Cerpen - #2 Bagaimana Mencintai Ibu?
Kau tahu, aku mencintai ibu. Yang benar saja, mana ada anak yang tidak mencintai ibunya. Tapi, itu semua seolah menjadi Lip Service yang hanya diucapkan sebagai formalitas posisi belaka--anak dan ibu. Sebab, di dalam lubuk hati yang terkubur, ada kebencian yang tidak bisa aku ungkapkan. Yang sulit untuk aku jelaskan dengan kesadaran penuh.
Aku sendiri heran. Kenapa setiap kali diskusi soal kehidupan, aku dan ibu selalu saja berseteru. Padahal, aku sudah mencoba untuk sebisa mungkin merendah di hadapannya. Tapi, pada kenyataannya, kebencian yang suilt diungkapkan itu masih saja muncul. Apalagi ketika ibu menolak pendapatku. Rasanya ingin kabur saja dan memutus percakapan.
Ada ‘bisikan’ halus yang membuatku bersikap demikian. Menolak setiap penolakannya dengan kebencian mendasar itu. Kau bisa bayangkan kutub negatif yang saling bertemu bagaimana? Tidak akan pernah menyatu.
Lamun Pelita di malam terakhirnya berada di kampung halaman. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan dahi mengkerut.
“Ada yang engga beres sih, sama hidup gue. Tapi apa, ya? Susah banget di galinya. Aku yang salah atau ibu yang salah sih? Ah, lagian ibu juga mana pernah mau dengerin pendapat anaknya. Gue udah gede gini juga, udah bisa memutuskan apa-apa sendiri. Gue kan bukan anak kecil lagi.” Keluhnya panjang lebar, sembari menggigit ujung gulingnya.
“Kamu kenapa?” Suara ibu memasuki keheningan malam itu.
Sedikit salah tingkah, tapi Pelita yang gengsinya besar langsung berubah menjadi masam. “Enggak.” Datar.
“Cek lagi. Jangan sampai ada yang ketinggalan. Udah semua belum? Perhatiin barang-barang sendiri. Nanti ketinggalan, ribut lagi.”
Pelita memasang wajah masamnya kembali. Gile! Masih pagi, ampun dah. Kesel banget. Mau balik lagi ke Bandung aja, kudu banget diginiin?
Pelita dan ibunya kemudian meninggalkan rumah untuk menuju agen travel. Awkward Silent. Perjalanan yang membosankan. Bahkan, sesampainya di agen travel pun, mereka berdua masih saja diam-diaman.
“Kamu tuh ya neng. Mbok ya kalau pulang tuh yang enak. Jangan marah-marah terus. Jadi enak ngga pulangnya?”
“Kalau ibu ngomong tuh ya dijawab.”
“Yang enak kalau jawab itu.”
“Iya bu, harus gimana sih?”
Sungguh, hubungan macam apa ini? Datar, hening, penuh dengan emosi terpendam. Komunikasi yang benar-benar tidak disertai kejujuran. Komunikasi yang terhambat, yang disebabkan oleh ego masing-masing. Dan ego tersebut, tidak pernah dicoba untuk ditundukkan dan didamaikan.
Sebuah hubungan yang seharusnya harmonis. Tercipta komunikasi yang baik--minimal itu. Walaupun kita tidak akan pernah bisa mengharapkan bahwa setiap hubungan itu mulus-mulus saja. Tapi, setidaknya, dengan komunikasi yang baik, ada masalahpun bisa dibicarakan dengan khidmat.
Kita tidak akan pernah mengerti isi hati orang lain, sebelum mereka bercerita. Kita pun tidak akan pernah bisa mendapatkan cerita, jika kita belum memulai untuk bercerita.
Hubungan yang tulus, tidak akan saling mendengki di belakang. Bahkan, hubungan yang tulus adalah buah dari kejujuran hati antar sesama yang menjalinnya.
“Pergi dulu...” Ada satu kata yang tersendat di tenggorokan Pelita. Dan kata ini masih sulit dia ucapkan, bahkan kepada orang lain. Tapi, jika Pelita tidak mencoba mengucapkan, maka ia takkan pernah mengerti rasanya mengucapkan kata tersebut. Dan tidak akan pernah berani untuk menyebutnya--selamanya.
“Makasih ya, bu.” Kecil sekali suara kau, Pelita. “Assalamu’alaikum.”
Kebencian yang tanpa kita sadari telah tercipta, sesungguhnya berasal dari luka masa lalu, yang tentu belum pernah tersentuh oleh obat. Yaitu obat, ikhlas. Kadang kala, kebencian itu hanyalah sebuah rasa yang sekelibat melewati alam pikiran. Namun, efek yang ditimbulkan tidak sesederhana itu, namun sepele. Itu saja.
Sekalipun kembalinya Pelita hari ini menyisakan emosi tersendiri, namun tidak ada yang pernah membohongi rasa cinta yang bersumber dari fitrah. Bahwa, ya. Pelita tetap menyayangi ibunya.
“Aku teh sayang ibu... Kenapa ibu kaya gitu sama aku...” Isaknya perlahan. Dan, air mata itu menetes...