Sepanjang diklat SSG banyak moment yg mengingatkan kita akan orang tua. Beberapa orang teman sudah tidak memiliki ayah, beberapa teman di diklat sudah tidak memiliki ibu, bahkan diantaranya ada yg sudah tidak memiliki keduanya. Alhamdulillah aku merasa beruntung masih memiliki keduanya, dan ngga sekalipun terbayang bagaimana hidup tanpa salah satu diantara mereka, apalagi jika keduanya tiada.
Tidak terbayang jika Allah berkehendak memanggil mereka lebih dahulu meski kematian itu adalah rahasia dan siapapun bisa dipanggil lebih dahulu, mungkin aku lebih dulu, mungkin salah satu diantara mereka lebih dulu, mungkin keduanya lebih dahulu. Tapi kematian tetaplah sebuah keniscayaan yang tidak bisa kita lari darinya.
Kelak jika salah satu diantara mereka terbujur kaku, badan dingin dan membiru hanya terbungkus kafan, dibantali dan ditimbun tanah, tidak sempat memeluk, tidak sempat meminta maaf, tidak sempat berterima kasih, tidak sempat meminta ridho dan doa. Tidak ada lagi tangan hangat yang kita salami, tidak ada lagi pipi yang kita kecup, tidak ada lagi peluk, tidak ada lagi nasihat, tidak ada lagi suara dan tawa mereka.
Yang tersisa hanyalah penyesalan. Menyesal tidak pernah berbakti dengan baik. Menyesal pernah berbicara keras dan kasar. Menyesal tidak pernah patuh. Menyesal pernah marah dan membenci. Menyesal pernah mengabaikan nasihat2 mereka. Menyesal membiarkan mereka menanggung dosa yang kita kerjakan dan kita merasa biasa saja. Menyesal sempat tidak menutup aurat dengan baik padahal itu membuat mereka dekat dengan neraka, dan kita biasa saja.
Bahkan sekalipun kini kita belajar ilmu agama yg belum pernah didapatkan. Sekalipun pemahaman agama kita sedikit lebih banyak dibanding mereka, pesan guru dan para pelatih adalah tetaplah menghormati mereka, tetaplah memuliakan mereka, tetaplah doakan mereka, tetaplah menjadi anak yang berbakti. Bisa jadi mereka tidak sempat belajar lebih banyak agama karena terlalu sibuk untuk dan memastikan kehidupan anak-anaknya baik-baik saja, sibuk mencari nafkah agar anak-anaknya mendapatkan makanan yang enak, pendidikan yang baik, baju-baju yang bagus, tempat tidur yang nyaman dan empuk untuk kita anak-anaknya. Bisa jadi kita sampai ke tempat belajar agama adalah karena doa kedua orang tua kita hingga kita sampai ke tahap ini dan tahap-tahap seterusnya. Robbi Habli Minassholihin, Robbi Habli Minassholihin, mungkin ini adalah doa kedua orang kita agar kita bisa belajar dan memahami agama agar kita bisa menolong mereka di yaumul akhir kelak
Selagi masih ada jadilah anak-anak baik, belajarlah untuk menjadi shalih. Karena yg mampu mengiringi dan menolong mereka di akhirat kelak selain amalan adalah doa anak-anak shalih. Yang mampu meringankan hisab mereka adalah anak-anak yang shalih. Yang mampu menerangi kubur mereka adalah doa dari anak yang shalih. Yang mampu menolong mereka dan membawa safaat di hari pertanggung jawaban kelak adalah anak-anak yg shalih. Jikapun sudah tiada tetaplah belajar menjadi baik.














