenal. Jadi, setelah berusaha cukup keras untuk "hablumminannas", cukup serahkan semuanya kepada Allah "hablumminallah". Hanya bergantung kepada Allah. Karena kita tahu, dunia ini tidak kekal, di dunia kita hanya mencari bekal untuk akhirat, kita hanya mengembara. Jadi, jadi orang asing saja, tidak usah terlalu bergantung pada orang lain. Tidak usah takut dibenci, tidak usah takut dijauhi, tidak usah takjut dikhianati, tidak usah takut dijahati. Toh mereka manusia, Serahkan semua kepada Allah. InsyaAllaaaah, Allah akan tinggikan derajad hamba-Nya yang benar-benar menghamba pada-Nya.








