“Ingin jadi dokter apa?”
Dokter yang baik hati.
Setidaknya cuma kalimat itu yang menggantung di pikiranku ketika ada orang bertanya. Beberapa detik kemudian aku menjawab, dengan jawaban yang aku juga nggak tahu apakah benar.
Seperti pagi itu, diskusi kecil saat Komuda (semacam pra-Koas) di bagian Bedah. Kami membicarakan topik Urologi (saluran kencing, biasanya merujuk pada pria). Saat terakhir diskusi, supervisor kami dengan isengnya menanyai kami satu per satu. “Kalian ingin jadi spesialis apa?”
Nah kita cuma berempat tuh, dan aku paling ujung, jadi ditanya terakhir.
“Spesialis Anak, Dok,” kata temanku yang pertama. Supervisor itu menjawab, “Anak tuh... bisa ya berhubungan dengan Urologi. Tapi gajinya gede Urologi lho. Coba jawab pertanyaan ini...” tetiba beliau menanyakan kasus Urologi yang bersinggungan dengan Anak.
Lanjut ke orang kedua. “Anak, Dok.”
“Dokter Anak, Dok.”
“Weh, kok anak kabeh?!” sahut beliau. “Kamu Dek?” Lirikannya maut menuju ke arahku.
“Obsgyn Dok!” kataku dengan mantab. Dan sejujurnya lebih supaya tidak ditanya macam-macam tentang Urologi. Mana ada kasus ilmu kandungan bersinggungan dengan ilmu saluran kencing pria? Hayo. Haha.
Penjual Kopi
“I prefer to keep my options open, than to focus on one way and close the others.” Mungkin itu caraku beralasan pada diri sendiri, yang tak kunjung menemukan gambaran hidup ke depan. Tapi dibilang alasan pun tidak 100% benar, karena aku punya opsi. Berbeda ketika kita belum menemukan cita-cita, dan nggak tahu mau ngapain. Aku sudah tahu ada pilihan, dan tinggal tentukan saja kan?
Cuma, terkadang iri juga kepada salah satu kakak kelas yang manteb banget kalau ditanya cita-cita. Kebetulan aku satu stase dengan dia di bagian Kulit. Dia ditanya oleh salah satu dokter di Puskesmas saat kami stase luar, “Mau jadi dokter apa dek?”
“Bedah syaraf Dok!” Spontan. Singkat. Dan meyakinkan.
Siapapun yang mendengarnya pasti merasa yakin juga. Dengan latar belakang juara 1 lomba tentang Saraf se-Indonesia, yah cocok lah ya. Indonesia akan punya satu orang dokter bedah saraf yang gaul! Percaya deh.
Lain kucing, lain warna bulunya.
Seorang teman yang meraih predikat IPK tertinggi saat wisuda lalu, sempat dicibir karena berkata dia ingin jadi penjual kopi saat lulus nanti.
“Jadi dokter itu... nggak seharusnya menghalangi passion kamu. Aku nih, pengen buka coffee shop besok kalau udah lulus, karena aku suka kopi.” celotehnya. Entah limpe atau enggak. (Eh kamu tahu istilah limpe nggak? Haha)
“Apa?” sahut temannya. “Jadi otak cumlaude-mu selama ini buat apa?” Dan pertanyaan itu menggantung saja di udara.
Hmm... Menarik ya?
Exploring Myself
Tapi lama kelamaan aku menikmati juga pencarian ini. #ceilah
Sekarang aku sedang stase Kulit dan Kelamin. Seperti yang sudah kuduga, aku menemukan suatu kesenangan tersendiri seperti yang kulami di Stase Neurologi kemarin. Ibuku sering berpesan, “Dadi wong kuwi ojo sok nggumunan, ojo sok kagetan.” (Jadi orang itu jangan gampang heran/gampang kagum, jangan gampang kaget.) Meski begitu, tetap saja aku sering gumun.
Stase ini sangatlah asyik~ Banyak jalan-jalan ke rumah sakit lain, banyak berkunjung ke Puskesmas lain. Banyak lihat kasus (Alhamdulillah!). Bahkan kami ke lokalisasi PSK di Semarang untuk mencoba skrining penyakit menular seksual.
Di sini juga jam kerjanya jelas. Aku jadi bisa mengatur banyak hal lain di luar tugas-tugas Koas. Dan yang terpenting, aku sebenarnya kepikiran banyak hal yang bisa aku lakukan dengan ilmu yang aku dapat di stase ini. Cuma ya itu, semoga tidak sekedar menggantung di udara...
Kembali ke laptop.
“Jadi, sudah nemu ingin jadi dokter apa, Nggi?”
Well, belum. Ketika dulu main ke Rehabilitasi Medik saat stase Neurologi, aku riang banget lihat teknologi-teknologi canggih disana. Aku bilang, “Apa aku jadi spesialis rehab aja ya?” Ketika di sela-sela belajar Neurologi dengan residen asyik dan dermawan (aku ditraktir bakso di KORPRI yang harganya cukup dewa untuk Koas. Hiks, terharu), aku bilang, “Jadi spesialis saraf seru juga.”
Dan sekarang... bohong kalau aku nggak bilang, “Kayaknya enak jadi spesialis kulit dan kelamin.”
Aku jadi menemukan suatu pola: bahwa kekaguman-kekaguman itulah justru yang membuatku bersemangat.
Dulu pernah ngobrol dengan teman yang kuliah di jurusan Hubungan Internasional tentang identitas bangsa. (Syedap, beratnyo.) Dia mencerahkanku bahwa kita harus menemukan identitas kita sendiri. Kita harus bisa mendefinisikan diri kita sendiri.
Senada dengan apa yang dikatakan Pandji tadi siang di TV, “Saat bangsa lain sudah berkarya, kita masih berkerja.” Nah!
Terima kasih, Stase Kulit dan Kelamin. Karenamu, aku melihat banyak hal dan bisa berhenti sejenak untuk melihat ke dalam diriku sendiri. Apa yang sudah kudapat, juga apa yang akan kudapat.
Yang pasti aku bercita-cita untuk selalu memunculkan karyaku sendiri. Memberi jiwa pada karya-karyaku. Karya apapun.
Andaikata laporan jaga merupakan karya, aku ingin dia punya jiwa.
Andaikata status pasien adalah karya, aku ingin dia punya makna.
Dan andaikata catatan-catatan kuliahku adalah karya, semoga dia masih bisa dibaca. ._.
Jadi, mungkin pertanyaan yang tepat adalah “Mau jadi dokter yang seperti apa?”, bukan sesempit “Mau jadi dokter apa?”
Mau jadi yang seperti apa?
Semarang, 25 Desember 2016
Atrio-Ventricular, your heart chamber.










