Catatan Koas (1): Manusia
Hari ini pertama kalinya aku masuk sebagai koas psikiatri.
Sebagai orang yang pernah pengen jadi psikiater, aku antusias dong. Hari pertama masuk ini bersamaan dengan waktu libur lebaran, jadi aku masuk karena ada jadwal jaga.
Kesan pertama, aku takut dan sempat terfikir untuk mengurungkan niat pengen jadi seorang psikiater. Perasaan itu muncul ketika aku lewat di depan ruang isolasi, berisi Mr. X, seorang penderita skizofrenia yang mungkin sedang tidak bagus kondisinya sehingga harus diisolasi. Sebenarnya Mr. X tidak menakutiku atau berbuat macam-macam, toh aku hanya lewat dan melihat dari depan jeruji besinya. Tapi entah kenapa reaksiku sendiri yang berlebihan.
Aku sempat tidak ingin bertemu dengan pasien-pasien lain, karena takut.
Hingga akhirnya pagi-pagi pak perawat mengetuk pintu kamar DM jaga dan bilang “Mbak koas, tolong bantu TTV pasien-pasiennya, ya!”. Terpaksalah aku pergi dan memeriksan Tanda-tanda Vital (TTV) para pasien. Iya, terpaksa memberanikan diri.
“Pak, selamat pagi, saya dokter muda Ira yang sedang bertugas, saya periksa dulu ya, Pak? Bapak namanya siapa?”
Kurang lebih seperti itu caraku menyapa pasien, tinggal sapaannya saja aku sesuaikan dengan jenis kelamin dan umur pasiennya. Ternyata, berinteraksi dengan mereka tidak seburuk yang kubayangkan.
Masing-masing pasien sangatlah unik, ada yang ditanya 1 kalimat tapi jawabannya tak berhenti-berhenti, ada yang tiba-tiba jadi genit, ada yang diem aja, dan sebagainya.
Yang membuatku tersentuh adalah seorang bapak yang pembicaraannya tak kunjung berhenti jika ditanya. Beliau begitu mengapresiasiku karena sudah memeriksa dirinya, beliau bercerita banyak, walau kebanyakan dari pembicaraannya aku tak benar-benar paham, aku hanya pura-pura paham untuk menghargainya. Berlagak sok paham dengan modal senyum, angguk, dan kalimat “Oh gitu ya, Pak” atau “Hehe, iya, Pak”
Aku tersadar, jika orang dengan gangguan jiwa saja bisa memperlakukanku selayaknya manusia, kenapa aku yang normal justru begitu defensif?
Bukankah para pasien dengan gangguan jiwa juga manusia? Mereka juga berhak diperlakukan seperti manusia. Bukan dijauhi, bukan dikucilkan. Justru mereka butuh pendekatan dan bantuan.