Palestina, Google, dan Kehebohan yang Selalu Berulang
Dua minggu gak mainan facebook, aku ketinggalan kehebohan yang melanda dunia internet dan grup-grup WhatsApp; Google menghapus Palestina dari Google Maps. Aku menanggapi dengan dingin. Tanggapan yang sama dengan kehebohan Google Translate yang dulu itu. Tanggapan dingin yang dianggap aneh karena orang-orang merasa aku lah yang seharusnya paling panas karena terkait dengan konflik Palestina dan Israel.
Seperti pernyataan dari Google ke AJ+ ini, mereka bukan menghapus kata 'Palestina', karena sejak awal mereka tidak pernah mencantumkan kata itu, kemudian memilih mencantumkan 'Gaza' dan 'West Bank'. West Bank dan Gaza adalah wilayah Palestina yang nama resmi internasionalnya di PPB adalah occupied Palesine Territories (oPT), artinya Daerah Terjajah Palestina. Tentu nama penjajahnya gak perlu dikasihtahu lagi, adalah Israel. Sebagai daerah terjajah yang batasnya masih dalam konflik, Google gak mencantumkan nama itu ke dalam petanya.
Kalau mau marah dan heboh silakan sekali, tapi hebohnya agak terlambat. Penjajahan Israel sendiri sudah dimulai sejak 1948 dan semakin parah ke sininya. Ruang hidup yang jelas-jelas milik rakyat Palestina dirampas. Wilayah yang jelas milik Palestina sekarang hanya Gaza, yang itu pun hanya 2% dari wilayah Palestina awal. Gaza yang terpisah jauh itu ter-exclave dari West Bank tanpa ada akses sama sekali ke sana. Sedangkan West Bank yang besar itu, di dalamnya, terpecah-pecah menjadi Area A, Area B, dan Area C (penjelasan area ini akan aku berikan di lain kesempatan). Yang setiap harinya, bahkan tanpa sempat diupdate ulang oleh Google Maps, sudah bukan milik Palestina lagi.
Aku bukan membela Google Maps karena tidak mencantumkan Palestina, toh aku sendiri meyakini pencantuman itu sangat penting. Tapi aku hanya ingin mengingatkan, kalaupun Google sekarang menuliskan Palestina di petanya, itu tidak akan menafikan kenyataan di lapangan bahwa penjajahan masih dilakukan Israel pada Palestina sampai detik ini.
Heboh silakan saja, tapi itu saja tidak cukup. Meski heboh adalah awal mula yang baik tentu saja, untuk belajar lebih jauh mengenai konflik Palestina dan Israel dari sisi geografi dan demografi. Semoga ketidakpencantuman ini ada hikmahnya, yaitu menyadarkan kembali semua orang, bahwa Palestina memang kenyataannya sedang dijajah dan mengingatkan kita lagi apa makna kata dijajah itu, dan betapa masih banyak kerja-kerja perlawanan yang harus dilakukan demi kemerdekaan Palestina.
Ditulis oleh Nadia Aghnia, dari Solidaritas Rakyat untuk Pembebasan Palestina (SRuPP)