Soal
Bung, coba kau tatap cermin sejenak. Karena pada hakikatnya, setiap perbuatan yang telah dilakukan berasal dari cerminan diri. Ya, mulai dari diri sendiri.
Bung, coba setelah kau tatap cermin, tataplah ke samping cerminmu. Dunia ini berputar, bung! Berputar tanpa peduli manusia sedang jungkir balik menghadapi kerasnya dunia. Kejamnya dunia memaki diri yang ingin bertindak sesuai fitrah.
Bung, sudah tatap diri dan dunia? Bagaimana bung? Bisa apa kita dengan dunia sebesar ini? Dikejar pun tiada habisnya. Ditaklukkan pun bagaimana cara? Kita ini kan masih berdiri sendiri, bung? Benar?
Bung, dunia ini memang satu. Diciptakan untuk dikelola dengan baik bung. Tapi, bukankah setiap pengelolaan membutuhkan suatu keserasian? Ya, kita (manusia) bentuknya sama, potensi dasarnya sama, maka sudah seharusnya agar bumi diatur atas irama keserasian, kita harus mengikuti satu aturan.
Bung! Tapi, lihatlah? Bagaimana mau serasi? Disana teriak soal legalisasi LGBT. Disana teriak soal kesetaraan gender. Disana teriak soal keselamatan harkat dan martabat pelacur. Disana teriak soal pluralisme agama. Jadi, bumi harus gimana supaya tidak saling teriak? Supaya tidak saling menuntut.
Ingat bung! Bumi diam, sementara kita bergerak. Bumi hanya mengikuti poros rotasi berdasarkan gaya tarik matahari. Sedang kita bung, bergerak atas dasar : akal, nurani, ilmu dan hawa nafsu. Bung! Sempurna sekali.
Tapi, sayang. Belum ada keserasian di bumi ini. Keserasian yang datangnya dari Sang Maha Tahu tentang kebutuhan manusia dan seisi semesta ini. Sebenarnya sudah ada bung. Seribu empat ratus tahun yang lalu. Sudah diciptakan aturan agar dunia ini serasi, bung. Namun sayang bung. Keserasian itu masih kalah. Saat ini yang menang adalah soal ketidakserasian.
Sana bicara gitu Sini bicara gini
Jadi, gimana yang benernya?
Soal standar, bung. Standar hidup.













