Peluang Sinergi Pemerintah dan Startup, Gali Potensi Energi untuk Indonesia
Menurut data yang dirangkum Kementerian ESDM, Indonesia memiliki potensi energi baru terbarukan yang cukup besar. Beberapa di antaranya:
Mini/mikro hidro sebesar 450 MW,
Biomasa sebesar50 GW,
Energi surya sebesar 4,80 kWh/m2/hari,
Energi angin 3-6 m/det,
Energi nuklir 3 GW, dll.
Pemerintah terus bergotong-royong dengan berbagai pihak untuk mengeksplorasi dan mengoptimalkan potensinya. Termasuk membuka kesempatan bagi para inovator dari Indonesia untuk turut serta dalam memanfaatkan Sumber Daya Alam tersebut dalam rangka menyejahterakan rakyat Indonesia. Secara regulasi, pengembangan energi baru terbarukan mengacu pada Perpres No. 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional.
Oleh pemerintah melalui Kementerian ESDM atau mitra strategis yang ditunjuk, banyak upaya yang telah dilakukan dan membuahkan hasil. Misalnya agenda menambah kapasitas terpasang pembangkit listrik mikro hidro yang ditargetkan mencapai MW pada tahun 2025, kapasitas terpasang biomasa 180 MW pada tahun 2020, kapasitas terpasang angin sebesar 0,97 GW pada tahun 2025, kapasitas terpasang surya 0,87 GW pada tahun 2024, dan kapasitas terpasang nuklir 4,2 GW pada tahun 2024.
Inovasi pun terus digalakkan termasuk yang terfokus pada lingkungan, seperti pemanfaatan limbah industri pertanian dan kehutanan untuk pengembangan energi biomasa; dan lain sebagainya. Namun sekali lagi, pemerintah tambah serius membuka peluang bagi inovator negeri untuk turut andil dalam memajukan pemanfaatan energi untuk Indonesia. Tak terkecuali bagi startup-startup di bidang teknologi.
Startup dan Dukungan Pemerintah
Dalam kehidupan sehari-hari, di masa sekarang ini, listrik menjadi kebutuhan yang sangat mendasar. Sejauh ini banyak negara di dunia, termasuk Indonesia, memanfaatkan energi fosil sebagai penunjang utama pemenuhan kebutuhan listrik. Sayangnya, pilihan tersebut tidak bisa bertahan lama, energi fosil cepat atau lambat akan habis dan tidak diperbarui. Untuk itu eksplorasi ke energi alternatif menjadi pilihan.
Kementerian ESDM memproyeksikan konsumsi listrik di 2020 mencapai 1.142 kWh/kapita. Dinilai akan terus meningkat seiring penggunaan alat-alat berbasis listrik untuk menggantikan model yang ada sebelumnya – misalnya banyak kendaraan baru yang bertenaga listrik, alat-alat dapur menggunakan listrik, dan lain sebagainya.
Selain upaya yang dilakukan pemerintah seperti yang disebut di atas, beberapa inovator lokal (startup) mulai sajikan inovasi di bidang energi baru terbarukan. Sebut saja yang dilakukan Xurya, sejak tahun 2018 mereka mengembangkan produk panel surya atap. Pendirinya yakin, letak geografis Indonesia di garis khatulistiwa memungkinkan siapa saja memanen energi sinar matahari.
Selain itu ada Warung Energi, yang fokus menjangkau daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) di Indonesia dengan inovasi energi baru terbarukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di sana.
Masih pemanfaatan energi surya, ada beberapa startup yang juga berinovasi di sana, seperti Weston Energy, Forbetric, Erenesia, Khaira Energy, dan Syalendra Power.
Kendati masih di tahap awal, kehadiran para inovator ini menjadi indikasi baik adanya kepedulian publik untuk mengeksplorasi potensi energi di Indonesia. Langkah ini tentu akan menghasilkan dampak yang lebih baik dengan adanya sinergi bersama pemangku kepentingan, dalam hal ini Kementerian ESDM. Isu-isu seperti permodalan dan edukasi publik menjadi kendala fundamental yang dihadapi pelaku startup.
Keseriusan Kementerian ESDM untuk berkolaborasi juga cukup terlihat. Misalnya pada Juni 2020 lalu, mereka mengadakan sesi bersama bertajuk "Diskusi Interaktif Milenial: Startup Energi Bersih Jadi Disrupsi Bisnis Masa Depan". Beberapa pelaku startup dan pemangku kebijakan hadir berdiskusi dan berbagai insight.
Menteri ESDM pun di beberapa kesempatan juga mengatakan keseriusannya mengajak inovator dan mendorong lahirnya startup di bidang energi. "Kita sekarang ini sedang menggodok kebijakan baru mengenai tarif EBT small scale sehingga bisa jadi daya tarik. Tujuannya nanti yang berpartisipasi bisa terbagi masyarakat kecil dan menengah," jelas Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam acara Millenial Summit 2020 di Jakarta seperti dikutip IDXChannel. "Cobalah inovasi apapun yang kecil selama itu bermanfaat bagi diri sendiri ataupun bermanfaat untuk masyarakat luas."
Kesempatan
Peningkatan konsumsi listrik dan energi lain adalah sebuah keniscayaan. Terlebih di era teknologi seperti saat ini – berbagai unsur dalam kehidupan dan perekonomian memiliki ketergantungan yang tinggi. Keterbukaan pemerintah dengan startup yang menggarap potensi energi baru terbarukan telah menjadi komitmen. Beberapa startup pun telah mulai unjuk gigi. Bagi milenial dengan sejuta ide dan gagasan, ini adalah kesempatan sekaligus tantangan untuk turut serta memajukan bangsa, dengan menawarkan solusi jitu memaksimalkan potensi energi untuk Indonesia.









