Spotef.
Deringan telepon itu menganggu pagiku. "Ya ya ya, aku bangun sekarang." Ucapku dan memutus sambungan. 04.55. Sial. Selalu tak pernah bisa tepat waktu. Bahkan ini terlalu pagi, bajingan sialan. Oh, aku harusnya berterimakasih, dia membangunkanku lebih awal pagi ini membuatku teringat akan pekerjaanku yang masih menumpuk di pojok ruangan. Aku melangkahkan kaki ku keluar kamar, berniat meminum segelas air, ketika suara derit pintu terdengar nyaring. Rasa waspadaku semakin menajam, ketika pintu mulai terbuka. 'Siapa yang datang jam segini?!' Terdengar suara langkah kaki menggema ke seluruh sudut rumah. Aku perlahan berjalan ke arah dapur, mengambil sebilah pisau yang ada. Lampu menyala. "Argh kau rupanya!" Geramku frustasi ketika melihat James melangkah gontai ke arah kamarnya. "Kau belum tidur Reine?" Aku meneguk air dari kulkas, "Aku baru bangun." Ujarku setelahnya. "Hmm? Sepagi ini? Tumben sekali." James menaruh post-bag nya diatas pantry dan meninum air yang tadi kuminum. "Si bodoh itu terlalu pagi membangunkanku." Ujarku kesal. "Kau kenapa baru pulang jam segini?" "Lembur, biasa. Ada target yang di kejar atasanku jadi.... ya kau tahu lah bagaimana." Aku melangkahkan kakiku ke arah sofa panjang dan menyalakan televisi. "Kau jangan terlalu kasarlah padanya, dia kan sudah baik sekali padamu." "Ya... mauku pun begitu." *** "Pagi Reine." Sapa Speiler saat aku menghampiri konter pemesanan. "Pagi. Lattenya 1 dengan kacang ya." Speiler menekan nekan layar mesin dengan cekatan. "Ada lagi?" Tanyanya. "Ah, satu potong donat lapis. Dan aku tunggu kau di mejaku." Ujarku. Speiler terlihat tersenyum senang sambil melirikku terus menerus. "Apa lihat lihat? Aku butuh kau untuk tugas akhirku kau lupa?" Ujarku ketus. Speiler menarik struk yang keluar dari mesin dan memberikannya padaku. "Iya aku tahu kok." Aku segera mengulurkan beberapa lembaran uang kertas dan berlalu pergi meninggalkan Speiler yang menyiapkan pesananku. *** Aku mengarahkan laptop ku ke hadapan Speiler. Rasanya grafik yang kubuat masih ada yang salah. "Grafik mu sudah sempurna, hanya saja..." aku mendesah lelah. "Apa?" Dia mengetikkan rumus tambahan yang menghasilkan sedikit perbedaan pada grafikku. "Apa bedanya?" Dia duduk lebih dekat kearahku dan memainkan telunjukknya di layar. "Grafik yang ini jadi lebih sama dengan data yang kau buat, tepat 100%. Kau mau diomeli oleh pembimbingmu lagi hanya karena kurang akurat?" Aku menggeleng cepat. "Jangan lupakan rumus yang tadi ya." Aku mengangguk cepat dan merapikan buku buku ku yang bertebaran di meja. "Sudah mau pergi lagi?" "Tentu saja, aku mau bertemu ibuku hari ini." Yang di sambut ah riang oleh Speiler. "Apa dia sehat sehat saja?" Aku mematikan komputer jinjing ku dan memasukkannya ke dalam tas. "Jika tak ada kabar dari bibi kalau ibu kembali dipukuli ayah sih harusnya dia tak apa apa. Aku pergi ya." Terdengar suara pekikan kecil dari belakangku, yang pasti bukan suara Speiler. Aku menengok ke segala arah. Memang sih rasanya ada yang mengintai ke arah ku dan Speiler sepanjang tadi, tapi aku berusaha menghiraukannya. "Ada apa Reine?" Tanya Speiler khawatir. "Berhati hatilah Speiler. Rasanya dia ada disini." *** Bibi berlari dari ujung jalan ketika melihatku turun dari bis. Nafasnya tersengal sengal, wajahnya menunjukkan raut khawatir. 'Ada apa lagi?' Batinku gemetar bertanya. "Reine.. reinee!!" "Ada apa bi?" Tanyaku setengah berlari menghampiri bibi. "Ibu mu Reine, ibumu!" Nafasnya makin tersengal sengal saat mau bercerita tentang keadaan ibu. Aku berlari ke rumah sambil menopang bibi yang mulai kelelahan. Ibu nampak pucat, dengan memar di sekujur tubuhnya. Luka goresan pisau yang mengalirkan darah segar nampak di pipinya. Aku segera membopong ibu keluar rumah, menuju klinik terdekat. *** Badan ibu tergolek lemah diatas kasur. Firasatku bilang, pasti orang orang itu datang lagi kerumah dan membawa ayah. Tanganku mengepal hebat, kesal dengan ayah yang tak pernah menghargai jerih payah ibu selama ini. Semua hasil jerih payah ibu dihamburkan begitu saja bagai kapas, dan jika kurang untuk dihamburkannya, pasti ibu di sakiti dan dianggap menyembunyikan uang hasilnya. "Kau pulang Reine?" Ah akhirnya Tuhan, ibu sadar juga. "Apa orang orang itu datang lagi?" Tanyaku khawatir. Ibu mengangguk lemah. "Ibu tenang saja. Ibu akan dibawa oleh Kakak saja nanti. Jika ibu terus disini, ini akan membahayakan nyawa ibu." Ujarku. Ibu menggeleng. "Tidak nak, nanti ayahmu bagaimana.." aku menghela nafas kesal. "Biarkan saja. Semua ini salah ayah bu. Ibu akan lebih aman bersama kakak, ya?" Aku terus meyakinkan ibu. "Ayahmu, tak bersalah nak.... dia.... hanya...." "CUKUP IBU CUKUP! INI SEMUA SALAH AYAH KENAPA IBU MASIH MEMBELANYA DI DEPANKU!!" "Dia.... melakukan semua ini..... demi kita.." "APANYA YANG DEMI KITA JIKA IBU TERUS MENERUS YANG JADI PELAMPIASAN AYAH BU! IBU YANG TERUS MENYAMBUNG HIDUP DAN AYAH YANG MENGHAMBURKANNYA KENAPA IBU MASIH MEMBELANYA, KENAPA?!" Kesabaranku habis. Terbayang kembali bagaimana rapuhnya tubuh ibu setiap aku datang dengan memar di sekujur tubunya. Bahkan ibu tak mampu mengobatinya sendirian. Lamunanku buyar ketika terdengar bunyi ketukan pintu dari luar. Paket dengan sampul coklat. Paket yang selalu datang bertepatan dengan kedatanganku kerumah. "Paket dari siapa nak?" Tanya ibu. Nama ini. Nama ini lagi. Batinku terasa tak nyaman melihat namanya. "Siapa nak?" Tanya ibu lagi. "Spotef." *** "Ah pria itu." "Dia pria baik." "Dia beberapa kali datang kerumah melihat ibu." "Apa kau tak mengenalnya Reine? Dia bilang dia mengenalmu sejak lama. Dan dia bilang dia sangat dekat denganmu. Masa kau tak kenal dia?" Lantunan suara Ariana Grande di televisi tak mengusik lamunanku. Spotef? Dekat denganku? Sedekat apa dia sampai sampai aku tak sadar kalau aku dekat dengannya? 'Apa yang ibu bicarakan sih?' Tanganku memijit remote tv cepat. 'Masa ibu kenal dia dan aku tidak?' Spotef tak bisa berpaling dari pikiranku. Aku mengalihkan pandangan ke arah tv yang menampilkan Ellen Degeneres yang biasanya menarik perhatianku. Tapi kali ini entah kenapa Spotef masih menjadi topik di otakku. "Vone pulang! Ada orang disini?" Aku menengok ke belakang sofa. "Apa hari ini menyenangkan?" Tanyaku pada Ivone, dia lebih senang di panggil Vone, yang sedang meneguk soft drink dingin dari kulkas. "Pemotretan hari ini benar benar menyebalkan. Kau tahu fotografer muda yang sedang naik daun saat ini?" "Alexander Wagen?" "Ya ya ya dia dia, tepat sekali. Si tuan menyebalkan. Kau tahu apa yang dia bicarakan soal tubuhku sepanjang pemotretan?" Aku menaruh rasa ingin tahu pada cerita Vone. "Dia bilang tubuhku bergelambir! Cih, sekarang aku tanya padamu, bagian tubuhku sebelah mana yang bergelambir, hah?" Aku memperhatikan tubuh Vone yang semakin hari semakin kurus saja. Aku menggeleng cepat yang menimbulkan gurat senyum di wajahnya. "Hei kau sudah mencoba kue buatan James?" Tanya Vone sambil membawa sepiring kecil kue ke depan tv dan duduk di sampingku. "Dia tahu bagaimana cara membuat kue Rum?" Ujarku takjub. Ini kue kesukaan Vone. Vone memakannya dengan sangat lahap. Hmm, bau apa ini? Aku mengendus kue yang sedang di makan oleh Vone. "Kenapa? Ada yang aneh?" "Apa benar bau rum seperti ini?" Tanya ku pada Vone. Vone mengendus kue yang sedang dimakannya. "Ini bau rum kok. Kau mau?" Tanyanya yang ku balas dengan gelengan cepat. *** Telepon genggam ku berbunyi berulang kali hingga membangunkanku. "Halo?" Jawabku setengah mengantuk. Siapa yang menggangguku di pagi buta ini?! "Reine?" Ah ini suara managernya Vone, Bianca. "Bicaralah Bian." Ucapku sambil merebahkan diri kembali ke kasur. "Bisa kah kau bukakan pintu untukku? Aku harus menjemput Vone untuk jadwal hari ini. Aku sudah menghubungi ponselnya namun tak kunjung diangkat." Ada apa ini? Mataku tak mampu terpejam mendengar suara Bianca diujung sana. Aku memutuskan hubungan dan berlari ke pintu depan. Bian segera melangkah masuk mengetuk pintu kamar Ivone. Tak ada jawaban. Bulu kudukku bergidik. Ada yang tak beres disini. Aku melangkah ke arah kamar Ivone dan memutar kenop pintu kamarnya. Tak di kunci. Tak biasanya Ivone membiarkan pintu kamarnya terbuka. Aku memberanikan diri untuk melangkah masuk ke dalam kamar Ivone. Indra penciumanku di sergap bau amis yang menyengat. "AAAAAAAAAA" Bian berteriak saat mata kami melihat tubuh Ivone bersimbah darah di lantai kamarnya. Tergolek tak bergerak. James datang menghampiri kami. "Ada ap---- ASTAGA!" Tanganku segera menelepon 911, memanggil ambulan untuk membawa Ivone secepatnya. *** Pemakaman Ivone baru saja selesai. Aku sedang duduk di sebuah taman, tak jauh dari pemakaman sambil menunggu Speiler. Siapa sih, orang yang tega membunuh gadis sebaik dia? Apa ada yang merasa iri dengan Ivone? Ya, Ivone memang tergolong sukses di dunia model tahun ini tapi dia tak pantas diperlakukan seperti ini. 'Polisi akan terus melakukan penyelidikan soal kematian Vone, Reine. Tenanglah.' Aku mencoba menenangkan diriku sendiri. Ah Speiler datang. "Aku turut berduka atas kepergian Vone, Reine." Ujarnya sambil menepuk pundakku perlahan. Aku kembali menangis dan Speiler memelukku, membuatku merasa lebih nyaman. *** Speiler mengendus kue sisa yang dimakan oleh Vone. "Aku hanya merasa ini bukan rum makanya aku bertanya padamu." Ujarku ragu. Aku merasakan ada sepasang mata melihat ke punggung kami saat ini. Tatapanya tajam dan menusuk, rasanya aku hampir mati hanya dengan ditatapnya. Telepon genggamku bergetar. James: Bisa kau pulang sekarang? Rasanya aku tak enak badan. "Rasanya... ini bukan rum, Reine. Kapan kau tahu ini bukan rum?" Tanya Speiler. "Semalam, sebelum Vone tewas." "Apa kau memasukkan bahan yang salah saat kau membuat kue ini?" "Kue ini bukan buatanku, ini buatan...." aku terdiam sejenak mengingat ucapan Vone semalam. "Hei kau sudah coba kue buatan James?" Oh tidak. *** Aku berjalan pulang, di dampingi Speiler. Dia hanya khawatir akan terjadi sesuatu padaku. Apa iya James yang membunuh Vone? Dengan alasan apa? Aku membuka pintu flat dan melepas sepatuku. Speiler terus menerus menggenggam tanganku, dia juga merasakan ada yang tak beres disini. Aku melangkah ke kamar James, dan meninggalkan Speiler di depan tv. Kamar yang tak pernah ku masuki selama kami tinggal bertiga. Aku menutup mulutku. Kakiku lemas, tak menemukan James dikamarnya. Yang kutemukan ialah, kumpulan kepala manusia, ya hanya kepalanya tanpa badan, dengan kondisi mengenaskan. Mata mereka membulat, seakan ditekan dari dalam kepala mereka. Dan aku menemukan kepala Vone, tergeletak disana disamping kepala yang nampak familiar. Ayah. Mataku berair disusul suara tembakan dari luar kamar James. Aku berusaha kabur namun sialnya.... "Wah, aku akan memperoleh 3 kepala baru hari ini Reine." Ujar James sambil berjalan pelan memojokkan ku. "Kepala Vone, Speiler, dan..... kau" Pandangan ku menggelap diikuti suara tawa James yang tak pernah kudengar sebelumnya.












